Hai Cerdikawan? Kehidupan sehari-hari kita pasti tidak luput dari aktifitas bertransaksi. Misalnya kalian membeli ciki di warung, jajan jajanan di kantin, membeli boba tea di toko langganan kalian, dan masih banyak lagi. Manusia tidak luput dari proses kegiatan transaksi uang. Namun dari aktifitas bertransaksi ini, terdapat suatu fenomena di bidang ekonomi yang disebut sebagai inflasi. Apa arti dari inflasi? Arti inflasi secara garis besar adalah kenaikan harga. Kalian tahu tidak arti inflasi secara lebih spesifik? Mau tahu pembahasan lebih dalam materi inflasi? Yuk atuhlah langsung kita mulai saja pembahasannya!

Arti Inflasi

Menurut laman dari situs resmi Bank Indonesia, arti inflasi adalah suatu kenaikan harga secara umum dan terjadi terus menerus dalam jangka waktu tertentu. Kenaikan harga dari satu atau dua barang saja tidak dapat disebut inflasi kecuali bila kenaikan itu terjadi secara meluas (atau mengakibatkan kenaikan harga) pada barang lainnya. Kebalikan dari inflasi disebut dengan deflasi.

arti inflasi
proses transaksi uang. foto oleh Anna Kaminova

Indikator Inflasi

Menurut laman dari situs resmi Bank Indonesia juga, terdapat indikator yang sering digunakan untuk mengukur tingkat inflasi. Indikator untuk mengukur tingkat inflasi tersebut adalah Indeks Harga Konsumen (IHK). IHK banyak sekali mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Perubahan IHK seiring berjalannya waktu tersebut, menunjukkan adanya pergerakan harga dari paket barang dan jasa yang dikonsumsi oleh masyarakat sebagai konsumen. Penentuan barang dan jasa dalam keranjang IHK dilakukan atas dasar Survei Biaya Hidup (SBH) yang dilaksanakan oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Setelah itu, Badan Pusat Statistik akan memonitor setiap perkembangan harga dari barang dan jasa tersebut per bulannya di beberapa kota, juga di pasar tradisional atau modern terhadap beberapa jenis barang dan jasa di setiap kota.

Indikator Inflasi Berdasarkan International Best Practice

Berikut merupakan indikator untuk mengukur inflasi lainnya berdasarkan International Best Practice, antara lain:

a. Indeks Harga Perdagangan Besar (IHPB).

Harga Perdagangan Besar dari suatu komoditas adalah harga transaksi yang terjadi antara penjual atau pedagang besar pertama dengan pembeli atau pedagang besar berikutnya dalam jumlah besar pada pasar pertama atas suatu komoditas. (Penjelasan lebih detail mengenai IHPB dapat dilihat pada laman situs resmi Badan Pusat Statistik)

b. Indeks Harga Produsen (IHP)

Harga Produsen ditentukan dengan mengukur perubahan rata-rata harga yang diterima produsen domestik untuk barang yang mereka hasilkan.

c. Deflator Produk Domestik Bruto (PDB)

Deflator Produk Domestik Bruto menunjukkan besarnya perubahan harga dari semua barang baru, barang produksi lokal, barang jadi, dan jasa. Deflator PDB dihasilkan dengan membagi PDB atas dasar harga nominal dengan PDB atas dasar harga konstan.

d. Indeks Harga Aset

Harga Aset ditentukan dengan mengukur pergerakan harga aset antara lain, aset properti dan aset saham yang dapat dijadikan indikator adanya tekanan terhadap harga secara keseluruhan.

arti inflasi
contoh komoditas. foto oleh Марьян Блан @marjanblan

Penyebab Inflasi

Peningkatan Permintaan Pasar (Demand Pull Inflation)

Demand pull inflation adalah bentuk inflasi yang terjadi disebabkan karena adanya peningkatan permintaan untuk jenis barang atau jasa tertentu. Dalam hal ini untuk dapat dikategorikan sebagai sebuah inflasi, maka peningkatan permintaan jenis barang atau jasa tersebut harus terjadi secara menyeluruh (agregat demand) tidak hanya sebagian.

Peningkatan permintaan atau demand pull inflation bisa disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya adalah:

  • Peningkatan dalam perbelanjaan pemerintah (government outcome).
  • Peningkatan permintaan barang untuk diekspor (export).
  • Peningkatan permintaan barang untuk swasta.

Peningkatan Biaya Produksi (Cost Pull Inflation)

Cost pull inflamation adalah inflasi yang terjadi karena meningkatnya biaya dalam proses produksi. Adapun peningkatan biaya produksi tersebut disebabkan oleh kenaikan harga bahan-bahan baku atau bahan-bahan mentah dari suatu produk.

Peningkatan biaya produksi atau cost pull inflation memiliki banyak contoh inflasi dalam keseharian, misalnya:

– Jika harga bahan bakar naik, maka tarif dari transportasi umum yang menggunakan bahan bakar juga akan naik.

– Jika harga minyak goreng naik, maka harga semua makanan olahan pada rumah makan atau restoran akan ikut naik.

– Jika harga biji plastik naik, maka harga perabotan rumah tangga dan segala barang yang berbahan baku plastik akan naik.

– Saat harga kargo pesawat naik, maka biaya pengiriman barang untuk impor maupun ekspor akan naik, dan hal ini tentu akan berdampak pada harga produk yang diimpor atau diekspor tersebut.

– Saat harga telur ulat sutera naik, maka harga kain sutera akan turut mengalami kenaikan.

Tingginya Peredaran Uang

Bahkan, adanya jumlah yang tinggi dalam peredaran uang akan berdampak terjadinya suatu inflasi. Alasannya adalah karena uang yang beredar di masyarakat jumlahnya lebih banyak dibanding yang dibutuhkan. Ketika jumlah barang tetap, sedangkan uang yang beredar meningkat berkali lipat, maka dapat terjadi kenaikan harga hingga mencapai 100%.

Jenis-jenis Inflasi

Berdasarkan sumber bacaan di laman situs Jojonomic (dot com) inflasi tidak hanya memiliki bermacam faktor penyebab yang berbeda. Namun inflasi juga memiliki beragam jenis yang berbeda. Pada umumnya jenis-jenis inflasi dapat dipisahkan berdasarkan 3 poin utamanya, yakni dari tingkat keparahan, penyebab dan sumbernya.

Berikut ini adalah pembagian jenis inflasi sesuai dengan poin-poin tersebut:

visualilasi animasi mengenai penjelasan inflasi

Jenis Inflasi Berdasarkan Tingkat Keparahannya

Berdasarkan tingkat keparahannya, inflasi dibagi menjadi 4 macam yakni:

  1. Inflasi Ringan, yaitu inflasi yang mudah untuk dikendalikan dan belum begitu menganggu perekonomian suatu negara. Terjadi kenaikan harga barang atau jasa secara umum, yaitu di bawah 10% per tahun dan dapat dikendalikan.
  2. Inflasi Sedang, yaitu inflasi yang dapat menurunkan tingkat kesejahteraan masyarakat berpenghasilan tetap, namun belum membahayakan aktivitas perekonomian suatu negara. Inflasi ini berada di kisaran 10% – 30% per tahun.
  3. Inflasi Berat, yaitu inflasi yang mengakibatkan kekacauan perekonomian di suatu negara. Pada kondisi ini umumnya masyarakat lebih memilih menyimpan barang dan tidak mau menabung karena bunganya jauh lebih rendah ketimbang nilai inflasi. Inflasi ini berada di kisaran 30% sampai dengan 100% per tahun.
  4. Inflasi Sangat Berat (Hyperinflation), yaitu inflasi yang telah mengacaukan perekonomian suatu negara dan sangat sulit untuk dikendalikan meskipun dilakukan kebijakan moneter dan fiskal. Inflasi ini berada di kisaran 100% ke atas per tahun.

Jenis Inflasi Berdasarkan Penyebabnya

Berdasarkan penyebabnya, inflasi dapat dibedakan menjadi 3 macam, yakni:

  1. Demand pull inflation, yaitu inflasi yang terjadi karena permintaan akan barang atau jasa lebih tinggi dari yang bisa dipenuhi oleh produsen.
  2. Cost push inflation, yaitu inflasi yang terjadi karena terjadi kenaikan biaya produksi sehingga harga penawaran barang naik.
  3. Bottle neck inflation, yaitu inflasi campuran yang disebabkan oleh faktor penawaran atau faktor permintaan.

Jenis Inflasi Berdasarkan Sumbernya

Berdasarkan sumbernya, inflasi dapat dibedakan menjadi 2 macam, yakni:

  1. Domestic inflation, yaitu inflasi yang bersumber dari dalam negeri. Inflasi ini terjadi karena jumlah uang di masyarakat lebih banyak daripada yang dibutuhkan. Inflasi jenis ini juga dapat terjadi ketika jumlah barang/ jasa tertentu berkurang sedangkan permintaan tetap sehingga harga-harga naik.
  2. Imported inflation, yaitu inflasi yang bersumber dari luar negeri. Inflasi ini terjadi pada negara yang melakukan perdagangan bebas dimana ada kenaikan harga di luar negeri. Contoh, Indonesia melakukan impor barang modal dari negara lain. Ternyata harga barang-barang modal di negara tersebut naik, kenaikan harga tersebut berdampak bagi Indonesia sehingga mengakibatkan inflasi.
Author