Halo Cerdikawan? Setelah kemarin membahas tentang demokrasi, kali ini bertemu lagi kali ini dalam pembahasan mengenai politik. Ngomong-ngomong masalah politik, ada istilah yang dikenal sebagai ‘budaya politik’. Kira-kira kalian tahu tidak ciri-ciri budaya politik itu seperti apa? Berdasarkan budaya politiknya, ciri-ciri budaya politik terbagi dalam 3 macam lho! Pertama adalah ciri-ciri budaya politik partisipan. Kedua adalah ciri-ciri budaya politik parokial. Dan yang terakhir adalah ciri-ciri budaya politik kaula. Kalian penasaran tidak dengan penjelasannya? Yuk simak pemaparan seputar budaya politik di bawah ini!

Budaya Politik di Indonesia

Sebelum masuk ke pembahasan mengenai ciri-ciri budaya politik, kita akan bahas tentang pengertian budaya politik. Budaya politik (political culture) adalah suatu pola perilaku dari masyarakat yang berkaitan dengan hukum, kehidupan bernegara, penyelenggaraan administrasi negara, politik pemerintahan, dan norma-norma yang dihayati oleh seluruh anggota masyarakat. Budaya politik juga dapat diartikan sebagai suatu sistem nilai bersama dari masyarakat, yang memiliki kesadaran untuk berpartisipasi dalam pengambilan keputusan kolektif dan penentuan kebijakan publik untuk semua masyarakat. Maka, budaya politik merupakan nilai-nilai politik yang dianut oleh masyarakat yang setelah itu direalisasikan menjadi pola perilaku politik dari masyarakat tersebut.

Macam-Macam Budaya Politik

Macam-macam budaya politik di Indonesia terbagi menjadi tiga bagian, yakni:

– Budaya Politik Partisian

– Budaya Politik Parokial

– Budaya Politik Kausal

foto oleh tribunnews.com

I. Budaya Politik Partisipan

Budaya Politik Partisipan adalah budaya politik yang memiliki prinsip agar menjunjung tinggi kesadaran dalam politik karena merupakan bagian di dalam politik itu sendiri.

Ciri-ciri Budaya Politik Partisipan:

a. Berorientasi untuk Kesadaran Politik yang Tinggi

Masyarakat yang menganut budaya politik partisipan mempunyai ciri-ciri salah satunya menjunjung tinggi kesadaran dalam berpolitik. Masyarakat tersebut memiliki kesadaran pentingnya pengaruh dari setiap bentuk partisipasi mereka dalam dunia politik di Indonesia. Seperti contoh kecilnya, menyuarakan opini mereka terhadap penyelenggaraan agenda-agenda politik, atau ikut meramaikannya dengan memberikan pendapat politik melalui sosial media mereka.

b. Aktif Berkegiatan Politik

Selain menjunjung tinggi kesadaran politik, masyarakat dengan budaya politik partisipan akan turut ambil andil dalam pelaksaan kegiatan politik. Cara yang diterapkan pun berbeda pada tiap masyarakatnya. Dari yang paling intesif dengan cara turut ikut serta dalam sebuah partai politik, atau dengan cara bersosialisasi budaya politik mereka lewat sosial media masing-masing.

c. Menjunjung Musyawarah dalam Penyelesaian Masalah

Masyarakat dengan budaya politik partisipan akan menjunjung tinggi nilai-nilai Pancasila karena dianggap sebagai salah satu pedoman dalam berkewarganegaraan yang baik. Ketika mereka dihadapkan dengan masalah, mereka akan mengutamakan musyawarah sebagai pemecahan masalah. Sebab, musyawarah adalah cerminan sila keempat dari Pancasila.

Contohnya saat adanya konflik terhadap kegiatan berpolitik, maka mereka akan menyelesaiakannya dengan cara bermusyawarah. Atau pada kegiatan di luar politik, yakni penyelesaian masalah kehidupan sehari-hari seperti menyelesaikan masalah dalam organisasi, masalah keluarga, dll.

d. Memaksimalkan Penggunaan Hak Pilih

Di antara semua kegiatan politik yang ada, Pemilihan Umum (PEMILU) merupakan pesta politik terbesar yang diselenggarakan dalam dunia politik di Indonesia. Contoh yang paling signifikan dari masyarakat dengan budaya politik partisipan adalah, dengan tidak menyia-nyiakan kesempatan mereka untuk menggunakan hak pilihnya sebagai warga negara yang sah. Sebab, dengan memaksimalkan penggunaan hak pilih, masyarakat turut berpartisipasi dalam keputusan besar yang terjadi di dunia politik dan menentukan masa depan bangsa.

e. Berwawasan dalam Politik

Masyarakat Indonesia terdiri dari berbagai macam komponen. Penerapan budaya politik partisipan tidak ditentukan dari beragam komponen tersebut. Maka, masyarakat dengan budaya politik partisipan akan memiliki wawasan yang baik dalam politik tanpa terkecuali. Misalnya, para pelajar yang mampu menghapal susunan kabinet beserta fungsi jabatan mereka masing-masing, para Ibu Rumah Tangga yang mengetahui cara memilih dan siapa saja calon pilihan dengan baik dan benar ketika ada Pemilihan Umum, dll. Selain itu, pada kurikulum pendidikan di Indonesia telah menerapkan bentuk pembelajaran mengenai politik sejak dini melalui mata pelajaran PKn (Pendidikan Kewarganegaraan).

foto oleh ‘shela’ @ youtube.com

II. Budaya Politik Parokial

Budaya Politik Parokial adalah budaya politik dengan masyarakat yang berorientasi terhadap politiknya sangat rendah. Secara umum budaya politik tersebut terdapat dalam masyarakat rural atau tradisional.

Ciri-ciri Budaya Politik Parokial:

a. Bersifat Konservatif

Masyarakat yang memiliki budaya politik parokial adalah masyarakat yang bersifat konservatif dalam memandang politik. Masyarakat dengan budaya politik parokial bersifat konservatif karena mereka enggan memperluas pengetahuannya mengenai politik dan mempertahankan nilai-nilai yang sudah mereka percayai sejak dahulu. Mereka lebih cenderung mengikuti sistem politik tradisional yang dipimpin oleh Kepala Suku, Sesepuh, Tokoh Masyarakat, dsb.

b. Keterbatasan Wawasan Politik

Masyarakat dengan budaya politik parokial berbanding terbalik dengan masyarakat yang memiliki budaya politik partisipan. Sebab budaya politik partisipan memandang politik dengan pemikiran terbuka dan menerima berbagai wawasan politik, sementara budaya politik parokial adalah sebaliknya.

Hal ini dipengaruhi oleh terbatasnya wawasan politik yang dimiliki oleh masyarakat dengan budaya politik parokial. Faktor penyebabnya bisa beragam. Misalnya karena keterbatasan akses dalam ilmu politik yang mengakibatkan masyarakat kekurangan informasi dan wawasan, atau karena masyarakat memang sengaja membatasi diri dalam berbagai hal yang berkaitan dengan dunia politik.

c. Bersifat Apatis

Masih berkaitan dengan ciri-ciri budaya politik parokial sebelumnya, masyarakat dengan budaya politik ini cenderung bersifat apatis atau tak acuh. Mereka tidak peduli terhadap perkembangan politik di Indonesia, informasi terbaru mengenai dunia politik, atau hal lain yang berkaitan dengan politik. Mereka akan merasa jika politik tidak banyak memberi pengaruh langsung terhadap diri mereka. Maka rasa kepedulian mereka mengenai politik terbilang rendah.

Contohnya adalah membatasi diri dengan segala informasi dasar mengenai sitem Pemilihan Umum (PEMILU) pada tahun ini, padahal penjelasan informasi secara lengkap sudah tersedia dan dapat diakses.

d. Keterbatasan Akses

Kurangnya wawasan politik dalam budaya politik parokial dapat dipengaruhi oleh keterbatasan akses mengenai informasi dunia politik. Untuk dapat berpartisipasi dalam politik, akses informasi harus terus berjalan. Hal ini memengaruhi langkah partisipasi yang akan dilakukan oleh masyarakat. Ketika akses informasi tidak didapatkan secara mudah, maka partisipasi dalam politik akan sulit dilakukan.

ciri-ciri budaya politik di indonesia

III. Budaya Politik Kaula/Subjek

Budaya Politik Kaula adalah budaya politik yang masyarakatnya relatif maju baik sosial maupun ekonominya, tapi intensitaf berpolitiknya cenderung pasif. Masyarakat dengan budaya politik kaula patuh pada undang undang dan pemerintah, tetapi tidak secara aktif seperti partisipan. Budaya politik kaula tingkat perhatian tehadap politik yang cukup rendah. Masyarakat dengan budaya politik kausal biasanya adalah masyarakat urban.

Ciri-ciri Budaya Politik Kaula:

a. Bersifat Subjektif

Budaya politik kaula adalah budaya politik yang menjunjung subjektivitas di atas segalanya. Budaya politik partisian terbuka terhadap segala bentuk wawasan politik. Sementara, budaya politik parokial cenderung lebih tertutup terhahadap politik. Maka budaya politik kaula adalah budaya politik yang berada di tengah-tengah antara parokial dan partisipan. Alasannya adalah karena masyarakat budaya politik kaula, berpolitik berdasarkan pandangan masing-masing individunya, lebih subjektif. Maka, karena adanya subjektivitas yang tinggi tersebut, memengaruhi dalam intensitas berpolitiknya. Mereka tidak terlalu aktif, tetapi juga tidak pasif.

b. Rentan Konflik dan Perpecahan

Berdasarkan penjelasan sebelumnya, masyarakat dengan budaya politik kausal cenderung bersifat subjektif dalam memandang politik. Sifat subjektifitas yang dominan akan mengarahkan masyarakatnya lebih condong untuk lebih mendukung tokoh-tokoh politik tertentu berdasarkan pilihannya. Sisi negatif dari adanya budaya politik kausal ini adalah pandangan politik yang lebih rentan untuk berubah-ubah (tidak stabil) tidak seperti parokial dan partisipan.

Alasannya adalah karena masyarakat yang hanya berpolitik untuk mendukung tokoh politik tertentu, perubahan dapat terjadi tiba-tiba saat pandangan masyarakat tersebut berubah terhadap tokoh politik pilihannya. Misalnya, ketika ternyata tokoh politik pilihannya berbuat kesalahan di masa depan, masyarakat budaya politik kausal mungkin dapat mengubah budaya politiknya menjadi pasif dalam berpolitik (parokial).

Selain itu, konflik akan sangat rentan pada budaya politik tersebut saat terjadi perbedaan pendapat atau pandangan terhadap politik bermunculan, dan ini dapat mengakibatkan perpecahan.

Author