Halo Cerdikawan? Kalau kemarin kita membahas mengenai seputar cerita pendek atau cerpen, kali ini kita akan bahas seputar cerita fiksi. Pasti akan muncul pertanyaan, apa itu cerita fiksi? Bagai mana contoh cerita fiksi? Sebelum ke contoh cerita fiksi, saya ingin mengerti struktur ceritanya terlebih dahulu. Nah, tenang! PinterKelas akan menjawab pertanyaa-pertanyaanmu tersebut kali ini. Yuk disimak pembahasan seputar cerita fiksi!

Apa itu Cerita Fiksi?

Menurut sumber dari Kamus Besar Bahasa Indonesia, cerita adalah tuturan yang membentangkan bagaimana terjadinya suatu hal (peristiwa, kejadian, dan sebagainya). Sementara itu, fiksi adalah rekaan; khayalan; tidak berdasarkan kenyataan. Jadi garis besarnya, cerita fiksi adalah sebuah cerita yang menarasikan rangkaian peristiwa atau kejadian yang bersifat rekayasa (tidak nyata) yang diciptakan oleh penulisnya. Namun, cerita fiksi bukan semata-mata hanya rangkaian cerita yang direkayasa, tidak menutup kemungkinan ceritanya terinspirasi dari kenyataan. Kenyataan yang dihadirkan oleh penulis dalam bentuk cerita tersebut tidak berupa 100% fakta, karena dalam proses penulisan akan mengalami banyak pengurangan dan penambahan pada ceritanya. Maka, cerita tersebut tetap bersifat fiksi karena tidak sepenuhnya berupa fakta seperti pada kenyataannya.

Urutan Struktur Cerita Fiksi

Di pembahasan contoh cerita fiksi ini, masih sama dengan urutan struktur cerpen yang sudah kita bahasa sebelumnya, berikut adalah urutan dari struktur cerita:

Abstrak pada cerita merupakan bagian dari struktur cerpen yang gunanya meringkas dan memberikan gambaran awal pada cerita.

Orientasi pada cerita merupakan bagian setting pada cerita. Meliputi segala aspek yang berkaitan dengan waktu, suasana, tempat di dalam cerpen.

Komplikasi pada cerita adalah rentetan atau kronologi kejadian yang dikaitkan secara sebab dan akibat pada sebuah kejadian di dalam cerpen. Penggambaran karakter dan watak tokoh dapat terlihat pada cerpen melalui struktur ini.

Evaluasi pada cerita merupakan konflik yang terjadi dan membawa konflik tersebut pada puncak klimaks di cerita. Setelah itu, dari sini akan mulai muncul titik penyelesaian dari konflik yang muncul tersebut.

Resolusi pada cerita adalah solusi yang dimunculkan pengarang cerpen terhadap konflik dan klimaks yang sudah terjadi sebelumnya pada cerita.

Koda pada cerita merupakan value (nilai), pesan atau amanah yang hendak dibagikan oleh pengarang bagi para pembacanya.

contoh cerita
freestocks.org at unsplash.com

Contoh Cerita Fiksi Umum

Indiemie

Alarm pada ponsel membangunkanku dari sebuah mimpi indah pada pukul 5:14 pagi ini. Terbilang cukup siang memang untuk bisa dibilang bangun pagi. Namun, mengingat pada malam sebelumnya aku bergadang akibat menangis sambil mengerjakan tugas kuliah sampai pukul 3:00 pagi, aku sepertinya cukup hebat karena tidak memencet tombol ‘snooze’ pada alarm di ponselku.

Aku beringsut dari kasur busaku yang hampir memenuhi kamar kost ini. Kulipat selimutku dengan rapi, kulipat pula sprei pada kasur busaku lalu kuletakkan di dalam almari plastikku. Alasannya adalah karena letak kost yang kusewa dekat dengan jalanan, debu jalanan mudah sekali masuk ke dalam kamar. Kemudian barang-barangku akan berselimut debu per sekian sentimeter jika tidak disimpan dengan baik.

Setelah semua rapi dan beres, kuputuskan untuk langsung mandi dan sarapan. Sarapanku hari ini adalah Indiemie rasa iga sapi panggang (BBQ). Lumayan mengobati rasa inginku untuk makan olahan iga sapi beberapa minggu belakangan. Meskipun sudah pasti tidak sehat sama sekali. Namun setidaknya perutku dapat terisi dan lidahku tidak rewel lagi.

Rasa mienya tidak seburuk perkiraanku. Walau kuantitasnya semakin hari semakin dipertanyakan. Mungkin seharusnya aku beli dua bungkus di warung Bu Dedeh. Masalahnya, kalau aku beli satu bungkus lagi, aku takkan bisa membeli sebutir telur untuk pendamping mie instan ini. Aku khawatir pada otakku jika terlalu jarang mendapat asupan protein. Karena otakku adalah satu-satunya yang dapat kuandalkan.

Minggu lalu aku mengirimkan sesuatu ke alamat PT. Indiemie. Mereka bilang sedang mengadakan undian berupa beasiswa milyaran rupiah. Agak bodoh memang aku malah membuang uang jatahku untuk melengkapi berkas-berkas persyaratannya ditambah biaya pengiriman via pos. Aku saat ini menyesalinya. Seharusnya aku bisa membeli beberapa bungkus mie dan telur lagi. Mungkin saja aku bisa menambahkan kerupuk.

Semalam Ibuku telepon dari luar kota, menyampaikan bahwa Ayahku masuk rumah sakit lagi sambil menangis. Ibu bertanya padaku apakah akan menjadi masalah jika uang kuliahku dipakai untuk biaya berobat Ayahku. Tentu saja itu menjadi masalah, mengingat aku saat ini sedang disibukkan tugas-tugas kuliah untuk pergantian semester baru. Namun aku tak sampai hati untuk mengatakannya pada Ibuku. Pasti sangat sulit merawat Ayahku seorang diri di sana. Pasti Ayahku menolak habis-habisan ide menggunakan uang kuliahku. Namun kami tak punya pilihan. Akupun tak ingin menambah kesulitan mereka berdua.

Saat hampir masuk jam istirahat, poselku berdering berulang kali. Jantungku mencelos melihat beberapa panggilan tak terjawab tertera pada ponselku. Namun dari nomor telepon yang tidak diketahui. Akhirnya ketika aku mendapat kesempatan untuk mengangkatnya, aku pamit pada dosenku untuk ke kamar kecil.

Saat akhirnya kuangkat telepon tersebut, ternyata dari pihak PT. Indiemie yang mengabarkan bahwa aku memenangkan undiannya dan berhasil memenuhi kriteria penerima beasiswa mereka. Aku menjatuhkan diriku dan menangis sejadi-jadinya. Terima kasih, Indiemie! Sungguh, aku benar-benar berterima kasih!

Risma Azhari, November ’19

contoh kalimat
Prasanna Kumar at unsplash.com

Contoh Cerita Fiksi Fabel

Kucing Liar Warna Hitam

Aku sangat ketakutan saat itu. Tubuhku kedinginan. Perutku kosong. Aku tak bisa menemukan dimana kedua saudaraku yang lain. Aku berulang kali memanggil mereka dari sini. Namun hanya suara petir yang saling bersahutan yang menjawabku. Aku menggigil dahsyat karena angin kencang menerpa tubuhku yang basah kuyup akibat guyuran hujan yang semakin lama semakin deras. Jika melihat di sekelilingku, sepertinya aku sedang berada di dalam kotak kardus. Pasti aku dibuang. Pasti Ibu dan kedua saudaraku yang lain dibiarkan tinggal. Pasti karena aku berwarna hitam. Pasti.

Aku pasrah tapi ketakutan pada saat yang bersamaan. Kenapa mereka membuangku begitu saja? Kenapa hanya aku yang dipisahkan dari Ibu dan saudara-saudaraku? Kenapa mereka tak memahami bahwa aku tak bisa memilih untuk terlahir seperti ini? Kenapa? Aku terus memikirkan hal buruk yang akan menimpaku beberapa jam ke depan. Atau bahkan beberapa menit ke depan.

Aku menangis. Terus menangis. Menangis sekencang-kencangnya.

Tiba-tiba ada pendaran cahaya dan suara lembut yang datang ke arahku,

“Hey, kucing kecil… Astaga, kau pasti kedinginan ya… Jangan menangis lagi… Ayo pulang denganku!”

Di bawah payung miliknya, ia terus saja mengajakku berbicara. Andai saja ia bisa mengerti perkataanku seperti aku mengerti setiap perkataannya. Di sepanjang perjalanan itu ia memastikan berulang kali apakah aku cukup hangat atau tidak. Aku sedikit lega walaupun aku masih tak tahu akan dibawa kemana olehnya.

Setelah itu ternyata aku dibawa ke rumahnya. Rumah yang tak terlalu besar tapi mampu menghangatkan. Ia langsung memberiku susu hangat saat itu. Kemudian mengeringkanku dengan penghangat yang membuatku ketakutan setenagh mati. Namun setelah tertawa hebat, ia mengerti dan langsung mengeringkanku dengan selimut hangat. Setelahnya, aku tertidur dengan nyenyak tanpa mengkhawatirkan apapun.

Hingga saat ini, aku masih tinggal bersamanya. Pemuda baik hati yang saat itu menyelamatkan nyawa seekor kucing kecil kurus berwarna hitam yang sudah dibuang. Jika baginya itu bukan hal yang seberapa, bagiku itu adalah hari paling menyedihkan juga membahagiakan dalam hidupku. Aku benar-benar berterima kasih padanya. Sampai saat ini ia bahkan masih merawatku dengan baik. Aku sangat menyayanginya seumur hidupku!

Risma Azhari, November ’19

Author