Halo Cerdikawan? Siapa di antara kalian yang senang membaca? Kalian yang senang membaca atau tidak pasti sering mendengar ya mengenai cerpen? Penasaran bagaimana contoh cerpen dan strukturnya? Nah, kali ini PinterKelas akan membagikan contoh cerpen dan strukturnya nih ke kalian. Namun sebelum membagikan contoh cerpen dan strukturnya, kira-kira apa sih Cerpen? Cerpen adalah sebuah akronim dari Cerita Pendek. Tahu tidak? Cerpen itu merupakan akronim resmi yang sudah ditetapkan dalam Bahasa Indonesia lho! Jadi Cerpen bukan sembarang akronim atau bahasa gaul ya, Cerdikawan! Nah, Cerpen adalah bentuk prosa naratif yang bersifat fiktif. Jadi Cerpen merupakan cerita yang singkat dan relatif cepat dalam membacanya. Sedikit berbeda dengan novel yang panjangnya beratus-ratus halaman. Yuk kita mulai pembahasan contoh cerpen dan strukturnya!

Apa Saja Struktur Cerpen?

Nah, kita belajar secara bertahap ya, Cerdikawan? Sebelum kita membahas contoh cerpen, mari kita bahas terlebih dahulu tentang strukturnya ya! Struktur Cerpen terdiri dari enam bagian. Keenam bagian tersebut saling berkaitan satu sama lainnya. Jadi struktur cerpen harus diurutkan berdasarkan tingkatannya pada Cerpen. Berikut contoh cerpen beserta struktur teksnya:

Abstrak pada cerpen merupakan bagian dari struktur cerpen yang gunanya meringkas dan memberikan gambaran awal pada cerita.

Orientasi pada cerpen merupakan bagian setting pada cerita. Meliputi segala aspek yang berkaitan dengan waktu, suasana, tempat di dalam cerpen.

Komplikasi pada cerpen adalah rentetan atau kronologi kejadian yang dikaitkan secara sebab dan akibat pada sebuah kejadian di dalam cerpen. Penggambaran karakter dan watak tokoh dapat terlihat pada cerpen melalui struktur ini.

Evaluasi pada cerpen merupakan konflik yang terjadi dan membawa konflik tersebut pada puncak klimaks di cerita. Setelah itu, dari sini akan mulai muncul titik penyelesaian dari konflik yang muncul tersebut.

Resolusi pada cerpen adalah solusi yang dimunculkan pengarang cerpen terhadap konflik dan klimaks yang sudah terjadi sebelumnya pada cerita.

Koda pada cerpen merupakan value (nilai), pesan atau amanah yang hendak dibagikan oleh pengarang bagi para pembacanya.

contoh cerpen dan strukturnya
Jerry Wang at unsplash.com

Contoh Cerpen No.1

Bus Malam

Hari ini aku pulang ke rumah dalam keadaan letih seperti biasa.

Aku pulang ke rumah pada jam yang hampir larut malam seperti biasa.

Setelah turun dari kereta listrik, aku naik Bus Malam ini dengan penumpang yang bisa dihitung jari seperti biasa.

Semua tak ada yang istimewa, hanya rutinitas tiap hariku yang seperti biasa.

Gaji yang selalu kurang.

Badan yang selalu sakit.

Punggung yang selalu nyeri.

Setelan kerja yang selalu sama.

Kebutuhan hidup yang seakan menamparku saat aku mengeluh tentang hidup.

Entah mengapa, di Bus Malam ini sisi emosionalku selalu membuncah.

Mungkin, karena Bus Malam ini tergolong sepi penumpang apalagi pada jam-jam segini.

Aku benar-benar ingin menangis seperti biasa.

Namun selalu kutahan seperti biasa juga.

Tiba-tiba Bapak Supir memanggilku,

“Ada apa, Neng? Neng gapapa?”

Jantungku tiba-tiba mencelos saat pertanyaan sesederhana itu dilontarkan oleh seseorang padaku,

“Gapapa, Pak. Cuma bener-bener lagi capek aja.”

“Bapak perhatiin selalu naik Bus ini di jam segini. Bapak sih nebaknya pulang kerja. Capek ya, Neng? Neng hebat lho masih muda udah bisa mandiri.”

Tatapan Bapak Supir itu tak pernah berpindah dari kemudinya, tapi aku dapat merasakan ketulusan saat beliau mengatakan itu padaku.

Air mataku menggenang.

Pandanganku mengabur.

“Menurut Bapak, gapapa selama kita berjuang kita sering ngerasa lelah. Capek. Kadang kenyataan memberi beban lebih besar dari pada harapan kita. Bapak juga sering, Neng, ngerasa capek nyari duit. Jarang pulang kalo uang setoran kurang. Bapak suka malu sama anak Bapak di rumah.”

Aku memalingkan pandanganku, tak mampu lagi menahan air mataku yang langsung terjatuh begitu saja saat mendengarkan cerita singkat Bapak Supir padaku.

“Saya yakin anak Bapak pasti bangga punya Ayah seperti Bapak yang rela nyupir Bus Malam sampe jarang pulang. Dan semuanya demi anak Bapak. Kiri, Pak. Saya kan turun di sini.”

Sahutku setelah mampu mengontrol diri sambil menyodorkan uang pecahan lima puluh ribu rupiah pada Bapak Supir,

“Bentar ya, Neng.”

“Ga usah, Pak. Simpan aja semua. Itung-itung biar Bapak cepet ketemu anak di rumah ya, Pak. Terima kasih ya, Pak…”

“Ya Tuhan! Makasih banyak, Neng!”

Lalu aku melangkah pulang ke rumah dengan api semangat yang kembali tersulut, tidak seperti biasanya.

Risma Azhari, November ’19

contoh cerpen dan strukturnya
Nong Vang at unsplash.com

Contoh Cerpen No.2

Mesin Waktu

Aku sedang membereskan buku serta alat tulis yang terserak di atas mejaku saat Dosen mengisyaratkan bahwa kelas terakhir sudah berakhir.

Soki tiba-tiba datang ke kelasku dari arah bubarnya para Mahasiswa di kelas terakhir tadi.

Ia duduk di sebelahku tetapi tanpa sepatah kata pun semenjak datang.

Selama lima menit hanya itu yang ia lakukan di bangku samping kananku.

Saat aku sudah merapikan semuanya, aku bertanya pada Soki,

“Ada apa?”

Soki menjawab dengan lemas,

“Aku berhasil mendapatkannya.”

“Hah? Serius? Kau benar-benar ditunjuk kampus sebagai perwakilan untuk ke Jepang?”

Aku terkejut dan senang bukan main mengetahui jika orang-orang sudah mulai menyadari jika sahabatku merupakan salah satu Mahasiswa unggul yang dimiliki kampus ini.

“Iya….”

“Loh? Tapi kenapa yang bersemangat hanya aku?”

“Ma, aku ingin tanya.”

“Oke.”

“Kalau kau punya mesin waktu, apa yang paling ingin kau ubah di masa lalumu?”

Aneh, karena Soki tiba-tiba berubah serius.

“Hm… Mesin waktu ya… Hm… Tidak ada tuh?”

“Aku serius.”

“Akupun serius. Walau hidupku tidak sempurna, saat ini aku tidak hidup dalam penyesalan apapun. Ada apa? Kau tak ingin cerita?”

“Aku segera pergi ke Jepang selama beberapa bulan. Ibuku, kau tahu kan, bagaimana keadaanya saat ini? Aku memikirkannya saat tak ada aku nanti. Aku merasa tidak banyak memberikan hal baik untuk Ibuku. Terlebih saat Ibu masih sehat dulu, saat ia bekerja banting tulang demi menghidupi kami. Aku malah menyia-nyiakan kasih sayangnya.”

“Mau dengar saranku?”

“Tentu.”

“Soki, jangan hidup pada masa lalu. Jangan hidup dengan penyesalan. Kau akan terperangkap di sana. Kau takkan pernah punya waktu untuk melakukan hal-hal baik di masa kini dan masa depanmu kalau terperangkap di sana. Kau harus menerima semuanya. Merima dirimu yang dulu. Agar kau bisa terbebas dari masa lalumu. Dengan mantap! Lalu minta maaflah, pada Ibumu, pada dirimu. Selalu berusaha memperbaiki diri adalah salah satu bentuk permintaan maafmu. Jangan diulangi. Jangan dengarkan suara-suara itu. Kau tidak hidup di masa lalu. Kau tak hidup untuk penyesalan.”

Kulihat air mata mulai menggenang di kedua matanya, lalu aku mengamatinya lekat-lekat dan ia memalingkan wajahnya,

“Aku tidak nangis!”

“Kalau nangis memang kenapa? Hahaha. Aku akan sering mengunjungi Ibumu, Soki!”

“Terima kasih banyak! Kau yang terbaik!”

“Oh, tentu saja!!! Traktir aku makanya!”

Risma Azhari, November ’19

contoh cerpen dan strukturnya
Road-Trip-with-Raj at unsplash.com

Contoh Cerpen No.3

3 Pucuk Surat

Pagi ini aku datang ke sekolah pada pukul 7:25 seperti biasa.

Pintu gerbang ditutup lima menit setelah kedatanganku.

Di kelas aku duduk di bangku deretan belakang.

Walaupun, kalau boleh jujur di bangku deretan belakang paparan dari kipas angin di kelas tidak cukup terasa menyejukkan.

Bu Mahya selalu datang tepat waktu dan tak pernah membuat kami menunggu.

Tidak seperti guru-guru lain dengan jam karetnya.

Bu Mahya selalu rapi ketika mengajar.

Untuk seorang guru muda, Bu Mahya selalu tampil keren dengan gayanya sendiri.

Tak seperti guru-guru lain, ia adalah satu-satunya guru yang memperlakukan murid-muridnya tanpa perbedaan.

Yang pintar, yang malas, yang cantik, yang kentang, yang harum, yang dekil, atau ‘yang’ ‘yang’ lainnya, Bu Mahya selalu memperhatikan kami dengan baik.

Ia selalu berusaha memahami keadaan murid-muridnya dalam bersekolah.

Hebat kan?

Tidak semua guru memiliki manner seperti Bu Mahya.

Bu Mahya tidak hanya datang untuk memerintah para muridnya melakukan A sampai Z.

Ia memberi tahu jika proses untuk mencapai Z kita harus perlahan mulai dari A terlebih dahulu.

Ia pun paham tak semua murid memiliki cara untuk mencapai Z yang sama.

Tak heran ia kerap menjadi tempat curahan hati para muridnya saat ada masalah.

Bu Mahya hampir sempurna.

Kekurangannya hanya satu.

Bu Mahya seorang manusia.

Dan yang aku tahu, manusia tidak akan ada yang sempurna.

Maka begitu pula dengan Bu Mahya.

Hari ini, tanggal 25 November bertepatan dengan Hari Guru Nasional.

Teman-temanku yang lain berlomba-lomba memberinya hadiah.

Ada yang dibuat dengan tangan sendiri, ada yang membeli dengan harga selangit, ada yang uangnya dari hasil menyisihkan jatah jajannya, dan ada aku, yang hanya memberikannya 3 pucuk surat.

Bentuk suratnya kelewat biasa.

Namun aku cukup percaya diri dengan isinya.

Kumasukkan ke dalam map berwarna coklat, lalu kusisipkan pada kolong mejanya.

Namun pada jam pulang sekolah, ia tiba-tiba menghampiriku seorang diri dalam keadaan menangis.

Ia berkata dengan suara parau,

“Terima kasih, Na! Ini kado paling indah menurut Ibu! Ibu ga nyangka kamu ikutan ngasih hadiah ke Ibu.”

“Kok bisa ga nyangka, Bu?”

“Abis, kamu orangnya cuek. Apalagi abis pas itu kamu ceritain masalahmu ke Ibu. Kamu ga pernah ngobrol lagi ke Ibu. Ibu kira kamu ada marah sama Ibu, Na.”

“Enggak, Bu. Justru setelah aku cerita ke Ibu aku jadi banyak mengontrol diriku supaya ga terlibat dengan masalah lagi. Yah, walaupun ga selalu berhasil sih…”

“Kok suratnya dipakein map buat ngelamar kerja? Ibu kira ini isinya bom.”

“Kirain Ibu mikirnya ada yang mau lamar kerja ke Ibu. Pake map buat lamar kerja supaya ada spesial-spesialnya dikit. Hehe.”

“Ibu ga bisa berhenti nangis nih baca suratmu, Na! Gimana dong cushion Ibu luntur nih.”

“Gapapa, Bu. Ibu tetep guru paling cantik kok!”

Risma Azhari, November ’19

Author