Hai, Cerdikawan? Apakah kalian merasa asing dengan istilah majas pleonasme? Atau, apakah kalian bingung dengan bagaimana contoh majas pleonasme itu? Majas pleonasme adalah salah satu jenis majas yang biasa kita pelajari dalam pelajaran Bahasa Indonesia. Mungkin sebagian dari kalian merasa asing, dan sebagian lagi tidak ya. Namun, penggunaan contoh majas pleonasme ini sebenarnya cukup sering kita temui dalam kehidupan sehari-hari lho! Seperti misalnya saat kita berkomunikasi, menulis, dsb. Ayo simak penjelasan lebih lanjut mengenai majas pleonasme di bawah ini untuk membuktikannya!

Pengertian Majas Pleonasme

Cerdikawan, sebelum kita masuk ke pembahasan lebih lanjut mengenai contoh majas pleonasme, kita harus mengenal terlebih dahulu apa pengertian dari majas pleonasme itu sendiri.

Majas pleonasme secara etimologi mengambil kosakata yang berasal dari Bahasa Yunani Kuno, ‘Pleonasmus‘. Kata ‘Pleonasmus‘ yang dalam Bahasa Indonesia memiliki makna ‘Banyak; Terlalu Banyak’. Nah, maka secara garis besar majas ini dapat diartikan sebagai majas yang melebih-lebihkan.

Jika ingin diuraikan lebih rinci, majas pleonasme adalah penambahan informasi yang sebenarnya tidak perlu dilakukan pada sebuah bentuk pernyataan. Alasannya karena biasanya pernyataan tersebut sudah jelas meskipun tanpa ditambahkan majas ini. Eitz tunggu dulu, bukan sekadar melebih-lebihkan informasi, yang dilakukan oleh majas pleonasme ini memiliki tujuan mendasar lho! Tujuan dasar dari majas pleonasme ini biasanya untuk memberikan penegasan pada sebuah kalimat atau memberikan gambaran ekspresi secara mendetail. Jadi penggunaan majas pleonasme ini berguna untuk membuat sebuah kalimat atau pernyataan lebih hidup. Namun jika majas pleonasme ini digunakan terlalu sering atau jumlahnya terlalu banyak, pastinya akan terkesan berlebihan. Perlu diingat, sesuatu yang berlebihan itu tidak baik ya!

contoh majas pleonasme pengertian
other-wordly.tumblr.com

Contoh Pengaplikasian dalam Sebuah Kalimat

Setelah membahas secara singkat mengenai pengertian dari majas pleonasme, kini kita akan mulai membahas kalimat-kalimat apa saja yang termasuk ke dalamnya. Selain itu Cerdikawan juga bisa melihat contoh-contoh kalimat yang sering diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Contoh Majas Pleonasme Kalimat 1

Ada seorang murid yang berkata, “Guru Bahasa Indonesia itu membuka perlahan pintu kelas yang sebelumnya tertutup rapat.”

Pembahasan Contoh Kalimat 1

Pada kalimat tersebut selain menyebutkan informasi apa yang sedang terjadi, orang tersebut juga mengikutsertakan “yang sebelumnya tertutup rapat”. Kata-kata tersebut merupakan informasi yang sebelumnya terjadi. Sebenarnya informasi tersebut tidak diperlukan dalam kalimat karena informasi sudah cukup lengkap dengan ” Guru Bahasa Indonesia itu membuka perlahan pintu kelas.” Nah, sebenarnya kalimat cukup sampai di situ.

contoh majas pelonasme dalam kehidupan sehari-hari
dreamstime.com

Contoh Majas Pleonasme Kalimat 2

Seorang anak perempuan sedang meminta ijin pada Ibunya, “Bu, aku ingin beli novel genre-genre romance, sci-fi, fantasy, suspense di toko buku baru ya?”

Pembahasan Contoh Kalimat 1

Dalam contoh kalimat di atas, sang anak perempuan bertujuan untuk membeli novel dalam banyak genre. Ketika sebuah kalimat sudah menyebutkan jenis-jenis dari suatu kategori benda, maka penyebutan kategori benda tersebut akan dianggap sebagai informasi yang sebenarnya tidak diperlukan. Jadi tidak perlu lagi menyebutkan kategori bendanya seperti “genre-genre”. Kalimat mengandung informasi cukup dan tidak termasuk majas pleonasme jika sang anak berkata, “Bu, aku ingin beli novel romance, sci-fi, fantasy, suspense di toko buku baru ya?”

contoh majas pelonasme dalam kehidupan sehari-hari
bbc.com

Contoh Majas Pleonasme Kalimat 3

Seorang aktor sedang berakting di sinetron layar kaca yang biasa keluargamu tonton setiap malam. Dalam dialognya ia berkata, “Awas ya kalau kamu berani maju melangkahkan kakimu ke depan, akan kubuat kau jatuh ke bawah!”

Pembahasan Contoh Kalimat 3

Pada contoh kalimat diatas, ada dua yang menandai penggunaan majas pleonasme. Yaitu pada bagian “maju melangkahkan kakimu ke depan” serta “jatuh ke bawah”. Alasannya adalah karena sebelumnya aktor tersebut sudah memberi kata kerja yang mengandung informasi cukup jelas “maju” dan “jatuh”. Seperti yang kita ketahui kosakata “maju” memiliki makna “melangkah ke depan”. Jadi kata “melangkahkan kakimu ke depan” seharusnya tidak lagi diperlukan dalam komposisi kalimatnya.

Begitu pun dengan kata “jatuh”. Makna kata tersebut sudah sangat jelas. “Jatuh” pasti mengarah ke bawah, tidak mungkin kita “jatuh” ke atas. Sebab kita mengenal hukum Gaya Grafitasi milik Isaac Newton yang menyatakan bahwa setiap benda memiliki gaya tarik menarik dengan benda lain. Jadi sebenarnya kata “jatuh ke bawah” merupakan informasi yang dilebihkan dalam dialog aktor tersebut.

Baca juga: https://pinterkelas.com/lengkap-pengertian-majas-hiperbola/

Baca juga: https://pinterkelas.com/pengertian-majas-litotes/

Author