Cerdikawan, kamu pernah membaca suatu tulisan yang mengisahkan seorang tokoh?Ya, tulisan yang demikian disebut sebagai contoh teks biografi. Baik tulisan singkat maupun panjang berupa buku.

contoh teks biografi
pixabay.com

Biografi merupakan tulisan yang cukup disukai. Tulisan ini sebagian besar memotivasi pembacanya. Umumnya berkisah tentang orang-orang terkenal dan sukses. Bahkan, di toko-toko buku besar buku biografi mempunyai rak khusus penjualan.

Tahukah kamu bahwa tulisan biografi dapat ditulis dan berisi tentang tokoh siapa saja? Kamu bahkan dapat menuliskan tentang orang tua sendiri yang selalu menginspirasi sepanjang hidup.

Wah, pembahasan PinterKelas kali ini tentang contoh teks biografi pasti menarik. Apalagi penulisannya termasuk ke dalam materi pelajaran Bahasa Indonesia tingkat sekolah lanjutan. Kamu harus bisa nih membuatnya!

Pengertian

Tahukah kamu, ternyata kata biografi juga berasal dari bahasa Yunani? Biografi dalam bahasa Yunani tersebut merupakan gabungan dua buah kata, bios dan graphien. Bios artinya hidup. Sedangkan graphien berarti tulis.

Jika digabungkan biografi adalah sebuah tulisan yang berisi tentang kehidupan seseorang pada saat tertentu atau lengkap mulai sejak lahir hingga dewasa, bahkan hingga meninggal dunia.

Biografi menceritakan kehidupan seseorang sehingga yang ditulisakan haruslah meliputi informasi-informasi yang sesuai kenyataan. Bahkan, informasi disampaikan secara terperinci. Akibatnya, secara kelompok tulisan ini tergolong sebagai tulisan nonfiksi.

Pernah mendengar juga tentang autobiografi? Ya, autobiografi juga merupakan contoh teks biografi. Bedanya, teks ini ditulis sendiri oleh sang tokoh. Namun, secara umum biografi dapat ditulis sendiri atau orang lain.

Eits, seperti sudah dituliskan di atas, biografi tidak harus berisi tentang kehidupan tokoh terkenal lho! Kamu dapat menuliskan tentang siapa saja. Bahkan, bisa menulis tentang orang lain atau diri sendiri.

Struktur Teks Biografi

pixabay.com

Setiap teks atau tulisan dalam Bahasa Indonesia mempunyai ciri tertentu. Begitu pula dengan teks biografi. Selain merupakan tulisan fakta, biografi dapat dilihat dari struktur teksnya yang berbeda dengan jenis tulisan lain.

Struktur teks biografi, yaitu:

1. Orientasi

Orientasi merupakan teks yang berada di awal buku atau tulisan biografi. Di sini berisi gambaran awal tentang tokoh.

Dalam contoh teks biografi singkat, orientasi biasanya berisi tentang kelahiran, nama orang tua, dan pendidikan yang diterima sang tokoh.

2. Peristiwa dan Masalah

Peristiwa dan masalah merupakan bagian selanjutnya dari teks biografi. Di sini dikisahkan dan dijelaskan semua kejadian dan masalah yang dihadapi sang tokoh dalam mencapai cita-cita atau tujuan hidupnya.

Beberapa orang menyebutkan bahwa peristiwa dan masalah inilah inti dari biografi. Pembaca dapat mengambil hikmah tulisan dari sini. Istilahnya, kisah dibalik kesuksesan seorang tokoh ternama.

Peristiwa dan masalah diisi dengan kisah menarik, mengesankan, mengagumkan, dan menyedihkan dari tokoh yang ditulis.

3. Reorientasi

Struktur reorientasi adalah bagian penutup dalam teks biografi. Bagian ini tidak harus ada. Apalagi jika teks merupakan biografi yang ditulis sendiri.

Reorientasi merupakan kesimpulan yang dituliskan berupa pendapat penulis terhadap tokoh.

Contoh Teks Biografi

contoh teks biografi
pixabay.com

Dibawah ini ada 2 contoh teks biografi yang bisa dijadikan referensi. Yuk simak!

Teks Biografi Pahlawan Wanita

Nyi Ageng Serang

Orientasi

Nyi Ageng Serang mempunyai nama asli Raden Ajeng (RA) Kustiyah Wulaningsing Retno Edhi. Nama yang diberikan ketika lahir di Serang, Jawa Tengah pada tahun 1752.

Terlihat dari nama aslinya, Nyi Ageng Serang merupakan keturunan bangsawan Jawa pada masa itu. Nyi Ageng adalah puteri dari Pangeran Natapraja yang menguasai wilayah terpencil Kerajaan Mataram, Serang. Sebuah wilayah yang saat ini berada di perbatasan Grobogan dan Sragen, jawa Tengah. Pangeran Natapraja saat itu juga merupakan seorang Panglima Perang Sultan Hamengku Buwono I.

Dalam silsilah keluarga Nyi Ageng Serang, mengalir darah kepahlawanan. Nyi Ageng, salah satu keturunan Sunan Kalijaga yang terkenal. Cucunya kelak juga menjadi pahlawan nasional bernama Suwardi Suryoningrat atau yang dikenal dengan nama Ki Hajar Dewantara.

Peristiwa dan Masalah

Pada masa itu, adat istiadat Jawa amatlah ketat. Perempuan dilarang berpendidikan dan banyak melakukan aktivitas di luar rumah.

Namun, Nyi Ageng Serang mendobrak semua adat saat itu dengan dukungan ayahnya. Nyi Ageng Serang rajin mengikuti latihan-latihan kemiliteran dan siasat perang bersama-sama prajurit laki-laki. Bahkan, ia sering mengikuti ayahnya turun ke medan perang. Nyi Ageng Serang menjadi barisan terdepan dalam perang melawan penjajan.

Ketika ayahnya wafat, beliau menggantikan kedudukan ayahnya sebagai penguasan Serang. Dari sanalah kemudian beliau mendapat nama julukan atau gelar Nyi Ageng Serang, menggantikan nama lahirnya.

Ketika Perang Diponegoro dimulai pada tahun 1825, Nyi Ageng dan menantunya Raden Mas Pak-Pak sempat ikut berada dalam barisan Diponegoro.

Selama 3 tahun Nyi Ageng Serang memimpin pasukan di atas tandu. Usia yang sudah mencapai 73 tahun membuatnya mundur. Kepemimpinan diserahkan kepada Raden Mas Pak-Pak.

Reorientasi

Nyi Ageng Serang menghembuskan napas terakhir pada tahun 1828. Tidak lama setelah beliau mengundurkan diri dari perang Diponegoro, dalam usia 76 tahun.

Meski tidak seterkenal pahlawan wanita lain, beliau berhasil meninggalkan Serang dalam keadaan merdeka. Beliau menjadi inspirasi bagi wanita dan siapa saja yang siap membela tanah air dalam segala keterbatasan yang dimiliki sebagai seorang perempuan.

Warga Kulon Progo mengabadikan nama beliau dengan mendirikan monumen berupa patung Nyi Ageng Serang sedang menunggang kuda di Kota Wates. Pemerintah Indonesia juga sudah menetapkan Nyi Ageng Serang sebagai salah satu pahlawan nasional berdasarkan SK Presiden RI No. 084/TK/1974.

Teks Biografi Tokoh Islam

Imam Syafi’i

Orientasi

Imam Syafi’I lahir pada tahun 150 Hijriah (766 Masehi) di Kota Gaza, Palestina. Nama lengkapnya adalah Muhammad bin Idris Syafi’i.

Ayah Syafi’I adalah keturunan suku Quraiy dari Bani al-Muthalib. Beliau adalah salah seorang keturunan sahabat Rasulullah Syafi’I bin as Sa’ib yang masuk Islam setelah Perang Badar. Ibunya adalah Fatimah bin Ubaidillah, seorang wanita mulia dari suku Azd, salah satu kabilah negeri Yaman.

Idris, ayah dari Syafi’I adalah laki-laki pilihan dari ayahnya Fathimah karena kejujurannya. Dikisahkan suatu saat Idris menemukan buah delima di pinggir sungai dalam perjalanannya. Karena lapar, ia memakan buah tersebut. Namun setelah ia memakan buah tersebut, ia teringat kalau buah tersebut bukan miliknya. Maka ia menyusuri sungai untuk bertemu dengan pemiliknya. Akhirnya, pemiliki kebun, ayah Fathimah mengikhlaskan buah delima yang dimakan dengan syarat agar Idris menjaga kebunnya selama satu bulan dan menikahi putrinya, Fathimah.

Peristiwa dan Masalah

Ibunda Syafi’I adalah seorang penghafal Al Qur’an dan hadits.Sejak dalam kandungan Syafi’I sudah terbiasa mendengarkan bacaan Al Qur’an dari Ibunya. Dengan kondisi yang serba kekurangan, karena Syafi’I anak yatim, ibunya tetap menginginkan anaknya menjadi seorang penghafal Al Qur’an dan hadits. Kemudian, ibunya memasukkan Syafi’I ke madrasah anak-anak untuk belajar Al Qur’an di Kota Yaman.

Syafi’I kecil mempunyai kecerdasan yang luar biasa. Pada usia 7 tahun dia sudah khatam menghafal Al Qur’an 30 juz. Dia terkadang diminta gurunya untuk membantu membetulkan hafalan Al Qur’an teman-temannya.

Syafi’I Menulis dan Menghafal Pelajaran

Syafi’I tidak selalu mempunyai uang untuk kertas catatan. Harga kertas pada saat itu sangat mahal. Akhirnya, Syafi’I menulis pelajaran dari guru-gurunya di kertas-kertas bekas, tulang-tulang kering, pelepah kurma, atau barang apa saja yang bisa ditulisi. Ketika kamarnya sudah penuh dengan barang, ia menghafal seluruh catatannya dan membuang barang-barang yang ia tulisi.

Saat bertemu Imam Maliki, Syafi’I membacakan kitab al Muwaththa yang telah dihafalnya. Imam Maliki sangat senang dan mempersilakan Syafi’I untuk tinggal di rumahnya. Syafi’I menjadi murid terpandai. Imam Maliki sering meminta Syafi’I untuk menggantikannya mengajar.

Imam Syafi’I dan Perampok

Ketika pertama kali merantau, Syafi’i yang menunggang kuda bersama kafilahnya dihadang perampok.

Dalam perjalanan, rombongan dicegat rampok yang mengambil harta dari tiap orang. Ketika bertemu Imam asy-Syafi’i, dia pun ditanya apakah memiliki uang. Mengejutkan, Imam asy-Syafi’i mengakuinya.

Tentu saja, perampok bertanya jumlah yang dibawa sang imam. Dan lagi-lagi, asy-Syafi’i mengakui bahwa ia membawa 400 dirham. Perampok tidak percaya dan meminta Syafi’I pergi.

Ketika perampok hampir selesai menjarah rombongan, pimpinan perampok memastikan apakah seluruh harta sudah terambil.

“Apakah kalian tidak meninggalkan seorang pun?” tanya sang pemimpin lagi.
“Tidak,” kata anak buahnya, “Kecuali seorang anak kecil yang mengaku telah membawa uang sebanyak 400 dirham. Sepertinya anak tersebut gila atau hanya mengolok-olok.”
Pemimpin rampok berkata, “Bawa anak itu ke sini.”

Imam asy-Syafi’i dibawa ke hadapan pemimpin. Sekali lagi ia ditanya soal uang yang dibawanya. Tentu saja, Imam asy-Syafi’i lagi-lagi mengaku. Termasuk ketika ditanya jumlahnya, beliau tak sungkan menyebut kembali 400 dirham yang diberikan ibunya.

“Di mana uang itu?” tanya pemimpin rampok yang menjadi penasaran.
Imam asy-Syafi’i mengeluarkan uang tersebut dari balik pakaiann dan menyerahkan kepada perampok.

Pemimpin perampok tertegun dan tak mengerti.
“Kenapa kamu jujur kepadaku? Padahal kamu tahu bahwa uangmu akan hilang?”

Syafi’i pun menjawab, “Aku berkata jujur kepadamu karena aku telah berjanji kepada ibuku untuk tidak berdusta kepada siapa pun.”

Pemimpin perampok akhirnya tersadar. Seorang anak saja tidak mau berhianat pada ibunya. Sedangkan dia sudah bertahun-tahun berhianat pada Allah.

Perampok akhirnya sadar dan membiarkan Syafi’i dan rombongan pergi dengan uangnya. Sejak saat itu, ia tidak pernah merampok lagi.

Reorientasi

Imam Syafi’I wafat meninggal dunia di Mesir, 29 Rajab tahun 204 Hijriyah (820 Masehi) dalam usia 54 tahun.

Imam Syafi’I banyak berfatwa dan mengajarkan ilmu agama yang dimilikinya. Umat Islam berdatangan dari berbagai negeri. Mereka ikut belajar kepada Imam Syafi’i. Mazhab Syafi’I tersebar ke seluruh penjuru dunia, termasuk Indonesia.

Imam Syafi’I banyak menulis kitab.Dalam hidupnya, beliau menuli 113 kitab. Kitabnya yang terkenal dan dipelajari sampai sekarang antara lain ar-Risalah (ushul fiqh) dan al-Umm (buku induk masalah fiqh).

Imam Syafi’I seorang pencari ilmu sejati yang sangat jujur.

Itulah 2 contoh teks biografi tokoh. Cukup panjang ya Cerdikawan? Biografi sebenarnya tidak selalu harus dituliskan secara lengkap jika dalam bentuk tulisan biasa, kecuali kamu membuat buku.

Untuk penulisan biografi singkat, kamu cukup menuliskan peristiwa yang paling berkesan saja.

Semoga bermanfaat!

Baca juga :
1. Pengertian dan Ciri-Ciri Teks Biografi Serta Contohya
2. Pengertian, Ciri, dan Jenis Narasi Adalah?

Author