Dalam kegiatan perdagangan internasional, terdapat faktor pendukung perdagangan internasional dan faktor penghambat perdagangan internasional. Kali ini PinterKelas telah merangkum mengenai beberapa faktor penghambat perdagangan internasional yang dapat kalian pelajari! Yuk disimak apa saja!

Faktor Penghambat Perdagangan Internasional

1. Organisasi Regional

Faktor penghambat perdagangan internasional yang pertama adalah organisasi regional. Contoh organisasi regional misalnya seperti ASEAN dalam skala Asia Tenggara. ASEAN adalah organisasi regional yang mencangkup bidang politik, pendidikan, sosial, budaya, dan ekonomi negara-negara yang menjadi anggotanya. Organisasi regional menjadi suatu wadah yang tentunya memberi keuntungan besar kepada negara-negara yang menjadi anggotanya.

Sementara, wadah seperti organisasi regional ini justru akan memberi cukup kesulitan dalam proses ekspor dan impor bagi negara-negara yang tidak menjadi anggotanya. Alasannya adalah karena negara di luar keanggotaan tidak memiliki kesepakatan khusus untuk saling menguntungkan dalam proses perdagangan internasional.

2. Kebijakan dari Pihak Pemerintah

Faktor penghambat perdagangan internasional yang kedua merupakan kebijakan pemerintah. Pada umumnya, di setiap negara pasti punya kebijakan perekonomian untuk negaranya sendiri. Namun, pada beberapa kasus, di beberapa negara, kebijakan pemerintah terhadap ekonomi tersebut sering kali menjadi faktor penghambat proses perdagangan Internasional. Contohnya saja pada kebijakan pemerintah yang membatasi jumlah impor, atau proses birokrasi yang menguras banyak waktu dan memakan biaya yang tidak sedikit. Hal-hal yang seperti itu akan berpengaruh dengan minat dari pelaku usaha antarnegara untuk melakukan transaksi perdagangan Internasional ke negara yang bersangkutan.

3. Pembatasan Jumlah Impor

Normalnya, setiap negara pasti memiliki harapan besar atas produk dan jasa dalam negerinya. Maka, produk dan jasa dalam negeri ini pasti akan lebih didahulukan dan diutamakan dibandingkan produk dan jasa dari luar negeri. Sebab ekspor memiliki peran yang besar dalam perkembangan ekonomi suatu negara dengan cara menyumbang devisa.

Dalam hal tersebut megakibatkan pembatasan jumlah produk dan jasa impor. Sebenarnya hal ini wajar saja dilakukan, tetapi pada beberapa negara melakukan penekanan jumlah impor secara masif. Pembatasan jumlah impor ini juga diikuti dengan tarif impor yang relatif besar. Hal ini pastinya dapat menjadi faktor penghambat perdagangan Internasional.

Baca juga pembahasan mengenai Manfaat Perdagangan Internasional!

4. Tingkat SDA (Sumber Daya Alam) yang Rendah

Sumber Daya Alam (SDA) dapat menjadi faktor pendukung perdagangan Internasional. Alasannya adalah karena kekayaan alam dari suatu negara dapat menarik perhatian yang khusus dari negara lain. Kekayaan Sumber Daya Alam dapat dilihat sebagai potensi terjadinya perdagangan Internasional. Oleh karena itu, negara dengan Sumber Daya Alam yang berlimpah pasti akan lebih dilirik oleh negara lain untuk diajak bekerjasama. Hal ini menjadikan negara dengan Sumber Daya Alam yang terbatas atau rendah tingkatannya, memungkinkan untuk kurang diminati oleh negara lain dalam hal perdagangan Internasional.

5. Peraturan Politik Anti-Dumping

Faktor penghambat perdagangan Internasional berikutnya adalah adanya penerapan aturan politik anti-dumping. Peraturan ini bertujuan untuk melindungi produk dan usaha lokal dari produk dan usaha luar negeri. Terlebih lagi apabila produk-produk impor tersebut memiliki harga lebih murah dari produk buatan lokal.

Maka diterapkanlah politik anti-dumping ini dengan cara memberi harga tinggi untuk tarif bea produk impor. Politik anti-dumping ini diterapkan oleh Indonesia terhadap produk asal China dari global market atau pasar bebas.

6. Perbedaan Mata Uang Antarnegara

Perbedaan mata uang antarnegara dapat menghambat perdagangan Internasional karena nilai tukar uang harus mengikuti peraturan valuta asing (valas). Saat pihak negara pengimpor barang mempunyai nilai tukar mata uang lebih rendah, maka biaya yang akan dikeluarkan akan menjadi lebih besar.

7. Tidak Stabilnya Kurs Mata Uang

Tidak stabilnya nilai kurs dapat menjadi salah satu faktor penghambat perdagangan internasional. Setiap negara memiliki mata uang dan nilai tukar yang berbeda. Kurs mata uang adalah selisih nilai tukar mata uang. Ketika nilai kurs tidak stabil, pihak pengimpor dan pengekspor akan mengalami kesulitan dalam menentukan harga produk. Sehingga, jika kurs mata uang tidak stabil, hal ini berdampak pada pelaku usaha yang enggan melakukan aktifitas ekspor dan impor antarnegara.

Baca juga pembahasan mengenai Valuta Asing!

8. Proses Transaksi Uang yang Sulit dengan Risiko Besar

Transaksi ekspor impor dalam perdagangan internasional memiliki skala yang besar. Hal ini diikuti dengan jumlah nominal uang yang dalam jumlah besar juga. Kemudahan dalam proses transaksi sejumlah uang dalam nominal yang besar tersebut sangat dibutuhkan. Maka, transaksi dengan menggunakan uang tunai akan sangat dihindari. Metode transaksi yang digunakan biasanya adalah dengan menggunakan L/C, Kliring Internasional atau Telegraphic Transfer. Dalam jenis pembayaran tersebut, akan sangat memakan waktu dalam proses pencairannya. Hal ini dapat menjadi faktor penghambat perdagangan Internasional.

9. Keamanan Negara

Keamanan adalah salah satu faktor utama dalam kesuksesan proses perdagangan internasional. Keamanan dapat mempengaruhi hubungan kerja sama antar suatu negara dengan negara lain. Ketika kondisi suatu negara dikatakan tidak aman untuk melakukan transaksi perdgangan internasional, maka timbul keraguan dari negara lain untuk kerja sama.

Faktor keamanan negara ini harus mendapat perhatian khusus, sebab pengaruhnya bagi keselamatan produk dan orang-orang yang terlibat dalam prosedur perdagangan iternasional ini sangatlah penting.

10. Peperangan atau Konflik Antarnegara

Faktor penghambat perdagangan internasional yang terakhir maish berkaitan dengan keamanan suatu negara, yakni peperangan. Peperangan tentu mempengaruhi kondisi keamanan suatu negara, apabila negara-negara yang sedang berada dalam konflik atau sengketa menjalin kerja sama ekonomi (dalam hal ini perdagangan internasional) dengan suatu negara, tentunya turut mempengaruhi hubungan Internasionalnya. Dampak langsungnya adalah terputusnya hubungan atau kerja sama antarnegara.

Author