Dalam pelajaran bahasa Indonesia, kamu sering menemui “kata, anak kalimat, frasa, parafrasa,” dan sebagainya. Cerdikawan mungkin sedikit bingung, apa sih perbedaannya? Toh yang penting memahami kalimat yang ditulis atau dibacakan!

Jangan dulu menganggapnya sama dan bingung! Tentu saja, semua yang dituliskan di atas maksudnya berbeda-beda. Jika digunakan dalam kalimat akan mempengaruhi pengertian pembaca. Mengenal semuanya, membuat tulisan kamu menjadi lebih bagus. Kalimat yang ditulis menjadi efektif: singkat, padat, dan jelas.

Wah, mau dong menulis lebih bagus! Apalagi jika nilai pelajaran bahasa Indonesia menjadi lebih baik!

Kalau begitu, simak pembahasan Pinter Kelas kali yang membahas khusus tentang frasa!

Pengertian Frasa Menurut Para Ahli

Kamu tentu sudah tahu tentang kalimat? Yah, contohnya seperti yang kamu baca ini!

Setiap kalimat mempunyai beberapa bagian yang mempunyai fungsi tertentu. Fungsi yang pastinya kamu sudah mengenal meski tidak terlalu mendalami. Ada bagian yang berfungsi sebagai subjek (S), predikat (P), objek (O), dan keterangan.

Nah, bagian dari setiap fungsi tersebut mungkin berupa kata, frasa, atau klausa.

Sebelum Pinter Kelas menyimpulkan pengertian frasa, di bawah ini beberapa definisi menurut para ahli.

1. Kridalaksana

Kridalaksana menyebutkan bahwa bagian dari kalimat ini adalah gabungan dua kata atau lebih yang mempunyai sifat tidak predikitif. Tidak prediktif biasanya diartikan tidak dapat dipahami dengan jelas maksudnya. Namun, dapat juga berarti tidak ada predikat di dalamnya.

2. Ramlan

Menurut Ramlan dalam Bagus (2008:2), pengertian frasa adalah satuan gramatikal yang terdiri atas dua kata atau lebih dan tidak melebihi batas suatu fungsi dalam unsur klausa.

Apa yang dimaksud gramatikal? Gramatikal berhubungan dengan makna yang dapat berubah sesuai dengan konteks.

3. Lyons

Lyons dalam Soetikno (1995: 168) menyebutkan bahwa bagian dari fungsi ini merupakan sebuah kelompok kata yang secara gramatikal sepadan dengan satu kata tertentu dan tidak mempunyai subjek atau predikat sendiri.

4. Tarmini

Sedikit berbeda menurut Tarmini (2012: 110, frasa adalah suatu kontruksi (yang membentuk kalimat) yang terdiri dari dua konstituen (kata) atau lebih dan dapat mengisi fungsi sintaksis (S, P, O) dalam sebuah kalimat. Namun, ditekankan bahwa fungsi tersebut tidak boleh melebihi batas-batas klausa atau sering disebut sebagat nonprediktif.

Selain dari empat definisi di atas, banyak ahli bahasa lain yang mengemukakan pengertian frasa. Ada yang menuliskannya dengan bahasa sederhana atau kompleks seperti nomor empat.

Namun, secara umum dapat disimpulkan bahwa frasa adalah “satuan yang terdiri dari dua kata atau lebih yang menduduki satu fungsi pada kalimat (sebagai S, P, O, atau K) dan tidak dapat membentuk kalimat sempurna karena tidak mempunyai objek.

Perhatikan contoh berikut agar lebih mudah dipahami!

Contoh:
Tiga orang anak itu sedang bermain bola di lapangan.

Tiga orang anak itu = S = frasa
sedang bermain = P = frasa
bola = O = kata
di lapangan = keterangan = frasa

Ciri-Ciri Frasa

Berdasarkan definisi para ahli dan umum, kamu dapat menyimpulkan ciri-ciri frasa sebagai berikut:

  • Minimal terdiri dari dua buah kata.
  • Memiliki fungsi gramatikal atau sesuai dengan konteks dalam sebuah kalimat.
  • Harus mempunyai satu makna gramatikal, sesuai dengan kalimatnya.
  • Merupakan gabungan kata yang bersifat nonprediktif, salah satu katanya tidak berfungsi sebagai predikat.

Frasa Berdasarkan Kategori

Frasa dikategorikan menurut unsur dan kedudukannya dengan kalimat lain.

1. Frasa Setara dan Bertingkat

  • Frasa Setara, jika dua kata atau lebih di dalamnya mempunyai kedudukan yang sama.

    Contoh:
    Bapak dan ibu guru sedang mengajar di depan kelas.
    bapak dan ibu guru merupakan frasa setara.

    Contoh lain dari kategori setara adalah saya dan adik, pagi dan siang.
  • Frasa Bertingkat, jika unsur di dalamnya saling menguatkan.

    Pada contoh kalimat di atas, di depan kelas merupakan frasa bertingkat.
    Contoh lain adalah tadi pagi, nanti malam, besok siang.

2. Frasa Idiomatik

Jenis ini dilihat berdasarkan gabungan kata yang sama dan hubungannya dengan kalimat lain.

Contoh:
Usaha Pak Andi sedang gulung tikar.
Pak Budi gulung tikar di masjid.

Gulung tikar pada kalimat pertama dan kedua mempunya makna yang berbeda. Ini yang disebut sebagai idomatik.

Frasa Berdasarkan Kontruksinya

Jenis gabungan kata yang mempunyai satu fungsi, berdasarkan kontruksinya dibagi menjadi dua sebagai berikut.

1. Eksosentrik

Jenis ini bisa dikatakan dua kata atau lebih yang ada di dalamnya tidak dapat dipisahkan atau dihilangkan atau diganti. Jika dihilangkan akan mengubah arti.

Contoh:

  • Kedua polisi itu telah menilang seorang pemabuk yang berkendara.

    Kedua polisi, bisa dibuat menjadi “polisi” saja. Telah menilang dapat dibuat menjadi “menilang” dan seorang pemabuk bisa dituliskan “pemabuk” saja. Ketiganya bukan jenis eksosentrrik.
  • Jual beli biasanya dilakukan secara langsung di pasar tradisional.

    Kata jual beli tidak dapat dihilangkan atau diganti salah satunya karena akan mengubah arti.

2. Endosentrik

Jenis ini dibagi menjadi 3 kelompok, yaitu:

  • Koordinatif, biasanya dihubungkan dengan kata “dan” dan “atau”.

    Contoh:
    Bapak dan ibu sedang pergi ke rumah nenek.
  • Atributif, terdiri dari unsur-unsur yang tidak setara atau termasuk ketegori bertingkat.

    Contoh:
    Pekarangan rumah Pak Ardi sangat luas.
  • Apositif, unsur-unsur yang ada mempunyai arti yang sama.

    Contoh:
    Aisyah, adik ibu bekerja di Lampung.

Kelas Frasa

Kelas ini dikelompokkan berdasarkan jenis kata yang terkandung di dalamnya dan dibagi menjadi enam:

  1. Nomina atau Kata Benda

    Contoh:
    Ibu membelikan adik hadiah ulang tahun.
  2. Kata Kerja atau Verba

    Contoh:
    Ari sedang bermain bola di lapangan.
  3. Adjektiva atau Kata Sifat

    Contoh:
    Taman di komplek perumahan tersebut sangat bagus.
  4. Adverb atau Kata Keterangan

    Contoh:
    Ari sedang bermain bola di lapangan.
  5. Numeralia atau Kata Bilangan

    Contoh:
    Kedua polisi tersebut sedang bertugas di jalan raya.
    Dua orang anak berlari-lari kecil ke arahnya.
  6. Preposisional atau Kata Depan

    Contoh:
    Ibu guru di depan kelas itu cantik sekali.

Frasa Ambigu

Selain jenis gabungan kata di atas, ada pula kelompok yang bersifat ambigu. Orang yang membaca kalimat dapat memahaminya secara berbeda.

Contoh:

Aku melihat mobil tetangga baru

Frasa dalam kalimat mempunyai dua makna yang berbeda.

Pertama, mobil tetangga baru dapat berarti mobilnya yang baru dibeli.

Kedua, mobil tetangga baru dapat bermakna mobil milik tetangga yang baru pindah dekat rumah.

Beberapa ahli bahasa juga menggolongkan jenis ambigu sebagai frasa berdasarkan kesatuan, yaitu biasa, idomatik, dan ambigu.

So, Cerdikawan yang penting dalam bahasa Indonesia kamu menempatkan kata dan frasa sebaik mungkin. Salah penempatan dapat mengakibatkan makna yang berbeda yang dipahami pembaca.

Bahasa Indonesia itu mudah! Selamat belajar!

Author