Setelah kemarin kita mengupas mengenai pembahasan Meganthropus Palaeojavanicus yang termasuk ke dalam jenis-jenis manusia purba, kali ini giliran pembahasan tentang Homo Wajakensis nih, Cerdikawan! Homo Wajakensis atau yang dalam Bahasa Indonesianya ‘Manusia yang Berasal dari Wajak’ atau biasa disebut ‘Manusia Wajak’ adalah salah satu jenis manusia purba yang sudah memiliki intelegensi lebih berkembang dan gaya hidup yang tidak lagi primitif. Untuk pembahasan lebih lanjutnya, yuk ah langsung saja simak penjelasan berikut ini tanpa basa-basi lagi!

Sejarah Homo Wajakensis

Menelusuri sejarah dari Homo Wajakensis, fosil manusia purba ini ditemukan kedua kali di Indonesia pada tahun 1890 di Wajak, Jawa Timur. Fosil yang berhasil ditemukan adalah berupa bagian fragmen tengkorak, tulang kering dan juga tulang paha. Fosil temuan ini diberi nama Homo Wajakensis, yang memiliki arti dalam Bahasa Indonesia ‘Manusia dari Wajak.’ Homo ini dikategorikan dengan tingkatan kecerdasan yang lebih tinggi, jika dibandingkan dengan Pithecanthropus Erectus. Penemuan ini dilakukan oleh seorang ahli anatomi berkebangsaan Belanda bernama Dr. Eugene Dubois.

Jika merunut kembali sejarah awal mula penemuan manusia Wajak ini, bermula pada sekitar tahun 1888, seorang B. D. van Rietschoten menemukan sebuah fosil manusia purba yang berupa bagian ruas leher. Fosil yang ditemukan olehnya tersebut berada pada sebuah ceruk di lereng pegunungan karst di Barat Laut Campurdarat, dekat Tulungagung, Jawa Timur. Hasil dari penemuan van Rietszchoten inilah yang pada akhirnya kembali diperdalam untuk diteliti lebih jauh oleh Dr. Eugene Dubois.

Berdasarkan hasil penelitian yang Dubois perdalam tersebut, fosil manusia purba Wajakensis diperkirakan pernah hidup pada sekitar 15.000 hingga 40.000 tahun SM (Sebelum Masehi.) Berdasarkan fosil yang ditemukan pertama kali yang berupa sebuah ruas leher dan tengkorak kepala, Homo Wajakensis diperkirakan memiliki volume otak sekitar 1600 cc. Namun, struktur tengkorak yang dimiliki manusia Wajak berbeda dengan struktur tengkorak bangsa Indonesia pada umumnya. Homo Wajakensis ini cenderung memiliki persamaan dengan manusia purba bangsa Australia.

homo wajakensis
replika homo wajakensis foto oleh brilio.net

Dalam penelitiannya terhadap manusia Wajakensis, Dr. Eugene Dubois menduga bahwa mereka memiliki ras Australoide. Bagian rahang atas dan rahang bawah Homo Wajakensis yang berhasil ditemukan oleh Dubois memiliki kemiripan yang signifikan dengan bagian rahang atas dan rahang bawah yang manusia purba ras Australoid miliki. Maka Homo Wajakensis dapat dikatan memiliki silsilah yang berkaitan langsung dengan bangsa asli Australia. Manusia purba ini diduga melakukan penyebaran kelompok menuju arah Timur dan Barat Benua Australia. Oleh karena itu walaupun ditemukan di daerah Indonesia mereka memiliki persamaan genetik dengan manusia purba bangsa Australia.

Berdasarkan hasil penelitian oleh salah satu ahli, Homo Wajakensis sebenarnya memiliki kesamaan dengan Homo Soloensis, sebab kedua jenis ini sama-sama berasal dari plestosen tinggi yang sudah dikategorikan. Karena mereka memiliki sifat yang sudah mendekati manusia zaman sekarang.

Karakteristik Manusia Purba Wajakensis

Homo Wajakensis atau Manusia Wajak memiliki ciri-ciri yang berbeda dengan jenis manusia purba lainnya yang ditemukan di Indonesia, berikut ini merupakan ciri-ciri atau karakteristik manusia purba Wajakensis, antara lain adalah :

  1. Mempunyai struktur bentuk wajah yang tidak menonjol (cenderung lebih datar)
  2. Memiliki tinggi badan sekitar 130 cm hingga 210 cm
  3. Struktur hidung dengan ukuran yang sedikit lebar
  4. Memiliki bentuk mulut yang sedikit maju
  5. Volume otak yang bias melebihi 1300 cc, yakni sekitar 1350 cc sampai dengan 1450 cc
  6. Diperkirakan memiliki berat badan sekitar 30 sampai dengan 150 kg
  7. Terdapat jarak yang memisahkan antara bagian hidung dan mulut dengan jarak yang sangat jauh.
  8. Perawakan tubuh masih menyerupai seperti kera, tetapi sudah bisa berdiri dengan tegap
  9. Bentuk tulang dahi tidak lagi menonjol, tetapi menjorok ke dalam
  10. Sudah mulai mengenal cara memproses atau mengolah makanan, karena mereka mulai memakan makanan yang sudah matang
  11. Memiliki tulang dahi yang cukup panjang
  12. Bagian dahinya terlihat sedikit miring, dan tepat pada bagian atas mata terdapat sebuah busur dahi yang sangat jelas
  13. Mempunyai tulang pipi yang menonjol ke samping
  14. Memiliki otot-otot
  15. Dilengkapi ukuran tulang yang cukup besar
homo wajakensis
Penemuan Kerangka Kepala Homo Wajakensis foto oleh bungdus.com

Kebudayaan Manusia Wajakensis

Selain artefak-artefak yang ditinggalkan oleh Manusia Wajak, kehidupan mereka pada zaman prasejarah turut meninggalkan beberapa kebudayaan yang tersisa, dan yang hingga saat ini masih dapat ditemukan keberadaannya sebagai warisan budaaya. Beberapa kebudayaan yang diwariskan oleh Manusia Wajak, di antaranya sebagai berikut :

  • a. Kebudayaan Pacitan
  • Dalam kebudayaan Pacitan, terdapat beberapa alat perkakas yang dahulu kala sempat digunakan sehari-hari oleh Manusia Wajak. Alat-alat perkakas yang kini menjadi bagian dari kebudayaan Pacitan tersebut, dahulu ditemukan oleh seorang arkeolog bernama Von Koenigswald pada sekitar tahun 1935 di pesisir danau Baksoko, daerah Desa Punung, Pacitan, Jawa Timur.
  • Alat-alat perkakas tersebut terdiri atas Kapak Genggam, yaitu sebuah alat yang menyerupai bentuk kapak, yang tidak memiliki gagang dan digunakan dengan cara digenggam. Namun tidak hanya Kapak Genggam saja, terdapat juga Kapak Perimbas (chooper), Kapak Penetak, Pahat Genggam, dan lainnya.
  • b. Kebudayaan Ngandong
  • Dalam kebudayaan Ngandong juga terdapat beberapa bentuk budaya yang diwariskan karena dulunya pernah digunakan oleh Manusia Wajak pada zaman prasejarah. Kebudayaan Ngandong sendiri, merupakan salah satu kebudayaan yang diwariskan oleh kehidupan Homo Wajakensis dahulu. Terdapat beberapa alat yang menjadi bentuk dari kebudayaannya. Alat-alat tersebut ditemukan di daerah Ngandong, Jawa Timur.
  • Beberapa alat tersebut terdiri atas Kapak Genggam, yang terbuat dari batu, dan alat-alat dengan  ukuran yang lebih kecil atau disebut juga dengan Serpih (flake). Namun tidak hanya Kapak Genggam dan Serpih saja, pada kebudayaan Ngandong juga terdapat sebuah alat yang dibuat dari tulang hewan dan tanduk hewan.
Author