Jika sebelumnya kita telah membahas mengenai Kerajaan Kutai yang dahulu berdiri di atas tanah Kalimanta, kini kita akan membahas Kerajaan Pajajaran. Kerajaan yang berdiri di atas tanah sunda yang kini dikenal sebagai Jawa Barat ini, dipimpin oleh Prabu Siliwangi sebagai raja pertamanya. PinterKelas telah merangkum pembahasan mengenai Kerajaan Pajajaran seputar sejarah, nama raja dan peninggalan bersejarah dari kerajaan ini. Silakan disimak baik-baik, Cerdikawan!

Sejarah Kerajaan Pajajaran

Pada masanya, terdapat beberapa kerajaan yang sudah terlebih dahulu berdiri sebelum kerajaan Pajajaran berdiri. Letaknya berada di daerah Parahyangan, Sunda, yang sekarang dikenal sebagai Jawa Barat. Kerajaan yang lebih dahulu berdiri tersebut adalah Kerajaan Tarumanegara, Sunda, Galuh dan Kawali.

Pada sekitar tahun 1400-an, Kerajaan Majapahit mengalami keruntuhan yang disebabkan oleh perebutan tahta antarsaudara. Hal ini menyebabkan banyak penduduk dari Kerajaan Majapahit mencari naungan, dan pergi ke Kerajaan Galuh. Lalu kerajaan Galuh akhirnya menerima penduduk kerajaan tersebut dengan tangan terbuka. Mereka pun hidup damai di kerajaan baru mereka, dan banyak penduduk dari Kerajaan Majapahit yang menikah dengan penduduk Kerajaan Galuh.

Fakta tersebut memunculkan kemarahan bagi raja dari Kerajaan Sunda. Raja tersebut berpendapat bahwa Kerajaan Galuh telah berani mengingkari peraturan yang mereka sepakati sebelumnya di antara kedua kerajaan tersebut. Kesepakatannya merupakan larangan agar tidak menikahi penduduk dari Kerajaan Majapahit. Akhirnya kedua kerajaan yang sebelumnya damai berubah menjadi ketegangan di antara keduanya bahkan terancam mengalami peperangan.

Namun peperangan akhirnya dapat dihindari dengan syarat, ketika Kerajaan Galuh dan Kerajaan Sunda harus turun dari tahta, maka mereka harus menunjuk salah satu putra mahkota yang akan dijadikan sebagai pengganti dari kedua raja tersebut.

Kemudian saat tiba waktunya penurunan tahta, kedua raja yang sebelumnya menjabat sama-sama menunjuk satu nama, yakni Pangeran Jayadewata. Setelah itu persengketaan yang pernah terjadi di antara semua pihak telah terselesaikan dengan tuntas dengan cara menyatukan kembali dua kerajaan menjadi di bawah pimpinan satu raja, yakni Jayadewata. Akhirnya Jayadewata mendapatkan gelar Sri Baduga Maharaja atau yang sering diketahui sebagai Prabu Siliwangi dan ia adalah yang mulai memimpin Kerajaan Pajajaran sekitar tahun 1482 M.

Raja di Kerajaan Pajajaran

Sri Baduga Maharaja atau Prabu Siliwangi (1482 – 1521)

Surawisesa (1521- 1535)

Ratu Dewata (1535 – 1543)

Ratu Sakti (1453 – 1551)

Ratu Milakendra (1551 – 1567)

Raga Mula (1567 – 1579)

Peninggalan Kerajaan Padjajaran

Prasasti Cikapundung

Peninggalan Kerajaan Pajajaran yang pertama adalah Prasasti Cikapundung.  Prasasti Cikapundung ditemukan oleh penduduk yang tinggal daerah di sekitar Sungai Cikapundung, Bandung pada tanggal 8 Oktober 2010.

Ciri-ciri yang terdapat dalam batu prasasti ini, terdapat tulisan sunda kuno yang diperkirakan berasal dari abad ke-14. Selain tulisan sunda kuno pada batu prasasti ini pun terdapat beberapa gambar telapak tangan, wajah, telapak kaki dan juga 2 baris huruf sunda kuno dengan tulisan “unggal jagat jalmah hendap” yang dalam Bahasa Indonesia artinya “semua manusia di dunia ini dapat mengalami sesuatu apapun”.

Prasasti Huludayeuh

Peninggalan Kerajaan Pajajaran yang kedua adalah Prasasti Huludayeuh. Prasasti Huludayeuh ini terletak di bagian tengah sawah, Kampung Huludayeuh, Desa Cikalahang, Kecamatan Sumber. Batu prasasti ini sudah sejak dahulu kala diketahui keberadannya oleh penduduk sekitar. Namun para ahli baru mengetahui keberadaan prasasti itu pada September 1991.

Ciri-ciri yang terdapat pada batu prasasti ini terdapat 11 baris tulisan beraksa dengan bahasa sunda kuno. Sayangnya batu Prasasti Huludayeuh ditemukan dalam keadaan yang sudah tidak utuh dengan keadaan beberapa huruf aksara yang juga ikut hilang. Permukaan batu prasasti ini pun tidak dalam kondisi yang mulus karena cukup rusak. Sehingga tulisannya cukup sulit untuk dibaca. Namun secara garis besar, batu prasasti ini menceritakan mengenai Sri Maharaja Ratu Haji di Pakwan Sya Sang Ratu Dewata dengan beberapa usaha untuk membuat makmur negerinya.

Prasasti Pasir Datar

Peninggalan Kerajaan Pajajaran yang ketiga adalah Prasasti Pasir Datar. Batu prasasti ini ditemukan di sebuah perkebunan kopi yang berlokasi di Pasir Datar, Cisande, Sukabumi, pada tahun 1872. Saat ini batu prasasti ini telah tersimpan aman sebagai salah satu koleksi Museum Nasional Jakarta. Batu prasasti ini berbahan dasar dari material batu alam yang masih belum dapat ditranskripsikan sampai saat ini.

Prasasti Perjanjian Sunda Portugis

Peninggalan Kerajaan Pajajaran yang keempat adalah Prasasti Perjanjian Sunda Portugis. Prasasti Perjanjian Sunda Portugis adalah prasasti yang berbentuk tugu batu. Batu prasasti ini berhasil ditemukan pada tahun 1918 di Jakarta. Prasasti ini dibuat sebagai penanda dari perjanjian di antara Kerajaan Sunda dengan Kerajaan Portugis yang dibuat oleh utusan dagang Kerajaan Portugis dari Malaka. Utusan dagang dari Kerjaan Portugis tersebut dipimpin oleh Enrique Leme yang membawa beberapa barang untuk diberikan pada Raja Samian, Sang Hyang Surawisesa seorang pangeran yang menjadi pimpinan utusan Raja Sunda.

Prasasti ini berdiri di atas tanah yang pada waktu itu pun ditunjuk sebagai benteng yang berfungsi juga sebagai gudang milik orang-orang Portugis. Replikas batu prasati ini kini tersimpan sebagai salah satu koleksi di Museum Sejarah Jakarta.

Author