Cerdikawan, sudah siap untuk belajar lagi kan? Kali ini kita akan membahas materi kimia kelas 11. Apa lagi kalau bukan koloid. Apakah kamu sudah familiar dengan istilah ini? Meskipun kamu belum tahu istilahnya, tetapi kamu pasti sudah pernah menjumpainya di kehidupan nyata.

pixabay.com

Koloid secara singkat adalah campuran. Yang dimaksud adalah campuran dari 2 zat berbeda (misalnya cair dan padat) lalu menyatu menjadi sebuah campuran baru. Nah, kamu pasti sering melihat hal ini kan? Coba campurkan saja gula dan air putih.

Air gula berasal dari campuran air dan santan. Campuran ini sudah bisa disebut dengan koloid. Kamu bisa menyebutkan campuran lainnya yang pasti termasuk ke dalam istilah ini. Jadi mari kita pelajari lebih detail.

Pengertian Koloid

Sebelum membahas lebih detail, mari pahami konsep dengan melihat pengertian terlebih dulu. Koloid adalah campuran heterogen yang terdiri atas 2 zat atau lebih yang partikel-partikel zatnya berukuran antara 1 sampai 100 nm itu tersebar merata pada medium zat lain.

Fenomena tersebar itu disebut pula terdispersi. Zat yang terdispersi disebut fase terdispersi, sedangkan zat yang menjadi medium untuk mendispersikan partikel dinamakan medium pendispersi.

Bila dilihat dengan kasat mata, memang campuran akan tampak homogen alias menyatu. Namun, bila dilihat dengan menggunakan mikroskop atau dalam skala lebih kecil, ternyata kedua zat itu tidaklah menyata.

Bahkan kedua zat itu cenderung memisah meskipun tampak bersatu. Ini membuktikan bahwa zat heterogen bila dicampurkan akan tetap heterogen. Bila didiamkan lebih lama akan mulai tampak batas tersebut. Kamu boleh mencobanya nanti.

Koloid ukuran partikelnya lebih besar dibandingkan larutan. Namun, lebih kecil dibandingkan suspensi (larutan kasar). Nah, di dalam kehidupan sehari-hari kita bisa menemukan beberapa campuran yang termasuk ke dalam larutan, koloid, atau suspense.

Yang termasuk larutan adalah larutan gula, larutan garam, alcohol 70%, dan spiritus. Yang termasuk koloid adalah susu, sabun, santan, mentega, mayonnaise, selai, dan lain-lain. Yang termasuk suspense adalah air sungai, campuran air dan pasir, dan lain-lain.

Sudah mampu melihat perbedaan ketiga campuran itu kan? Beda kerapatan akan berbeda pula jenis larutannya. Jadi nanti jangan sampai keliru untuk membedakan tipe campuran di dalam materi kimia.

Perbedaan Jenis Campuran

Mari kita pahami dengan detail mengenai perbedaan ketiga campuran tadi. Perbedaan ini ditentukan oleh besar ukuran zat yang didispersikan. Dilihat dari itu, terdapat 3 macam campuran, yakni:

  • Dispersi kasar (suspensi), partikel zat terdispersi berukuran lebih dari 100 milimikron (100 nm).
  • Disperse halus (koloid), bila partikel zat terdispersi berukuran 1 sampai 100 milimikron (100 nm).
  • Disperse molekuler (larutan sejati), bila partikel zat terdispersi lebih kecil dari 1 nm.

Itulah perbedaan detail dari ketiga campuran di atas. Perbedaan itu disebabkan pula oleh karakter zat yang dicampurkan. Bisa dilihat dari ukuran, kekentalan, dan lain sebagainya. Yang jelas semua memiliki karakter berbeda-beda.

Sifat-Sifat Koloid

koloid
pixabay.com

Sistem ini tentu memiliki karakter khas tersendiri yang membedakan dengan campuran lain. Nah, sifat-sifatnya antara lain:

  • Efek Tyndall
    Partikel-partikel koloid cukup besar, sehingga mampu memantulkan dan menghamburkan sinar di sekitarnya. Fenomena ini dinamakan dengan Efek Tyndall. Larutan maupun suspensi tidak memiliki sifat ini.
  • Gerak Brown
    Bila ada seberkas sinar dipusatkan pada dispersi koloid lalu diamati dengan alat ultramikroskop, akan tampak partikel partkel kecil yang memantulkan sinar dan bergerak secara acak.

    Ini terjadi dikarenakan molekul medium dispersi yang berukuran lebih kecil ini bergerak dengan kecepatan relatif tinggi. Alhasil terjadi tumbukan antara partikel kecil dengan yang lebih besar (berukuran koloid) secara terus menerus pada semua sisi pada saat sama.

    Dan terjadilah gerakan zig-zag secara acak yang sering disebut dengan Gerak Brown.
  • Elektroforesis
    Bila arus listrik tegangan rendah dialirkan pada disperse koloid, maka partikel di dalamnya akan bergerak pada elektroda positif atau negatif. Ini membuktikan bahwa partikel terdispesi di dalam medium pendispersinya memiliki muatan listrik. Nah, gerak partikel menuju medan listrik disebut dengan elektroforesis.
  • Adsorbsi
    Partikel di dalam koloid mampu menarik partikel bermuatan listrik di sekitarnya. Kemampuan menarik ini disebut dengan adsorpsi. Proses yang menerapkan sifat ini terjadi pada pemutihan gula tebu, penjernihan air, dan pembuatan obat norit.
  • Koagulasi
    Muatan listrik dari partikel di dalam campuran ini membantu menstabilkan sistem. Bila muatan listrik hilang, partikel menjadi tidak stabil dan membentuk gumpalan. Proses pembentukan gumpalan disebut koagulasi.

    Bila gumpalan menjadi besar, akhirnya akan mengendap yang dipengaruhi oleh pengaruh gravitasi.

Macam-Macam Koloid

Medium pendispersi dan fase terdispersi bisa berupa zat padat, zat cair, atau zat gas. Nah, berdasarkan fase dan medium pendispersi, terdapat beberapa kelompok sistem, antara lain:

  • Sol
    Sistem yang terbentuk dari fase terdispersi berupa zat padan dan fase pendispersi berupa zat cair. Contohnya: sol emas, cat, dan tinta.
  • Sol Padat
    Sistem ini terbentuk dari fase terdispersi berupa zat padat dan fase pendispersi berupa zat padat pula. Contohnya: gelas berwarna-warni dan intan berwarna hitam.
  • Emulsi
    Sistem ini terbentuk dari fase terdispersi berupa zat cair dan fase pendispersi berupa cairan. Contohnya: susu, minyak ikan, dan santan.
  • Emulsi Padat
    Sistem ini terbentuk dari fase terdispersi berupa zat cair dan fase pendispersi berupa zat padat. Contohnya: mutiara, keju, dan jelly.
  • Aerosol Cair
    Sistem ini terbentuk dari fase terdispersi berupa zat cair dan fase pendispersi berupa gas. Contohnya: awan, kabut, dan hair spray.
  • Aerosol Padat
    Sistem ini terbentuk dari fase terdispersi berupa zat padat dan fase pendispersi berupa gas. Contohnya: debu dan asap.
  • Buih
    Sistem ini terbentuk dari fase terdispersi berupa zat gas dan fase pendispersi berupa zat cair. Contohnya: rim kocok dan buih sabun.
  • Buih Padat
    Sistem ini terbentuk dari fase terdispersi berupa gas dan fase pendispersi berupa zat padat. Contohnya: batu apung dan karet busa.

Pembuatan Koloid

koloid
pixabay.com

Ada dua cara pembuatan koloid yakni secara kondensasi dan dispersi, penjabarannya di bawah ini:

  1. Kondensasi
    Partikel-partikel kecil (larutan) bergabung menjadi partikel lebih besar, dilakukan dengan cara reaksi redoks, hidrolisis, dekomposisi rangkap, dan penggantian pelarut.
  2. Dispersi
    Yakni partikel-partikel besar (suspense) dipecah menjadi partikel lebih kecil, dapat dilakukan dengan cara mekanik (digerus), peptisasi (dipecah) , dan dengan busur Bredig.

Itulah penjelasan terlengkap seputar koloid. Ternyata ada banyak sekali barang yang terinspirasi dari campuran ini. Kelak bila ingin membuat sebuah inovasi, kamu bisa menerapkan prinsip dari campuran ini juga.

Semoga artikel ini bermanfaat dan cukup mudah untuk dipahami. Semoga berhasil dalam mempelajari materi kimia ini.

Baca juga :
1. Konfigurasi Elektron: Materi dan Penjelasan Terlengkap
2. Ini Lho Tabel Periodik Unsur yang Tepat!

Author