Pinterkelas kali ini akan membahas perihal yang sedikit berat. Tapi bukan rindu ya cerdikawan, hehe. Yap, mengenali langkah-langkah penelitian ilmiah serta menerapkannya dengan benar. Agar mampu mencapai hasil yang luar biasa. Mungkin, cerdikawan sedang mencari bahasan ini?

Secara umum penelitian ilmiah terdiri dari dua tahapan. Kendati memiliki kemiripan, faktanya dua fase ini begitu berbeda. Sedikitnya ada dua hal yang dapat dijadikan tolok ukur perbedaan dari penelitian tersebut. Cerdikawan bingung?

Jika iya, jangan beranjak dulu ya. Baca hingga habis, siapa tahu langkah-langkah penelitian ilmiah ini cerdikawan butuhkan. Siap menerima penjelasan, yuk stay tune!

11 Metode / Langkah-langkah Penelitian Ilmiah

Melaksanakan penelitian tentunya memiliki rancangan aktivitas. Maupun definisi mobilitas yang akan dilakukan. Selain itu, juga wajib menerapkan prinsip metode ilmiah. Agar kesemuanya berjalan dengan lancar. Berikut metode yang harus dijalankan;

1. Menentukan Rancangan Juga Desain Penelitian

Rancangan ini umum disebut sebagai desain. Desain ini termasuk prosedur maupun langkah aplikatif yang berfungsi sebagai pedoman. Khususnya dalam melaksanakan penelitian ilmiah bagi peneliti itu sendiri.

Rancangan ini harus dibuat secara gamblang dan terbuka. Sehingga memungkinkan orang lain dapat meniru serta membuktikan kenyataan atas penelitian yang dilakukan.

2. Proses Identifikasi Dan Perumusan Masalah

Langkah-langkah penelitian ilmiah kedua ini ialah mengidentifikasi hingga merumuskan masalah. Hal ini penting, karena sebagai basis data agar nantinya bersesuaian dengan fakta yang ada di lapangan.

Umumnya hal ini didasarkan oleh background problem yang real terjadi. Selain itu, identifikasi problem ini bisa dirumuskan melalui sebuah kalimat bersifat deklaratif. Sedangkan rumusan masalah ini bisa ditulis melalui sebuah list pertanyaan.

3. Menentukan Subjek Penelitian

Metode ketiga ini ialah menentukan apa maupun siapa objek penelitian. Dalam merumuskan hal ini wajib diperhatikan secara teliti. Seorang peneliti juga diwajibkan untuk bersikap hati-hati pada objek penelitian ilmiah ini.

Pasalnya, meskipun nantinya hanya mengambil sedikit sampel dari populasi penelitian, misalnya. Tetap saja keseluruhan proses akan dijalani dan disesuaikan dengan fakta yang ada. Pengambilan sampel yang tak tepat tentu akan menghasilkan resume atau kesimpulan yang salah pula.

4. Studi Pendahuluan

Melakukan langkah-langkah penelitian, diantaranya studi pendahuluan bisa cerdikawan lakukan. Studi ini berguna untuk menilik rekam jejak hingga memahami kajian pustaka. Sebagai bahan untuk menyusun landasan teori. Yang mana banyak diperlukan untuk menyokong pembentukan hipotesis.

Melalui hal ini, rangkaian penelitian dinilai lebih fokus pada problem yang diteliti. Pun dengan data yang nantinya bakalan diperlukan.

5. Analisis Data

Sama halnya merumuskan serta mengidentifikasi masalah. Melakukan analisa data dinilai memiliki peranan cukup penting. Data disini bisa berupa apa saja, tergantung pada jenis data tersebut.

Apabila penelitian kualitatif, maka data yang djperlukan juga kualitatif pula. Bahkan, jika dibutuhkan penggunaan statistik dalam olah data maupun analisanya bisa dilakukan.

6. Merumuskan Hipotesis

Hipotesis ini ihwal dilakukan dalam langkah-langkah penelitian ilmiah. Khususnya yang bersifat kuantitatif. Dengan mencanangkan hipotesis, maka peneliti akan lebih berkonsentrasi atas problem yang diangkat.

Atau lebih tepatnya, melalui hipotesis peneliti tak membutuhkan data yang sebetulnya tidak diperlukan. Pasalnya, data ini diambil hanya yang berhubungan langsung dengan hipotesis. Jika cedikawan tahu, hipotesis erat hubungannya dengan anggapan dasar. Anggapan dasar ini ialah resume yang keabsahannya mutlak. Sehingga tidak ada keraguan lagi ketika seseorang membacanya kemudian hari.

7. Definisi Operasional Variabel Serta Identifikasinya

Variabel dalam sebuah riset ilmiah ditengarai sebagai fenomena, yang mungkin atau tak mungkin terjadi karena adanya faktor fenomena lain. Variabel ini dibutuhkan agar masalah yang sedang diangkat sebagai bahan riset jelas juga terukur secara rinci.

Setelah melalui fase ini, seorang peneliti akan membuat sebuah definisi terkait operasional variabel. Yakni, sesuai dengan implikasinya. Definisi ini ihwal dikreasikan oleh sang peneliti sendiri. Yang perlu digarisbawahi ialah, definisi operasional ini tidak sama dengan definisi konseptual. Yang umum didasarkan atas suatu teori tertentu.

8. Mengembangkan Instrumen Riset

Sampai disini, tentunya Langkah-langkah penelitian ilmiah bisa membuka wawasan cerdikawan kan? Ya, instrumen riset ini biasa dipakai untuk mengumpulkan data yang diperlukan.

Aneka teknik juga alat untuk proses pengumpulan data bisa disesuaikan dengan tujun riset itu sendiri. Pasalnya, intrumen ini juga mempunyai kelemahan dan kelebihan sendiri-sendiri.
Maka dari itu sebelum menentukannya cerdikawan harus melakukan banyak pertimbangan.

Salah satunya ialah, sinkronisasi dengan problem riset yang ingin diatasi. Kendati demikian, tidak semua alat maupun instrumen pengumpul bisa pas. Ketika dipakai untuk bahan riset tertentu.

9. Merealisasikan Penelitian

Jika kedelapan metode tersebut telah dilakukan, kini saatnya merealisasikan riset. Penelitian ini bisa diselenggarakan secara detail, teliti dan cermat. Hal ini dikarenakan berhubungan langsung dengan data yang telah dikumpulkan.

Yang mana nantinya berpengaruh pada keabsahan maupun hasil real kualitasnya. Tak menampik, ada banyak hal yang terkadang mengecoh seorang peneliti. Sebab, saat melakukan penelitian ada sejumlah data yang terlihat begitu krusial dan berharga.

Menerapkan langkah-langkah penelitian ilmiah ini memang harus ditaati dan dilakukan secara disiplin. Nah, cedikawan bisa mengambil data atas subjek riset yang dibedakan menjadi dua jenis. Antara lain;

a. Data Tak Langsung

Data ini umumnya didapat dengan memanfaatkan beragam media. Atau dengan kata lain peneliti tidak berhubungan langsung dengan subjek riset. Misalnya memakai sambungan telepon, media lain sebagai surveinya.

b. Data Langsung

Kebalikan dari jenis pertama, data ini mengharuskan peneliti untuk berkontak secara langsung. Yaitu, dengan subjek riset sehingga data yang didapatkan langsung dari sumber data yang valid.

10. Menyusun Laporan Penelitian Hingga Melakukan Desiminasi

Setelah melakukan penelitian, cerdikawan wajib menyusun resume atau laporan terkait hasilnya. Susunan laporan hingga pembuatan desiminasi ini dinilai sebagai langkah finish ketika riset dilakukan.

Yang perlu cerdikawan ketahui, format laporan ilmiah kerapkali telah dibakukan. Yakni, berdasarkan pada institusi maupun pemberi sponsor di mana penelitian tersebut melakukannya. Desiminasi ini bisa dilaksanakan dalam bentuk seminar ataupun menuliskannya berupa jurnal-jurnal riset.

Hal ini penting dilakoni, agar hasil riset diketahui oleh khalayak ramai. Serta mampu dipergunakan jika dibutuhkan.

11. Menyimpulkan Hasil Riset, Termasuk Pembahasan

Aktivitas ini biasanya dilakukan guna menjawab pertanyaan dari rumusan problem riset. Yang mana dinilai sinkron dengan hasil analisis data yang telah dilakoni. Ketika melakukan sebuah pembahasan, bisa berarti peneliti sedang melakukan interpretasi juga diskusi dari hasil riset tersebut.

Sebab, kedua hal ini ialah inti dari sebuah riset ilmiah. Dalam riset ilmiah melalui pengajuan hipotesis, maka pada tahapan inilah nantinya ditentukan. Apakah, hipotesis ditolak atau diterima beserta alasan penyertanya.

Jika, hasil riset dinilai mendukung atau menolak suatu teori maupun prinsip. Yang demikian itu wajib menyertakan pembahasan berupa alasan yang mendasarinya. Lebih tepatnya, pembahasan riset harus mampu dikembalikan pada teori. Yang mana telah menjadi pedoman atau sandaran riset ilmiah yang telah dilaksanakan.

Nah, makin jelas kan dalam melaksanakan langkah-langkah penelitian ilmiah ini? Sudah siap untuk menyusunya?

Author