Cerdikawan, Pinter Kelas telah membahas tentang pasar dan jenis-jenisnya beberapa waktu lalu. Pasar yang diartikan sebagai tempat transaksi jual beli, tawar menawar, secara langsung dan tidak langsung memang terus berkembang. Kini ada pula istilah pasar monopolistik.

Wah, apa yang dimaksud dengan pasar monopolistik ya? Kalau ada mono, ada pulakah pasar polipolistik atau oligopolistik?

Mengenai beberapa hal di atas, Pinter Kelas akan membahasnya kali ini. Tentu saja seperti biasa, pembahasan lengkap seputar: pengertian pasar monopolistik, ciri, kelebihan, dan kekurangannya.

Pengertian Pasar Monopolistik

Jenis pasar ini memang tidak dimasukkan dalam materi dasar ekonomi di sekolah menengah pertama. Namun, di tingkat lanjutan pembahasannya sangat lengkap.

Jenis pasar yang di dalamnya ada monopolistik didasarkan pada persaingan yang terjadi di dalamnya.

Dalam banyak literatur, ada dua pasar berasarkan persaingannya, yaitu sempurna dan tidak sempurna.

Monopolistik termasuk kepada pasar persaingan sempurna, tetapi tidak murni. Selain monopolistik, ada pasar oligopolistik dalam persaingan sempurna. Namun, kali ini Pinter Kelas hanya membahas sesuai judul.

Secara definisi, pasar monopolistik adalah sebuah tempat terjadinya jual beli dan tawar menawar di mana produk yang ditawarkan hampir homogen atau hampir sama. Yang membedakannya, kualitas, keunikan, dan harga.

Ciri atau Karakteristik Pasar Monopolistik

Agar kamu dapat membedakan berbagai jenis pasar persaingan, berikut adalah ciri-ciri pasar monopolistik.

1. Ada Banyak Penjual

Ciri pertama pasar monopolistik adalah adanya banyak penjual, serupa tetapi tidak sama.

Kamu tahu Pasar Tanah Abang? Apa yang dijual di sana? Berapa banyak penjualnya?

Hampir semua toko menjual produk sama. Sandang dari mulai untuk bayi hingga dewasa dan berbagai keperluan.

Yang membedakan antar toko dan lainnya adalah model, bahan, kualitas, dan harga. Mereka saling bersaing dengan itu.

2. Mudah Keluar Masuk Pasar

Pasar dengan banyak produsen lebih bebas daripada yang sedikit.

Di sini, siapa saja dapat ikut masuk dan bersaing. Setelah itu, jika dianggap tidak menguntungkan siapa saja dengan bebas dapat keluar.

Dalam pasar, yang diperlukan adalah inovasi dan kreativitas untuk tetap bertahan, sekaligus mental usaha yang harus terjaga.

3. Barang yang Dijual Terdiferensiasi

Di atas telah disebutkan bahwa produk yang dijual di monopolistik serupa tetapi tidak sama.

Sama-sama baju tetapi mempunyai merek dan model sedikit berbeda. Model sama tetapi bahannya berbeda. Bahkan, detil seperti kancing dan jahitan sering kali harus dicermati sebagai sesuatu yang tidak sama.

Yang paling mudah dilihat misalnya merek sepatu ternama. Kamu mungkin mengenal Nike, Adidas, Puma, dan sekelasnya.

Sepintas semua merek mirip. Namun, ada ciri khas masing-masing di setiap merek. Misalnya, ada goresan atau bentuk seperti huruf N di setiap produk Nike.

4. Produsen Menentukan Harga

Setiap produsen dalam pasar mempunyai keleluasaan dalam menentukan harga. Mereka mungkin saja menentukan harga berdasarkan target pasar. Setelah itu, barulah harga ditentukan kualitas dan model. Bahkan, kemasan produk dapat membedakan harga.

Kamu tahu, apa beda keripik pisang biasa yang dijual di pasaran dengan keripik pisang dengan kemasan seperti hadiah? Meski sama-sama keripik pisang, kelas pasar akan berbeda berdasarkan kemasannya.

Namun, untuk produk dengan merek dan kualitas yang sama, seperti sepatu Adidas dan Nike, kenaikan pada harga memungkinkan turunnya permintaan. Harga Adidas melambung, permintaannya akan menurun dan Nike akan meningkat. Konsumen akan mencari barang subtitusi yang hampir mirip.

5. Iklan atau Promosi Memegang Peranan Penting

Dengan banyaknya pesaing dengan produk yang hampir mirip, iklan dan promo menjadi faktor penting.

Iklan mengedukasi pasar tentang produk yang dimiliki. Contoh, produk keripik pisang dengan kemasan kotak indah. Iklan membuat orang tahu keberadaannya. Setelah itu, konsumen dibuat merasa memerlukannya. Keripik pisang yang sederhana menjadi cocok dibawa sebagai buah tangan, hadiah, dan seserahan pernikahan.

Promo menjangkau pangsa pasar lebih luas. Apalagi promo melalui digital marketing.

6. Perusahaan Menghasilkan Laba Normal

Di pasar monopolistik, persaingan sangat tinggi. Akibatnya, dalam jangka pendek perusahaan tidak dapat memperoleh laba maksimal.

Laba tersebut dapat diperoleh jika perusahaan dapat bertahan dalam jangka panjang. Namun, setelah itu tidak ada kenaikan laba yang signifikan.

Yuk, Kenali Kelebihan dan Kekurangan Pasar Monopolistik

Cerdikawan, mungkin berpikir manfaat dari pelajaran ini dalam kehidupan. Sangat penting lho! Apalagi buat kamu yang berniat menjadi pengusaha atau bekerja wirausaha. Selain itu, ini juga sangat bermanfaat untuk bagian marketing, inovasi produk, dan lain-lain dalam sebuah perusahaan. Yah, tentunya agar produk dapat bersaing di pasaran dong!

So, kamu juga harus tahu kelebihan dan kekurangan pasar monopolistik. Yuk, disimak dan dipahami ya!

Kelebihan Pasar Monopolistik

A. Bagi Konsumen

  • Banyak Pilihan
    Konsumen dapat memilih sesuai kebutuhan dan kesukaan produk yang dibeli. Jika belanja online, konsumen akan bebas mencari terlebih dahulu produk yang diinginkan dari berbagai toko dan membandingkannya.
  • Mudah
    Produsen dan produknya yang banyak sangat memudahkan konsumen. Bagi konsumen yang sudah puas dengan produk dengan merek tertentu, dia akan menjadi pelanggan. Mengapa? Karena mencari toko yang tepat dan membandingkannya akan membutuhkan waktu tersendiri.

B. Bagi Produsen

  • Selalu Berinovasi
    Dengan banyaknya pesaing, produsen dituntut untuk selalu kreatif dalam berinovasi. Berbagai produk dengan model terbaru akan dimunculkan. Begitu pula inovasi dalam bentuk lain, seperti pengemasan dan iklan.
  • Modal Berputar Lebih Cepat
    Biasanya di pasar ini produsen menjual produk secara cash. Produk yang dijual kebanyakan kebutuhan sandang dan papan. Meski laba kecil, modal berputar lebih cepat. Dengan demikian kebutuhan sehari-hari terpenuhi.

Kekurangan Pasar Monopolistik

Kekurangan jenis pasar ini paling dirasakan oleh produsen, yaitu:

  • Pengalaman dan Modal Harus Kuat
    Bersaing di pasar yang daya saingnya seperti monopolistik memerlukan pengalaman. Pengalaman yang membuat produsen jeli melihat kebutuhan pasar dan mewujudkannya dalam produk.

    Selain pengalaman, modal juga harus besar. Untuk menghasilkan harga yang bersaing, produk harus dibuat dalam jumlah banyak. Meski laba juga lebih besar, modal harus kuat.
  • Biaya Produksi Tinggi
    Inovasi produk perlu research dan development. Ini perlu divisi dengan biaya sendiri.

    Untuk membuat baju dengan model terbaru misalnya, produsen harus membuat sampel di konveksi. Jika sampel bagus baru akan dibuat dalam jumlah besar. Jika tidak? Produsen berupaya berinovasi membuat yang lain.
  • Adanya Biaya Promosi
    Terakhir, sesuai cirinya di sini mutlak memerlukan promosi. Untuk produsen baru atau yang baru meluncurkan produk baru, harus ada biaya promosi. Biaya ini mungkin sedikit atau besar, tetapi harus dianggarkan.

    Meski demikian, promosi tidak pernah sia-sia. Konsumen akan mengingatnya dalam jangka panjang.

Sementara itu, kekurangan dari sisi konsumen yang paling besar adalah harga yang harus dibayar lebih mahal. Itu dikarenakan perusahaan mengeluarkan biaya modal, produksi, dan promosi tinggi. Semuanya harus ditutupi dan ditambah laba.

Demikian Cerdikawan, uraian lengkap tentang pasar monopolistik. Sudah terbayang bukan apa saja contohnya? Selamat belajar!

Author