Haaaaai Cerdikawan! Jika ada soal yang bertanya mengenai pengertian integrasi sosial, kira-kira apa jawaban dari kalian? Atau justru, kalian sedang mencari apa itu pengertian integrasi sosial? Nah, kali ini PinterKelas akan mengajak kalian untuk memahami lebih jauh mengenai pengertian integrasi sosial nih! Tidak hanya memahami pengertian integritas sosial tapi juga membahas mengenai faktor penentunya, bentuk-bentuk dan contohnya. Silakan disimak ya!

Pengertian Integrasi Sosial: Etimologis

Berdasarkan etimologisnya integrasi berasal dari Bahasa Inggris dengan asal kata, ‘integrate’ yang memiliki makna dalam Bahasa Indonesia sebagai, ‘memberi tempat bagi suatu unsur demi suatu keseluruhan’, ‘menyatupadukan’, ‘menggabungkan’, ‘mempersatukan’. Sedangkan sosial berasal dari kata ‘social’. Maka pengertian integritas sosial secara garis besar adalah hal yang membuat segala komponen kemasyarakatan menjadi satu padu atau menjadi satu kesatuan.

Pengertian Intergrasi Sosial: KBBI

Berdasarkan etimologisnya integrasi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah sebagai berikut:

Integritas adalah suatu mutu, sifat, atau keadaan yang menunjukkan kesatuan yang utuh sehingga memiliki potensi dan kemampuan yang memancarkan kewibawaan; kejujuran. Sedangkan, sosial adalah hal yang berkenaan dengan masyarakat. Maka dapat ditarik kesimpulan bahwa pengertian integrasi sosial adalah suatu keadaan yang menunjukkan kesatuan utuh sehingga memciptakan kedamaian di tengah kehidupan bermasyarakat.

Pengertian Integrasi Sosial: Para Ahli

Berikut ini merupakan pengertian integrasi sosial menurut sudut pandang para ahli di bidang ilmu sosiologi. Antara lain adalah :

John Lewis Gillin

Pengertian integrasi sosial menurut pandangan seorang sosiolog asal Amerika, John Lewis Gillin, merupakan sebuah fenomena sosial yang terjadi karena adanya proses sosial. Hal utama yang mendasari integrasi ini adalah akibat adanya perbedaan budaya, emosional, perilaku, serta keinginan yang akhirnya menimbulkan aspek masalah sosial sehingga dengan menyadari hal ini masyarakat akan melakukan proses perdamaian yang dikenal dengan integrasi.

Soerjono Soekanto

Menurut ahli sosiologi asal Indonesia, Soerjono Soekanto, ia memberikan pengertian integrasi sosial sebagai salah satu bentuk proses sosial yang dilakukan oleh berbagai pihak di dalam mengatasi permasalahan dalam kehidupan bermasyarakat. Permasalahan ini bisa dilatarbelakangi karena adanya kekerasan, konflik sosial, dan juga ancaman dari pihak lain atau kelompok lain.

Maka, berdasarkan pengertian integrasi sosial menurut para ahli, garis besar yang dapat ditarik dari pemikiran-pemikiran tersebut adalah bahwa dalam integrasi sosial, masyarakat mengambil sikap untuk bekonsolidasi atau bersatu dalam upaya menyelesaikan permasalahan perbedaan yang diakibatkan oleh suatu ancaman serangan dari pihak luar. Jadi, adanya proses integrasi sosial dalam masyarakat tidak dapat dilakukan begitu saja tanpa adanya sejumlah peristiwa yang melatarbelakangi adanya proses integrasi sosial.

visualisasi intergitas sosial

Faktor Penentu Integrasi Sosial

Seperti yang telah dipaparkan pada poin sebelumnya, proses integrasi sosial tidak dapat dilakukan begitu saja tanpa adanya sejumlah peristiwa yang melatarbelakangi terjadinya integrasi sosial. Maka dari itu terdapat faktor-faktor penentu proses integrasi sosial. Faktor-faktor yang berpengaruh dalam proses integrasi sosial tersebut dapat dibedakan menjadi 2 bentuk, yakni adalah faktor internal dan eksternal. Berikut merupakan beberapa faktor penentu yang turut memengaruhi proses integrasi sosial, antara lain :

Faktor Internal

  1. Kesadaran diri sebagai makhluk sosial
  2. Merasa membutuhkan adanya proses tersebut dalam kehidupan bermasyarakat
  3. Semangat gotong royong dan persatuan di tengah perbedaan

Faktor Eksternal

  1. Tuntutan perkembangan jaman
  2. Persamaan kebudayaan
  3. Terbukanya kesempatan berpartisipasi dalam kehidupan bersama
  4. Persaman visi, misi, dan tujuan
  5. Sikap toleransi
  6. Adanya konsensus nilai
  7. Adanya tantangan dari luar

Faktor Penentu Menurut Ramlan Surbakti

Munurut Prof. Dr. Ramlan Surbakti, ada kurang lebih setidaknya 9 faktor penentu yang dapat memengaruhi kelompok masyarakat terintegrasi dalam komunitas bersama. Faktor tersebut di antaranya adalah :

Primodial

Primodal merupakan identitas bersama dalam suatu komunitas atau kelompok tertentu yang dapat terbentuk dengan adanya ikatan asal kedaerahan, kekerabatan, kesamaan suku, ras, tempat tinggal, bahasa atau adat.

Sakral

Sakral yang dimaksud dalam konsep faktor penentu intergritas sosial adalah ikatan-ikatan religius yang dipercayai sebagai hal yang berkaitan dengan kebenaran mutlak. Sakral dalam arti sebagai suatu keyakinan masyarakat yang bersifat sakral terwujud dalam agama dan kepercayaan kepada hal-hal tertentu yang bersifat supranatural.

Tokoh Masyarakat

Integrasi sosial dapat tewujud ketika dalam suatu lingkungan masyarakat terdapat tokoh pemimpin yang disegani atau dihormati yang berperan berdasarkan figurnya di tengah masyarakat.

Bhineka Tunggal Ika

Bhineka tunggal ika dilihat sebagai pemersatu bangsa yang majemuk untuk mencapai integritas suatu bangsa. Dalam konsep ini biasanya bangsa di dalam suatu negara terdiri atas kelompok-kelompok atas dasar suku, agama, ras,  dan antargolongan yang tersegmentasi ke dalam kelompok-kelompok yang antara kelompok satu dan lainnya tidak saling melengkapi akan tetapi justru lebih bersifat kompetitif.

pengertian integritas
foto oleh Rob Curran

Perkembangan Ekonomi

Dalam konsep ini, perkembangan ekonomi turut menciptakan pembagian kerja serta spesialisasi profesi yang mendukung kelangsungan fungsi sistem ekonomi, yaitu menghasilkan barang dan jasa.

Homogenitas Kelompok

Kemajemukan sosial selalu mengisi setiap lini kehidupan sosial. Hanya saja setiap kehidupan sosial akan memiliki intensitas yang berbeda. Integrasi antarkemajemukan sosial ini akan tercapai jika antarelemen pembentuk struktur sosialnya berusaha membentuk integritas sosial dengan menekankan kesadaran untuk mengurangi intensitas perbedaan masing-masing elemen sosial tersebut.

Besar Kecilnya Kelompok

Pada saat suatu kelompok dengan kondisi kehidupan sosial yang relatif kecil, maka akan mudah mencapai integrasi sosial jika dibandingkan dengan kelompok yang memiliki intensitas perbedaanya lebih besar.

Mobilitas Sosiogeografis

Mobilitas sosiogeografis memiliki arti sebagai perpindahan manusia dari satu tempat ke tempat lainnya dengan berbagai latar belakang tujuan. Pada umumnya mobilitas sosiogeografis di Indonesia di dominasi oleh tingginya tingkat urbanisasi, yaitu perpindahan penduduk dari desa ke kota.

Efektifitas dan Efesiensi Komunikasi

Tingkat efektivitas dan efesiensi komunikasi sosial akan sangat memengaruhi cepat lambatnya integrasi sosial. Alsannya adalah karena komunikasi merupakan salah satu modal utama agar terjadinya sebuah interaksi. Sedangkan interaksi merupakan syarat utama terjadinya integrasi sosial.

pengetian integritas
foto oleh Doug Swinson

Bentuk Integrasi Sosial

Berdasarkan pemikiran dari salah satu sosiologi Indonesia, Prof. Dr. Paulus Wirutomo, M.Sc., integrasi sosial yang ada di dalam kehidupan bermasyarakat dibedakan menjadi tiga bentuk. Bentuk integrasi sosial antara integrasi sosial normatif, fungsional, koersif.

Berikut merupakan uraian mengenai bentuk-bentuk integrasi sosial yang terdapat di masyarakat, antara lain adalah ;

Integrasi Normatif

Integrasi sosial dalam bentuk normatif adalah integrasi yang terbentuk karena adanya kesepakatan berdasarkan nilai, norma, kehendak bersama, dan rasa solidaritas yang tumbuh dari antaranggota masyarakat itu sendiri. Integrasi normatif  ini terjadi pada masyarakat dengan sifat solidaritas mekanik (masyarakat sederhana). Integrasi sosial ini dekat kaitannya dengan unsur-unsur budaya sehingga sering disebut juga sebagai integrasi budaya.

Contoh masyarakat dengan integrasi normatif atau budaya ini sering ditemui pada suku pedalaman di Indonesia, khususnya di Kalimantan Barat yang memiliki kehidupan sederhana di tengah keberagaman masyarakat dari suku Jawa, Madura, dan Dayak. Proses terbentuknya integrasi sosial normatif atau budaya di Kalimantan Barat ini salah satunya dilatarbelakangi oleh adanya konflik sosial. Suku Dayak dan suku Madura memiliki sejarah yang kurang baik jika dilihat dari sejarahnya. Maka, dengan timbulnya kesadaran pentingnya menumbuhkan solidaritas mekanik demi melawan dampak negatif atas perpecahan, mayarakat Kalimatan Barat melakukan proses integrasi sosial.

Integrasi Fungsional

Integrasi sosial dalam bentuk integrasi fungsional yaitu integrasi yang terbentuk berdasarkan kerangka perspektif fungsional, yaitu melihat masyarakat sebagai sebuah sistem yang terintegrasi. Integrasi fungsional berkembang dalam masyarakat yang memiliki tingkat mobilitas atau kinerja yang tinggi (masyarakat urban). Integrasi fungsional ini menunjukkan adanya bentuk integrasi yang dalam prosesnya dilakukan karena suatu kebutuhan tertentu (ketergantungan fungsional). Contoh dalam integrasi fungsional ini dapat dilihat dalam masyarakat kota Jakarta misalnya. Kehidupan masyarakat antara suku asli yang hidup di kota Jakarta misalnya suku Betawi dan suku Sunda dengan masyarakat pendatang dari berbagai daerah ke Jakarta.

Integrasi Koersif

Integrasi sosial dalam bentuk integrasi koersif merupakan integrasi yang prosesnya tidak berasal dari hasil kesepakatan normatif maupun ketergantungan fungsional. Integrasi koersif merupakan proses integrasi dari hasil kekuatan yang mengikat masyarakat dengan paksa.

Integrasi koersif terbentuk berdasarkan paksaan dan pihak-pihak yang memiliki kuasa penuh dari sebuah lembaga sosial. Contoh dalam integrasi sosial koersif ini misalnya saja dalam kajian Lembaga Hukum, yang memiliki sifat mengikat dan tegas kepada semua pihak berlawanan tanpa pandang bulu siapa lawannya.

Sumber: https://www.gurupendidikan.co.id/, http://dosensosiologi.com/

Author