Cerdikawan, kamu tentu sering mendengar kata proses sosial dalam kehidupan sehari-hari. Beberapa bentuknya, jika kamu sudah ketahui, ternyata sudah dipelajari sejak kamu duduk di bangku sekolah dasar. Namun, jika ditanya secera terperinci pengertian dan hubunganya dengan interaksi sosial yang juga sering ditemukan dalam pelajaran ilmu sosial, sulit untuk menyatakannya.

Beberapa tulisan di media massa menyebutkan proses dan interaksi sosial merupakan suatu hal yang sama alias bersinonim dalam bahasa.

Benarkah demikian? Yuk, simak pembahasan tentang proses sosial di Pinter Kelas kali ini! Dijamin deh, kamu tidak akan menyesal karena penjelasannya lengkap dan jelas.

Pengertian Proses Sosial

Ilmu sosial memang sering kali disebut sebagai ilmu tidak pasti atau noneksakta. Ini dikarenakan setiap pembahasannya mungkin saja berbeda tergantung seseorang menerjemahkan asal kata dan menempatkan diri di posisi mana.

Oleh karena itu, tidak heran jika satu atau dua kata saja, dalam bahasa ilmu sosial mempunyai makna lebih dari satu. Hal tersebut tergantung tokoh yang mengemukakan teori. Begitu pula dengan pengertian proses sosial. Di bawah ini pendapat beberapa ahli mengenai proses yang terjadi pada masyarakat.

1. MacLyver

MacLyver adalah seorang ahli sosiologi yang terkenal.

Menurutya proses ini merupakan pola perilaku di mana relasi sosial antar individu dan individu, individu dengan kelompok, dan antar kelompok sehingga menghasilkan karakteristik yang khas. Karakteristik tersebut berupa adat-istiadat dan budaya yang berupa perubahan kondisi. Perubahan dari atas ke bawah dan sebaliknya, berkembang atau mundur, dan disintegrasi atau integrasi.

2. Ginsbers

Ahli sosiologi lain, Ginbers mendefinisikan pengertian di atas sedikit berbeda. Proses ini disebut sebagai jenis interaksi yang dilaksanakan oleh individu atau kelompok dengan tujuan membangun kerjasama, konflik, integrasi, pengembangan, atau hilangnya hubungan sosial.

3. Gillins

Menurut Gillins, proses sosial adalah cara-cara berinteraksi yang dapat diamati ketika individu dengan individu, atau dengan kelompok saling bertemu dan menciptakan sistem relasi. Sistem yang memungkinkan terjadinya perubahan atau mendisrupsi kehidupan sebelumnya.

Berdasarkan ketiga pengertian di atas dan beberapa lainnya yang tidak dikemukakan di atas, proses berhubungan erat dengan interkasi. Di mana terjadi hubungan antar dan antara individu yang ada dengan sesama atau kelompok.

Jadi, proses adalah kejadian atau berlangsungnya cara mencapai tujuan yang dilakukan setelah adanya interaksi. Meski beberapa orang menganggap keduanya hal yang sama atau bersinonim, pada dasarnya berbeda, tetapi saling melengkapi.

Bentuk Proses Sosial dan Contohnya

Banyak ahli mengelompokkan bentuk proses sosial. Yang paling banyak dijadikan referensi adalah pendapat Park dan Burgess. Keduanya membagi proses ini menjadi empat, berdasarkan cara memperoleh sumber daya yang terbatas.

Empat macam bentuk di atas, yaitu:

1. Kompetisi atau Persaingan

Kompetisi atau persaingan atau perlombaan, merupakan bentuk proses sosial di mana individu atau kelompok yang memperebutkan sumber daya yang terbatas.

Kompetisi ini, seperti yang kamu ketahui, bisa saja sehat dan tidak.

Kompetisi atau persaingan yang sehat bila mana semua pesertanya menjalankan proses dengan cara-cara yang baik. Sebaliknya, di kompetisi tidak sehat adalah menghalalkan segala cara. Peserta harus menang meski curang dan mengorbankan orang lain.

Kompetisi, secara tidak disadari sering kali hadir dalam kehidupan. Kamu antri memperoleh tiket, berprestasi di sekolah, dan bersaing dalam olahraga termasuk dalam bentuk bentuk yang positif.

Kecurangan dalam kompetisi misalnya menyontek agar mendapat nilai bagus, membeli soal dan jawabannya ujian yang akan ditempuh. Selain itu, calon mahasiswa menggunakan calo atau joki, juga merupakan bentuk kompetisi negatif.

Jadi, di sekolah, di rumah, di lingkungan masyarakat, kamu selalu berkompetisi tanpa disadari.

Bagi beberapa orang kompetisi baik untuk menunjang karir dan meningkatkan motivasi.

2. Konflik

Dalam perebutan sumber daya yang terbatas, individu dan kelompok sering kali melakukan kekerasan dan ancaman. Hal tersebut dalam ilmu sosial disebut sebagai proses atau hubungan antar anggota masyarakat yang mengarah pada konflik.

Sama dengan kompetisi, konflik juga tentu sering terjadi. Masyarakat dengan individu dan kelompok yang berbeda sering mengalaminya. Beberapa orang menyebutnya sebagai bagian dari dinamika atau perubahan sosial. Di mana sesuatu yang terjadi dalam sistem sosial, wajar jika ada yang pro dan kontra.

Dua orang atau kelompok yang sedang konflik mudah sekali tersulut karena sistem sosial sedang tidak stabil.

Konflik tidak selalu mengarah kekerasan secara fisik, meski banyak yang demikian.

Contoh konflik, perseteruan antar dua kampung tentang perbatasannya.

Di lapangan olah raga, bidang yang bersentuhan langsung seperti sepak bola dan voli membuat pemainnya sering mengalami konflik. Bahkan, konflik dapat meluas ke dalam suatu tim hingga suporter atau pendukung.

Di sistem masyarakat, konflik dapat terjadi karena dana sosial yang tidak merata, pembebasan lahan untuk pembangunan, dan sebagainya.

3. Akomodasi

Akomodasi menurut Gillin dan Gillin, adalah suatu hubungan yang menggambarkan proses atau hubungan sosial yang sama, di mana kedua pihak saling beradaptasi. Secara singkat, akomodasi merupakan proses meredam konflik.

Di dalam hubungan, biasanya terdapat penengah.

Misalnya, di dalam lapangan sepak bola ada wasit dan di luarnya ada PSSI (jika di Indonesia). Pada konflik antar tetangga ada Ketua RT, konflik antar kampung dapat diselesaikan oleh tokoh-tokoh masyarakat, dan sebagainya.

Tujuan akomodasi, antara lain:

  • Mengurangi pertentangan yang terjadi antar individu atau kelompok.
  • Mencegah terjadinya ledakan pertentangan atau konflik yang meluas.
  • Memungkinkan terjadinya kerjasama antara kelompok sosial yang berbeda atau kelas tertentu.
  • Meleburkan dua kelompok sosial yang awalnya saling bertentangan atau terpisah.

Dalam pelakasanaannya, akomodasi dibagi lagi menjadi berbagai bentuk sesuai caranya. Bentuk tersebut. yaitu:

  • Corecion, akomodasi yang prosesnya dipaksa. Mereka yang bertentangan dipaksa menurut karena adanya hukuman, misalnya.
  • Compromise atau kompromi, di mana dua pihak atau salah satu mengalah sehingga terjadi penyelesaian dari sebuah pertentangan.
  • Arbitration, cara kompromi yang dibantu oleh penengah karena pihak yang bertentangan tidak dapat menyelesaikan masalahnya sendiri.
  • Conciliation atau konsoliasi, usaha menyelesaikan pertentangan dengan mempertemukan pihak yang bertentangan agar tercapai tujuan bersama.
  • Toleration atau toleransi, bentuk akomodasi tanpa adanya persetujuan yang formal. Kedua pihak mencoba saling menghormati dan menghargai.
  • Stalemate, akomodasi antara dua pihak yang seimbang sehingga berhenti dengan sendirinya.
  • Adjudication, akomodasi yang menyelesaikan pertentangan di pengadilan.

4. Asimilasi

Asimilasi sering disebut sebagai proses adaptasi. Di mana dua buah individu atau kelompok yang tidak sama saling melebur karena penyesuaian diri.

Di wilayah seperti Indonesia yang mempunyai banyak budaya, asimilasi menghasilkan karakteristik budaya baru. Kamu menyebutnya sebagai kebudayaan nasional, misalnya.

Proses ini, seperti halnya kompetisi, pertentangan, dan akomodasi juga terjadi di mana-mana. Mengapa? Karena pada dasarnya masyarakat unik. Tidak mungkin bisa sama sehingga proses sosial merupakan keniscayaan.

Contoh lain asimilasi adalah mahasiswa Inggris yang mencoba berbahasa Jawa karena lama tinggal di Indonesia. Hasilnya, bahasa Jawa dengan aksen Inggris. Kebalikannya terjadi pada mahasiswa Jawa yang tinggal di luar negeri.

Demikian proses sosial yang bentuk-bentuknya yang umum terjadi dalam masyarakat. Bentuk sosial di atas, mungkin saja lebih dari empat karena ilmu sosial makin berkembang seiring perkembangan masyarakat. So, semoga bermanfaat ya Cerdikawan!

Author