Pancasila adalah sebuah ideologi dasar negara yang dimiliki oleh negara Indonesia. Pancasila lahir karena adanya serangkaian proses, proses ini salah satunya adalah proses yang mengaitkan antara aspek nasionalis dan aspek kebudayaan bangsa yang kemudian dipadukan untuk dijadikan sebagai sebuah ideologi nasional. Nah, Cerdikawan kita simak saja langsung pembahasan seputar sejarah perumusan pancasila!

Bagaimana Sejarah Perumusan Pancasila?

Berdasarkan poin sebelumnya, perpaduan dua aspek dalam rangkaiaan proses sejarah perumusan Pancasila, bentuknya dapat dilihat melalui asal mula kata ‘pancasila’ itu sendiri. Istilah pancasila pertama kali diketahui karena terdapat pada Kitab Sutasoma karangan dari Mpu Tantular. Kitab Sutasoma ini ditulis pada masa kejayaan Kerajaan Majapahit di bawah kekuasaan prabu Rajasanagara atau Raja Hayam Wuruk. Di mana dalam kitab Mpu Tantular ini disebutkan bahwa istilah pancasila memiliki dua filosofi antara lain:

1. Berbatu sendi, yang lima.

2. Pelaksanaan lima kesusilaan antara lain seputar; larangan tindak kekerasan dengan bentuk apapun, larangan untuk mencuri, larangan berjiwa dengki, larangan berbicara kebohongan, larangan meminum minuman keras.

Pancasila memiliki pengertian yang terdiri dari dua kata yang berasal dari bahasa Sanskerta, yakni ‘panca’ yang dalam Bahasa Indonesia artinya ‘lima’, sedangkan ‘sila’ yang dalam Bahasa Indonesia berarti ‘prinsip’ atau ‘dasar’.

Terjadinya peristiwa perumusan pancasila yang terjadi pada tanggal 29 April 1945, yang pada saat itu pemerintahan Jepang membentuk sebuah lembaga dalam Bahasa Jepang yang diberi nama 独立準備委員会 atau yang dibaca ‘Dokuritsu Junbi Iinkai’, yang dalam Bahasa Indonesianya adalah Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia ini mempunyai anggota 62 anggota yang dilantik pada tanggal 28 Mei 1945. Hal ini juga diketahui oleh Dr. Radjiman Widyoningrat dan juga wakilnya R. Panji Soeroso dan Ichibangase.

BPUPKI mulai aktif sebagai sebuah lembaga pada tanggal 29 Mei 1945, dengan aktivitas membuat rancangan dasar negara serta membuat rancangan Undang-Undang Dasar. Kemudian BPUPKI melakukan sidang untuk pertama kalinya pada tanggal 29 Mei 1945 sampai dengan tanggal 1 Juni 1945 yang pada saat itu mengusulkan banyak hal mengenai perumusan dasar-dasar Indonesia yang sedang dalam proses pembentukan. Isi dari beberapa usulan rumusan dasar-dasar negara Indonesia antara lain adalah:

sejarah perumusan pancasila
kitab sutasoma foto oleh news.detik.com

Usulan Rumusan Pancasila dari Mohammad Yamin

Usulan pertama yang diberikan oleh Mohammad Yamin tidak berupa teks, tetapi disampaikan dengan langsung secara lisan, usulannya adalah:

1. Peri Kebangsaan

2. Peri Kemanusiaan

3. Peri Kehutanan

4. Peri Kerakyatan

5. Kesejahteraan Sosial atau (Keadilan Sosial)

Setelah menyampaikan pidato, Mohammad Yamin menyampaikan usulan berikutnya secara tertulis di dalam UUD yang ada dalam Rancangan Pembukaan UUD. Usulan tertulis yang ia sampaikan tersebut terdiri dari lima rumusan asas negara merdeka yang isinya adalah:

1. Ketuhanan Yang Maha Esa

2. Kebangsaan Persatuan Indonesia

3. Rasa Kemanusiaan Yang Adil Dan Beradab

4. Kerakyatan Yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan Dalam Permusyawaratn Perwakilan

5. Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia

Usulan Rumusan Pancasila dari Soepomo

Usulan yang diberikan oleh Soepomo adalah berupa lima asas bagi Republik Indonesia, yang terdiri atas:

1. Persatuan

2. Kekeluargaan

3. Keseimbangan Lahir Dan Batin

4. Musyawarah

5. Keadilan Rakyat

Usulan Rumusan Pancasila dari Soekarno

Tokoh berikutnya yang menyampaikan usulan dalam perumusan dasar negara adalah Soekarno, presiden pertama Indonesia. Di dalam usulannya tersebut ia memberikan masukan seputar asas negara, antara lain sebagai berikut:

1. Kebangsaan Indonesia

2. Internasionalisme Atau juga Kemanusiaan

3. Mufakat Atau juga Demokrasi

4. Kesejahteraan Sosial

5. Ketuhanan Yang Berkebudayaan

sejarah perumusan pancasila
bendera indonesia foto oleh Anggit Rizkianto

Usulan Rumusan Pancasila dari Panitia Sembilan

Sidang pertama BPUPKI yang dilakukan pada tanggal 29 Mei 1945 sampai dengan tanggal 1 Juni 1945 belum bisa menetapkan usulan-usulan tersebut untuk dijadikan dasar negara Indonesia. Maka kemudian dibentuklah sebuah panitia yang mempunyai anggota sembilan orang yang juga dikenal dengan sebutan Panitia Sembilan. Anggota-anggota dari Panitia Sembilan yang terdiri dari Sembilan tokokh negara terdiri dari:

1. Ir. Soekarno, sebagai ketua yang merangkap anggota

2. H. Agus Salim, sebagai anggota

3. Mr. Ahmad Soebardjo, sebagai anggota

4. Mr. Muhammad Yamin, sebagai anggota

5. Drs. Mohammad Hatta, sebagai anggota

6. Mr. AA. Maramis, sebagai anggota

7. Kyai Hadi Wachid Hasyim, sebagai anggota

8. Abdul Kahar Muzakkir, sebagai anggota

9. Abikusno Tjokrosujoso, sebagai anggota

Setelah itu, pada tanggal 22 juni 1945 Panitia Sembilan akhirnya berhasil merumuskan sebuah naskah Rancangan Pembukaan Undang-Undang Dasar yang kemudian dikenal sebagai Piagam Jakarta atau Jakarta Charter. Isi dari rumusan Piagam Jakarta berbunyi:

1. Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat islam bagi pemeluk-pemeluknya

2. Kemanusiaan yang adil dan beradap

3. Persatuan indonesia

4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan

5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia.

Pada akhirnya, berdasarkan perintah dari Presiden, yang tertera dalam peraturan No.12 tahun 1968 tanggal 13 april tahun 1968, mengenai rumusan masalah dalam dasar negara indonesia serta tata cara penulisannya, rumusan Pancasila yang telah ditetapkan dan telah disahkan dalam Undang-Undang Dasar 1945 oleh Panitia Pelaksana Kemerdekaan Indonesia, pada tanggal 18 Agustus 1945, adalah pancasila dengan bunyi sebagai berikut:

1. Ketuhanan yang maha esa

2. Kemanusiaan yang adil dan beradap

3. Persatuan indonesia

4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan

5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia

Author