Halo Cerdikawan? Kali ini kalian akan diajak untuk membahas seputar mata pelajaran biologi! Kalian sudah tahu kan manusia memiliki enzim pada setiap tubuhnya? Sebab fungsi enzim amatlah penting bagi organisme khususnya manusia. Tanpa enzim kita tak akan bisa mencerna makanan yang kita konsumsi. Apa kalian tahu enzim memiliki sifat khas yang biasa disebut dengan ‘sifat-sifat enzim’? Apa saja sifat-sifat enzim tersebut? Nah untuk itu, mari kita simak ulasan materinya!

Penjelasan Mengenai Enzim

Sebelum masuk ke dalam pembahasan mengenai sifat-siaft enzim, kalian harus mengenal terlebih dahulu apa itu enzim? Enzim adalah suatu senyawa protein yang unsurnya tersusun atas komponen protein & katalitik. Ezim memiliki fungsi yang berguna untuk melancarkan serta mempercepat proses metabolisme dalam tubuh suatu organisme. Bedasarkan etimologisnya, kata ‘enzim’ berasal dari Bahasa Yunani, yang dalam Bahas Indonesia memiliki makna sebagai ‘ragi’. Enzim pertama kali ditemukan oleh seorang biologis asal Perancis, Louis Pasteur, yang ketika menemukannya saat itu beliau tengah melakukan sebuah percobaan untuk memfermentasikan Alkohol.

Unsur yang terkandung dalam enzim tersusun atas senyawa-senyawa yang terdiri dari protein (apoenzim), non protein (kafaktor), dan sifat katalik yang membedakan antara enzim dengan protein lainnya. Sifat katalik yang dimiliki oleh enzim didapatkan dari gugus cofactor yang berupa senyawa organik (koenzim dan gugus prostetik) atau senyawa anorganik (ion logam).

sifat-sifat enzim
foto oleh Jaron Nix

Sifat-sifat Enzim

Zat enzim pada tubuh memiliki peran yang sangat penting dalam proses metabolisme, proses pencernaan, dan lain sebagainya. Namun di samping itu, zat enzim pun memiliki peran penting lain bagi tubuh. Berikut ini merupakan sifat-sifat enzim yang perlu diketahui, antara lain adalah :

1. Biokalisator

Sifat-sifat Enzim yang pertama adalah sifat biokalisator. Sifat biokatalisator ini terdiri dari senyawa katalis yang memiliki peran untuk mempercepat reaksi kimia tanpa harus bereaksi. Alasannya adalah karena zat enzim merupakan bagian dari organisme, maka disebut sebagai senyawa biokatalisator.

2. Termolabil

Sifat-sifat Enzim yang kedua adalah sifat termolabil. Termolabil ini dipengaruhi oleh sebagian struktur-struktur yang terdapat pada unsur yang menyusun zat enzim, yaitu berupa senyawa protein. Dengan alasan tersebut maka zat enzim memiliki sifat termolabil yang sangat bergantung oleh kestabilan suhu.

Enzim memiliki suhu optimum yakni sekitar 37ºC. Agar enzim mampu berfungsi dengan baik, enzim tidak boleh berada pada suhu ekstremnya yaitu berada di bawah 10ºC. Hal ini dapat merusak fungsi zat enzim dan merusak fungsinya. Di samping itu, jika enzim berada pada suhu diatas 60ºC, maka enzim akan mengalami kehilangan struktur tersier dan struktur sekunder (denaturasi).

3. Spesifik

Sifat-sifat Enzim yang ketiga adalah sifat spesifik. Sifat spesifik yang dimiliki oleh enzim berfungsi sebagai pengikat substrat dengan titik pengikat yang sama. Sifat pada jenis ini juga sering digunakan, sebagai dasar pemberian sebuah nama pada enzim. Nama tersebut diambil dari jenis substrat maupun berlangsungnya jenis reaksi.

4. Derajat Persamaan

Sifat-sifat Enzim yang keempat adalah sifat derajat persamaan. Sifat derajat persamaan atau yang biasa dikenal sebagai ‘pH’ berfungsi unutk memengaruhi kinerja enzim pada tubuh. Secara umum, enzim dapat berkerja pada pH yang netral, yakni pada sekitar (6,5 – 7). Namun ada beberapa enzim yang mampu meiliki kinerja maksimalnya pada pH optimum. Contohnya pada pH asam yaitu pepsinogen, atau pada pH basa yaitu tripsin.

5. Bekerja Kebalikan

Sifat-sifat Enzim yang kelima adalah sifat bekerja kebalikan. Maksudnya, enzim bekerja secara kebalikan yaitu dari enzim A berubah bentuk menjadi enzim B, lalu kemudian pada enzim B berubah menjadi enzim A. Maka dari itu enzim memiliki sifat bekerja kebalikan.

6. Tak Tentu Arah

Sifat-sifat Enzim yang keenam adalah sifat tak tentu arah. Perubahan yang terjadi pada senyawa A yang menjadi senyawa B, atau sebaliknya pada senyawa B menjadi senyawa A, disebabkan justru bukan karena enzim yang menentukan kemana arah reaksi akan melaju. Namun alasannya adalah karena pada senyawa yang lebih dibutuhkan merupakan poin utama yang sangat penting dalam menentukan arah dari reaksi kimia akan melaju.

sifat-sifat enzim
younish67 @ unsplash.com

Unsur Komponen Enzim

Selain keenam sifat-sifat Enzim dia atas, enzim memiliki kurang lebih 3 macam unsur komponen penyusun yang berada di dalamnya, yaitu apoenzim, kofaktor, dan gugus prostetik. Berikut ini adalah uraian dari ketiga macam unsur komponen tersebut, antara lain adalah :

a. Apoenzim

Unsur komponen enzim yang pertama adalah apoenzim. Apoenzim merupakan salah satu bagian dari enzim aktif yang tersusun atas protein, yang bersifat mudah berubah-ubah terhadap faktor lingkungan disekitarnya.

b. Kofaktor

Unsur komponen enzim yang kedua adalah kofaktor. Kofaktor merupakan salah satu bagian dari beberapa komponen non protein yang terdapat dalam enzim. Antara lain berupa ion anorganik (aktivator), berupa logam yang mempunyai ikatan lemah dengan enzim, Fe, Ca, Mn, Zn, K, Co, ion klorida, dan ion kalsium.

c. Gugus Prostetik

Unsur komponen enzim yang kedua adalah gugus prostetik. Gugus prostetik adalah senyawa organik yang mempunyai ikatan kuat dengan enzim. FAD (Flavin Adenin Dinucleotide), Biotin, dan Heme merupakan beberapa bagian dari gugus prostetik yang mengandung zat besi, dan berperan sebagai sumber tenaga ekstra pada enzim terutama pada katalase, peroksidae, dan sitokrom oksidase.

Visualisasi Sifat dan Struktur Enzim

Cara Kerja Enzim

Selain sifat-sifat dan unsur komponen, enzim memiliki cara kerja tersendiri. Terdapat beberapa cara kerja enzim yang berperan dalam melancarkan dan mempercepat proses reaksi kimia, antara lain adalah :

Teori Gembok dan Kunci

Kinerja enzim pada tubuh yang pertama berkaitan dengan teori gembok dan kunci. Teori satu ini pertama kali dikemukakan oleh seorang kimiawan asal Jerman bernama Emil Fischer pada tahun 1894. Dalam teori penelitian Fischer, ia berpendapat bahwa enzim akan berikatan pada substrat dengan bentuk yang persis sama (lebih spesifik) pada sisi aktif enzimnya. Teori Fischer ini sering dikenal sebagai Teori Gembok dan Kunci, yang mana zat enzim diibaratkan sebagai sebuah kunci yang mampu membuka sebuah substrat yang diibaratkan sebagai Gembok.

Dengan alasan tersebutlah salah satu cara kerja enzim dikaitkan dengan teori gembok dan kunci, karena antara gembok dan kunci terdapat sisi yang sama, agar dapat membuka dan mengunci (terbuka dan tertutup). Namun pada teori milik Fischer ini memiliki satu kekurangan, yaitu tidak mampu menjelaskan mengenai kestabilan pada enzim saat mengalami peralihan dengan titik teaksi enzim.

Teori Induksi

Kinerja enzim pada tubuh yang kedua berkaitan dengan teori induksi. Teori ini pertama kali dikemukakan oleh seorang biokimiawan asal Amerika bernama Daniel E. Koshland pada tahun 1958. Dalam teori penelitian Koshland, enzim memliki sisi aktif yang bersifat fleksibel. Namun sisi aktif pada enzim tersebut memiliki sebuah titik-titik pengikatan yang lebih spesifik. Sehingga yang memiliki titik-titik pengikat yang sama hanya terdapat pada substratnya, dan akan menginduksi pada sisi aktif enzim.

Teori milik Daniel Koshland ini sengaja diciptakan untuk menjawab kekurangan dari Teori Gembok dan Kunci. Oleh sebab itu, Teori Induksi menjadi Teori yang paling diakui oleh para ahli lainnya dalam memaparkan cara kerja enzim.

Sumber: https://materibelajar.co.id/

Author