Cerita pendek atau yang lebih dikenal dengan cerpen adalah bentuk prosa naratif yang bersifat fiktif. Jadi, teks cerpen, novelet dan novel mempunyai kesamaan, yakni bersifat fiktif karena dibuat dari hasil karangan yang imajinatif dari penulisnya. Berbeda dengan novel atau novelet, cerpen merupakan cerita yang singkat dan relatif cepat saat dibaca. Teks cerpen hanya memiliki satu konflik dalam ceritanya. Penggambaran tokohnya pun tidak digambarkan secara mendalam, atau detail, tetapi teks cerpen tetap membutuhkan penokohan dalam ceritanya. Kali ini PinterKelas sudah merangkum beberapa pembahasan mengenai teks cerpen, yaitu struktur, tujuan, ciri, dan contohnya.

Yuk silakan disimak baik-baik pembahasan seputar teks cerpen berikut ini!

Struktur Teks Cerpen

Nah, kita belajar secara bertahap ya, Cerdikawan? Sebelum kita membahas contoh cerpen, mari kita bahas terlebih dahulu tentang strukturnya ya! Struktur Cerpen terdiri dari enam bagian. Keenam bagian tersebut saling berkaitan satu sama lainnya. Jadi struktur cerpen harus diurutkan berdasarkan tingkatannya pada Cerpen. Berikut contoh cerpen beserta struktur teksnya:

Abstrak

Pada teks cerpen merupakan bagian dari struktur cerpen yang gunanya meringkas dan memberikan gambaran awal pada cerita.

Orientasi

Pada cerpen merupakan bagian setting pada cerita. Meliputi segala aspek yang berkaitan dengan waktu, suasana, tempat di dalam cerpen.

Komplikasi

Pada cerpen adalah rentetan atau kronologi kejadian yang dikaitkan secara sebab dan akibat pada sebuah kejadian di dalam cerpen. Penggambaran karakter dan watak tokoh dapat terlihat pada cerpen melalui struktur ini.

Evaluasi

Pada cerpen merupakan konflik yang terjadi dan membawa konflik tersebut pada puncak klimaks di cerita. Setelah itu, dari sini akan mulai muncul titik penyelesaian dari konflik yang muncul tersebut.

Resolusi

Pada cerpen adalah solusi yang dimunculkan pengarang cerpen terhadap konflik dan klimaks yang sudah terjadi sebelumnya pada cerita.

Koda

Pada cerpen merupakan value (nilai), pesan atau amanah yang hendak dibagikan oleh pengarang bagi para pembacanya.

teks cerpen
Gambar oleh Виктория Бородинова dari Pixabay

Tujuan Teks Cerpen

Penulisan cerpen atau cerita pendek sebagai karya seni pastinya memiliki tujuan yang melatarbelakangi atau menjadi dasar dalam penulisan cerpen tersebut. Berikut ini adalah tujuan-tujuannya, anatara lain:

  • Memberi pengetahuan yang disisipkan dalam cerita
  • Memberi tuntunan jasmani ataupun rohani
  • Bentuk pengekspresian emosi
  • Bentuk realisasi dari idealisme sang penulis
  • Bentuk realisasi dari sudut pandang atau perspektif penulis dalam melihat berbagai kejadian di dunia
  • Hiburan

Ciri-ciri Teks Cerpen

Untuk dapat membedakan teks cerpen dengan karya tulis bersifat fiktif atau karya tulis jenis lainnya, maka kita perlu mendeteksi ciri-ciri dari teks cerpen! Adapun ciri-ciri dari teks cerpen secara umum antara lain adalah:

  1. Panjang karangan bervariatif sesuai dengan jenis cerpennya, tetapi tidak boleh lebih dari 10.000 kata
  2. Cerita yang singkat, pendek, padat, namun sarat akan makna. 
  3. Bersifat fiktif
  4. Penokohan tidak kompleks dan tidak detail atau tidak spesifik
  5. Sumber cerita dari kehidupan sehari-hari 
  6. Mengangkat konflik tunggal
  7. Tokoh-tokohnya mengalami satu kali konflik yang diselesaikan di akhir cerita
  8. Meninggalkan kesan yang membekas dan efek terhadap emosi pembaca ketika menyelesaikan cerita
  9. Menceritakan tentang satu kejadian
  10. Tidak memiliki penggambaran latar yang kompleks
  11. Beralur tunggal dan lurus
cerita pendek
Gambar oleh 【微博微信】愚木混株 【Instagram】cdd20 dari Pixabay

Contoh Cerpen Pendidikan

3 Pucuk Surat

Pagi ini aku datang ke sekolah pada pukul 7:25 seperti biasa.

Pintu gerbang ditutup lima menit setelah kedatanganku.

Di kelas aku duduk di bangku deretan belakang.

Walaupun, kalau boleh jujur di bangku deretan belakang paparan dari kipas angin di kelas tidak cukup terasa menyejukkan.

Bu Mahya selalu datang tepat waktu dan tak pernah membuat kami menunggu.

Tidak seperti guru-guru lain dengan jam karetnya.

Bu Mahya selalu rapi ketika mengajar.

Untuk seorang guru muda, Bu Mahya selalu tampil keren dengan gayanya sendiri.

Tak seperti guru-guru lain, ia adalah satu-satunya guru yang memperlakukan murid-muridnya tanpa perbedaan.

Kami merasa sangat dihargai oleh seseorang yang berilmu. Jadi taka da alasan untuk kami untuk kurang ajar pada Bu Mahya.

Ia berbicara dengan santun tetapi tidak kaku dengan anak muridnya.

Tanpa pandang bulu. Dari yang pintar, yang malas, yang cantik, yang kentang, yang harum, yang bau ketek, yang dekil, atau ‘yang’ ‘yang’ lainnya, Bu Mahya selalu memperlakukan kami dengan baik.

Ia selalu berusaha memahami keadaan murid-muridnya dalam bersekolah.

Hebat kan?

Tidak semua guru memiliki manner seperti Bu Mahya.

Bu Mahya tidak hanya datang untuk memerintah para muridnya melakukan A sampai Z.

Ia memberi tahu jika proses untuk mencapai Z kita harus perlahan mulai dari A terlebih dahulu.

Ia pun paham tak semua murid memiliki cara untuk mencapai Z yang sama.

Tak heran ia kerap menjadi tempat curahan hati para muridnya saat ada masalah.

Bu Mahya hampir sempurna.

Kekurangannya hanya satu.

Bu Mahya seorang manusia.

Dan yang aku tahu, manusia tidak akan ada yang sempurna.

Maka begitu pula dengan Bu Mahya.

Hari ini, tanggal 25 November bertepatan dengan Hari Guru Nasional.

Teman-temanku yang lain berlomba-lomba memberinya hadiah.

Ada yang dibuat dengan tangan sendiri, ada yang membeli dengan harga selangit, ada yang uangnya dari hasil menyisihkan jatah jajannya, dan ada aku, yang hanya memberikannya 3 pucuk surat.

Bentuk suratnya kelewat biasa.

Namun aku cukup percaya diri dengan isinya.

Kumasukkan ke dalam map berwarna coklat, lalu kusisipkan pada kolong mejanya di Ruang Guru.

Namun pada jam pulang sekolah, ia tiba-tiba menghampiriku seorang diri dalam keadaan menangis.

Ia berkata dengan suara parau,

“Terima kasih, Na! Ini kado paling indah menurut Ibu! Ibu ga nyangka kamu ikutan ngasih hadiah ke Ibu.”

“Lah kok bisa ga nyangka, Bu?”

“Abis, kamu orangnya cuek. Apalagi abis pas itu kamu ceritain masalahmu ke Ibu. Kamu ga pernah ngobrol lagi ke Ibu. Ibu kira kamu ada marah sama Ibu, Na.”

“Enggak, Bu. Justru setelah aku cerita ke Ibu aku jadi banyak mengontrol diriku supaya ga terlibat dengan masalah lagi. Yah, walaupun ga selalu berhasil sih. Makanya aku jadi jarang cerita ke Ibu.”

“Ya Allah, Ibu jadi bangga nih, Na. Tapi kok suratnya dipakein map coklat kayak buat ngelamar kerja gini? Ibu kira ini isinya bom.”

“Lah kirain Ibu mikirnya ada yang mau lamar kerja. Hehe. Dipakein map coklat buat lamar kerja gini supaya Ibu inget terus isinya. Biar… ada spesial-spesialnya. Hehe.”

“Ga nyambung atuh, Na. Yang spesial mapnya masa yang Ibu inget isinya?”

“Sengaja biar Ibu berhenti nangis.”

“Tapi Ibu ga bisa berhenti nangis baca suratmu, Na! Gimana dong cushion sama mascara Ibu luntur nih.”

“Gapapa, Bu. Ibu tetep guru paling cantik kok!”

Risma Azhari, November ’19

membaca cerpen
Gambar oleh Pezibear dari Pixabay

Kumpulan Cerpen Singkat dan Menarik

Cerpen No. 1

Prasangka

Kontes Kecantikan Petal adalah kontes dimana para bunga dalam berbagai jenis di seluruh dunia berkumpul di sebuah negeri bernama Petal untuk mengadakan sayembara. Sayembara yang diadakan adalah untuk memperebutkan gelar ‘Bunga Paling Indah di Seluruh Negeri’. Tiap negeri berlomba-lomba untuk mengirimkan perwakilan tercantik mereka. Begitu pun dengan Negeri Gulma.

Namun, Negeri Gulma adalah negeri yang tidak pernah mendapat perhatian sekalipun karena semua menganggap tidak mungkin untuk gulma bisa seindah bunga. Gulma dianggap pengecualian bagi para juri bahkan kontestan lain. Tahun ini, Negeri Gulma memutuskan untuk tetap mengirimkan perwakilannya ke Negeri Petal. Berbeda dengan tahun sebelumnya, mereka tidak mengikuti kontes tersebut karena merasa usaha mereka hanya akan sia-sia pada akhirnya. Di kontes tahun ini tema konsep yang digunakan adalah ‘Bunga yang Tak Hanya Indah’.

Berbekal dengan kesederhanaan dan keterbatasan yang Negeri Gulma miliki, mereka telah menyiapkan dengan matang rancangan konsep untuk dapat dengan maksimal berpartisipasi dalam lomba. Misi yang mereka targetkan adalah untuk memenangkan juara ketiga. Sebab Negeri Gulma menganggap hal itu merupakan pencapaian yang cukup besar bagi mereka.

“Siapa yang akan kita kirim dalam Kontes Kecantikan Petal musim ini?” Tanya Rumput Teki.

Lalu menggaduh. Bersama-sama mendebatkan sebuah pertanyaan sederhana yang dilontarkan Rumput Teki.

“Aku dan beberapa kawan-kawan Chickweed punya ide untuk mengikutsertakan Bunga Ketul dalam kontes kali ini!” Salah satu dari kawanan Chickweed berseru di tengah keramaian.

“Aku?! Apa kalian yakin dengan hal itu???!” Bunga Ketul terdengar tak setuju dengan gagasan tersebut.

“Tentu saja. Memangnya kau tidak?” jawab Chickweed.

Bunga Ketul terdiam beberapa saat lalu berkata dengan lirih, “Kurasa aku tidak cantik sama sekali…”

“Baik. Kalua begitu dengarkan ide kami terlebih dahulu, setelah itu kau yang putuskan.”

Chickweed menjelaskan ide-ide yang mereka punya sambal meminta saran dengan para Gulma lain untuk melengkapi gagasan yang ia dan teman-temannya tawarkan. Lalu Bunga Ketul pun bersedia untuk menjadi perwakilan dari Negeri Gulma dan bersemangat untuk dapat berpartisipasi dalam Kontes Kecantikan Petal musim ini.

Kemudian Negeri Gulma menyiapkan konsep matang tentang kekuatan Bunga Ketul. Bunga Ketul adalah bunga yang berukuran mungil. Namun ia mampu tumbuh subur melawan kerasnya ekosistem pinggir jalan yang harus melawan debu, polusi udara dan minimnya tanah yang semakin gencar dibuat menjadi lahan yang menutup tanah oleh para Manusia. Atas konsep kekuatan Bunga Ketul itu, Negeri Gulma mampu memenangkan juara pertama Kontes Kecantikan Petal untuk tema ‘Bunga yang Tak Hanya Indah’ pada musim ini.

Risma Azhari, Desember ’19

membaca
Gambar oleh Daniel Nebreda dari Pixabay

Cerpen No.2

Sepatu dalam Kotak Berdebu

Hari ini aku tidak akan pergi kemanapun lagi. Menghabiskan hari dengan tanpa melakukan apapun lagi. Dari hari mulai terang hingga gelap kembali. Untuk waktu yang tak pernah sempat kuhitung, juga hari-hari yang terlewat dan takkan mungkin kembali. Apakah aku mati? Tentu saja belum. Tapi kurasa iya, sedikit lagi. Semakin hari, aku semakin ragu untuk tetap di sini. Namun apa boleh buat, Dia masih saja menyimpanku di sini. Padahal kalau dipikir-pikir untuk apa lagi? Meski begitu, ada sedikit rasa lega dalam diriku untuk keputusanNya itu. Aku kecewa dan berterima kasih pada saat yang bersamaan. Karena di sisi lain aku harap Dia dapat membuangku saja.

Hari-hari itu terus saja mengingatkanku. Seakan tak cukup satu-dua hari, ia terus saja menghantuiku di setiap harinya. Aku ingat saat kau dan aku menerjang hujan deras di Bekasi Timur Laut hari itu. Kita basah kuyup karena banjir, tapi kita tetap bahagia karena melewatinya bersama. Atau saat kau dan aku melewati panasnya jalanan Jakarta Barat Daya.

Kau berkata, “Kurasa, aku sudah tak sanggup lagi,” karena cuaca ekstrim yang hari itu menyerang.

Kemudian kukatakan padamu, “Kita pasti akan lewati semuanya, asal terus bersama.”

Aku pun masih ingat dengan jelas ketika dihadapkan dengan situasi yang mengharuskan kita untuk bertahan di bawah kaki Gunung Lalala. Kita arungi arus sungai yang deras, licinnya bebatuan besar berlumut, jurang yang terjal, dan pasir dengan jutaan kerikil. Secara bertubi-tubi, kita berhasil melewatinya. Kau dan aku.

Saat kau pergi, aku mulai hancur perlahan. Aku merasa kosong. Aku merasa sepi. Aku merasa rumpang. Aku merasa separuh dari diriku dicuri dengan paksa. Aku bahkan merasa tak mampu melewati satu hari lagi.

Aku yang kautinggalkan, saat ini amat merindukanmu.

Aku, sang sepatu usang yang tinggal sebelah ini.

Sebab sebelahnya lagi rusak digigit anjing liar yang lewat depan rumahNya dulu.

Aku, sepatu usang dalam kotak berdebu yang dulunya sepasang denganmu.

Risma Azhari, Desember ’19

Author