Cerdikawan, pembahasan kali ini adalah mengenai sejarah aksi atau gerakan Tri Tuntutan Rakyat atau yang biasa diketaui sebagai Tritura. Gerakan atau aksi tritura ini dilatarbelakangi salah satunya oleh tragedi G30S atau Gestapu yang banyak memakan korban, beberapa di antaranya adalah para ulama dan para petingggi militer Indonesia. Maka secara tidak langsung, aksi atau gerakan tritura ini merupakan bentuk pembalasan dari tragedi Gestapu. Yuk, langsung saja simak pemaparan seputar tritura berikut ini!

Latar Belakang Tritura

Perihal yang melatar belakangi terjadinya peristiwa tritura berkaitan dengan gerakan 30 September yang didalangi Partai Komunis Indonesia. Setelah peristiwa G30S, banyak organisasi masyarakat terutama organisasi mahasiswa mengadakan unjuk rasa dengan gelombang yang masif. Menyuarakan tuntutan-tuntutan kepada pemerintah. Tuntutan tersebut adalah ‘tritura’ (Tri Tuntutan Rakyat) atau tiga tuntutan rakyat. Salah satu tuntutannya adalah pembubaran Partai Komunis Indonesia yang menyebabkan peristiwa sadistik terkait tragedi gerakan 30 September.

Namun sayangnya pihak pemerintah tidak mengambil tindakan yang tegas terhadap pihak Partai Komunis Indonesia yang telah meletuskan peristiwa berdarah yang terjadi pada G30S/PKI. Selain dilatarbelakangi oleh peristiwa G30S/PKI, pada masa itu perekonomi rakyat Indonesia dapat dikatakan dalam keadaaan yang semakin terpuruk. Hal ini ditandai dengan semakin melambungnya harga-harga kebutuhan hidup sehari-hari yang semakin membuat rakyat Indonesia semakin sengsara.

tritura
Rakjat Tuntut Bubarkan PKI foto oleh ebay.com

Akhirnya pada tanggal 25 Oktober 1965 terbentuklah sebuah organisasi persatuan mahasiswa Indonesia yang diberi nama Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI). Yang setelahnya dilanjutkan oleh terbentuknya oraganisasi persatuan lain-lain, misalnya Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia (KAPPI), Kesatuan Aksi Pelajar Indonesia (KAPI), Kesatuan Aksi Buruh Indonesia (KABI), Kesatuan Aksi Sarjana Indonesia (KASI), Kesatuan Aksi Wanita Indonesia (KAWI), dan Kesatuan Aksi Guru Indonesia (KAGI).

Organisasi-orgaisasi tersebut kemudian memutuskan untuk bersatu dan melakukan aksi unjuk rasa atau aksi demonstrasi dalam skala yang masif. Namun pihak pemerintah tidak segera mengambil tindakan. Hal ini memicu keputusan pada tanggal 10 januari 1966 yang dipelopori oleh KAMI dan KAPPI dalam aksi Front Pancasila mendatangi DPR-GR untuk menuntut tiga tuntutan rakyat atau Tri Tuntutan Rakyat atau tritura. Berikut ini adalah organisasi-organisasi persatuan yang mempelopori peristiwa tritura:

Pelopor Tritura

  • Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI).
  • Kesatuan Aksi Pelajar Indonesia (KAPI),
  • Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia (KAPPI),
  • Kesatuan Aksi Buruh Indonesia (KABI),
  • Kesatuan Aksi Sarjana Indonesia (KASI),
  • Kesatuan Aksi Wanita Indonesia (KAWI),
  • Kesatuan Aksi Guru Indonesia (KAGI),
  • Dukungan penuh dari Tentara Nasional Indonesia (TNI).

Isi Tritura

  1. Pembubaran Partai Komunis Indonesia dan segala ormas-ormas yang berkaitan
  2. Perombakan kabinet Dwikora dengan melakukan pembersihan dari unsur-unsur G30S/PKI.
  3. Turunkan harga sembilan bahan pokok (sembako) perbaikan kondisi perekonomian negara

Pada isi tritura tersebut, tuntutan yang pertama dan kedua, sudah pernah diserukan sebelumnya oleh KAP-Gestapu (Kesatuan Aksi Pengganyangan Gerakan 30 September). Sementara untuk tuntutan yang ketiga diserukan pada saat itu juga. Dalam tuntutan ketiga yang turut diserukan, penyebabnya adalah karena pada saat itu masalah yang sedang melanda perekonomian masyarakat Indonesia adalah melambungnya harga-harga sembako. Maka dijadikanlah permasalahan tersebut menjadi salah satu dari ketiga tuntutan Tri Tuntutan Rakyat.

tritura
demonstrasi tritura 1966 foto oleh kapanlagi plus

Tujuan Tritura

Sesuai dengan isi dari tritura, tujuan dari tritura yaitu, pelopor aksi tritura menuntut ketegasan Soekarno yang kala itu menjabat sebagai presiden dan juga sebagai pihak dari pemerintah, atas segala kekacauan dalam kondisi politik dan ekonomi yang pada saat itu dialami oleh negara Indonesia.

Dampak Positif Tritura

  1. Pembubaran dan larangan adanya Partai Komunis Indonesia dengan segala bentuk ormasnya yang melukai HAM dan hampir mengancam ideologi bangsa.
  2. Pembersihan kabinet Dwikora

Dampak Negatif Tritura

  • Pelanggaran HAM pada masa orde baru.

Daftar Tokoh PKI yang Meninggal dalam Aksi Pembersihan Antikomunis

Berikut ini adalah daftar tokoh-tokoh Partai Komunis Indonesia yang meninggal dalam pembersihan antikomunis Indonesia. Tokoh-tokoh yang berada di dalam daftar ini merupakan tokoh-tokoh yang terlibat dalam peristiwa G30S/PKI, tragedi yang melatarbelakangi aksi Tri Tuntutan Rakyat. Nama-namanya, antara lain adalah:

  • D.N. Aidit

D.N. Aidit merupakan ketua Partai Komunis Indonesia dan tokoh utama dalam peristiwa G30S/PKI Ia dinyatakan meninggal karena dibunuh pada tahun 1965.

  • Chaerul Saleh

Chaerul Saleh merupakan tokoh politik Indonesia yang pernah menjabat sebagai menteri, wakil perdana menteri, dan ketua MPRS pada sekitar tahun 1957 sampai 1966. Ia adalah salah satu pemuda yang berperan dalam peristiwa penculikan Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Hatta dalam Peristiwa Rengasdengklok. Ia dinyatakan meninggal pada 1967 dengan status sebagai tahanan.

  • Lettu Doel Arif

Lettu Doel Arif adalah tokoh utama dalam peristiwa penculikan para jenderal Angkatan Darat yang diduga akan membentuk Dewan Jenderal oleh Partai Komunis Indonesia dalam peristiwa Gerakan 30 September 1965. Ia dinyatakan hilang.

  • Lukman Njoto

Lukman Njoto merupakan Menteri Negara pada masa pemerintahan Presiden Soekarno. Ia juga merupakan wakil Ketua CC Partai Komunis Indonesia yang dekat relasinya dengan D.N. Aidit. Ia ditangkap pada tahun 1966 dan dinyatakan hilang setelahnya.

  • Ibnu Parna

Ibnu Parna merupakan politisi fraksi Partai Komunis Indonesia, pemimpin Partai Acoma dan juga aktivis buruh. Ia dinyatakan meninggal karena dibunuh.

  • Muhammad Arief

Muhammad Arief selain tokoh dalam peristiwa tritura, ia juga merupakan pencipta lagu “Genjer Genjer” ia dinyatakan meninggal karena dibunuh.

  • M.H. Lukman

M.H. Lukman merupakan Wakil Ketua CC PKI. Ia dijatuhi hukuman mati yang dilaksanakan pada 1965.

  • Ir. Sakirman

Ir. Sakirman menjabat sebagai petinggi Politbiro CC Partai Komunis Indonesia yang juga merupakan kakak kandung dari Siswondo Parman, salah satu korban yang diculik dan meninggal pada peristiwa G30S/PKI. Ia dinyatakan hilang.

  •  Brigjen Soepardjo

Brigjen Soepardjo menjabat sebagai Komandan TNI Divisi Kalimantan Barat yang turut berperan penting dalam peristiwa Gerakan 30 September PKI. Ia dijatuhi hukuman mati.

  • Sudisman

Sudisman adalah salah satu anggota Politbiro CC PKI. Ia dijatuhi hukuman mati.

  • Syam Kamaruzzaman

Syam Kamaruzzaman adalah tokoh utama dalam peristiwa G30S/PKI yang juga merupakan tokoh nomor satu di Politbiro PKI yang melakukan pembinaan pada para simpatisan PKI dari kalangan TNI dan PNS. Ia dijatuhi hukuman mati pada tahun 1968 dan dieksekusi pada tahun 1986.

  • Letkol Untung Syamsuri

Letkol Untung Syamsuri menjabat sebagai Komandan Batalyon I Tjakrabirawa yang juga memimpin Gerakan 30 September. Ia dijatuhi hukuman mati dan dieksekusi pada 1969.

  • Trubus Soedarsono

Trubus Soedarsono adalah seorang seniman pematung dan pelukis naturalis Indonesia. Ia dinyatakan meninggal karena dibunuh.

  • Wikana

Tokoh tritura yang terakhir adalah Wikana, ia merupakan seorang pejuang kemerdekaan Indonesia bersama Chaerul Saleh dan Sukarni. Mereka termasuk dalam pemuda yang terlibat dalam peristiwa penculikan Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Hatta yang sering disebut sebagai Peristiwa Rengasdengklok. Ia dinyatakan menghilang.

Author