Halo Cerdikawan? Mari sedikit mengingat peristiwa yang terjadi di masa lampau. Kembali pada tahun 1998 saat di bawah kekuasaan B.J. Habibie, Indonesia harus menghadapi masa-masa sulit dalam perekonomiannya. Pada tahun 1998, Indonesia dihadapkan dengan banyak kerusuhan politik saat di bawah kekuasaan Soeharto dan permasalahan pada perekonomian di bawah kekuasaan Presiden B.J. Habibie. Pada tahun tersebut terjadi peristiwa besar dalam perekonomian negara yang disebut sebagai krisis moneter Atau KrisMon. Saat krisis moneter melanda, nilai tukar rupiah jatuh pada angka yang benar-benar rendah. Peristiwa krisis moneter pun menyebabkan banyak perusahaan yang terpaksa harus gulung tikar.

Oleh karena itu untuk mencegah terjadinya peristiwa yang sama di masa mendatang, pemerintah Indonesia akhirnya merancang kebijakan moneter. Melalui kebijakan moneter inilah pemerintah Indonesia membuat rancangan perencanaan sistem keuangan agar lebih stabil dan terstruktur. Nah, untuk itu kali ini kita akan membahasa apa saja tujuan kebijakan moneter, jenis-jenis beserta instrumen-instrumennya. Namun sebelum membahasa tujuan kebijakan moneter, yuk simak dulu pembahasan mengenai jenis-jenisnya!

Jenis-jenis Kebijakan Moneter

Sebelum masuk ke dalam pembahasan tujuan kebijakan moneter, kalian perlu menegetauhi bahwa kebijakan moneter terbagi menjadi dua. Berikut di antaranya:

1. Kebijakan Moneter Ekspansif

Kebijakan moneter ekspansif atau yang disebut juga dengan monetary expansive policy, adalah kebijakan yang diambil agar meningkatkan jumlah uang yang beredar di masyarakat. Fungsi dari kebijakan moneter ekspansif  ialah untuk mengatasi jumlah tunakarya serta meningkatkan daya beli masyarakat.

Langkah kebijakan moneter ekspansif ini akan diambil saat kondisi ekonomi negara tengah dalam kondisi resesi atau depresi. Langkah ini disebut juga dengan kebijakan uang longgar atau easy money policy.

2. Kebijakan Moneter Kontraktif

Kebijakan moneter ekspansif adalah langkah kebijakan untuk meningkatkan jumlah peredaran uang. Berbeda dengan kebijakan ekspansif. Kebijakan moneter kontraktif adalah kebalikannya, yaitu suatu langkah yang diambil untuk mengurangi jumlah uang yang beredar di tengah masyarakat. Kebijakan ini disebut juga dengan kebijakan uang ketat. Langkah kebijakan ini dilakukan ketika negara tengah mengalami inflasi atau peningkatan harga secara umum.

tujuan kebijakan moneter
foto oleh Sharon McCutcheon

Tujuan Kebijakan Moneter

Suatu hal dilakukan pasti dengan latar belakang tertentu dan untuk tujuan tertentu. Kebijakan moneter memiliki tujuan yang perlu kamu ketahui, agar pengetahuanmu tentang ini lebih lengkap:

Tujuan Kebijakan Moneter Menurut Bank Indonesia

Sebelum membahas tujuan kebijakan moneter secara umum, berikut adalah tujuan kebijakan moneter menurut Bank Indonesia. Berdasarkan laman situs resmi dari Bank Indonesia, BI memiliki tujuan untuk mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah. Tujuan tersebut telah tercantum dalam UU No. 23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia, yang diubah melalui UU No. 3 Tahun 2004 dan UU No. 6 Tahun 2009 pada pasal 7.

Maksud dari kestabilan nilai rupiah yang disebutkan tersebut mempunyai 2 dimensi. Dimensi pertama kestabilan nilai rupiah yang dimaksud oleh Bank Indonesia adalah kestabilan terhadap harga-harga barang dan jasa yang terefleksi dari perkembangan laju inflasi. Kemudian, dimensi kedua terkait dengan perkembangan nilai tukar rupiah terhadap mata uang negara lain.

Pada konteks perkembangan nilai rupiah terhadap mata uang negara lain tersebut, Indonesia menganut sistem nilai tukar mengambang (free floating). Peran dari kestabilan nilai tukar mata uang sangatlah penting untuk dapat mencapai stabilitas harga dan sistem keuangan. Maka, Bank Indonesia turut ambil andil dalam langkah kebijakan moneter. Dalam rangka untuk menjaga kestabilan nilai tukar agar sesuai dengan nilai fundamentalnya dengan tetap menjaga bekerjanya mekanisme pasar.

Dalam upaya mencapai tujuan rersebut, Bank Indonesia sejak 1 Juli 2005 menerapkan kerangka kebijakan moneter Inflation Targeting Framework (ITF). Kerangka kebijakan tersebut dipandang sesuai dengan mandat dan aspek kelembagaan yang diamanatkan oleh Undang-Undang. Dalam kerangka ini, inflasi merupakan sasaran yang diutamakan (overriding objective). Bank Indonesia secara konsisten terus melakukan berbagai penyempurnaan kerangka kebijakan moneter, sesuai dengan perubahan dinamika dan tantangan perekonomian yang terjadi, guna memperkuat efektivitasnya.

Berikut merupakan tujuan kebijakan moneter secara umum:

Tujuan Kebijakan Moneter Secara Umum

1. Menjaga Stabilitas Ekonomi

Tujuan pertama dari kebijakan moneter adalah demi menjaga stabilitas pertumbuhan perekonomian negara Indonesia. Stabilitas pertumbuhan ekonomi adalah kondisi saat terjadinya pertumbuhan ekonomi suatu negara berjalan dengan baik dan sesuai rancangannya. Agar stabilitas ekonomi dapat terpenuhi, salah satunya dengan keadaan uang yang beredar di masyarakat sesuai dengan ketersediaan barang dan jasa di negara tersebut.

2. Menjaga Stabilitas Harga

Hal yang berkaitan dengan kebijakan moneter adalah jumlah uang yang beredar dan ketersediaan antara barang dan jasa. Ketika uang, barang dan jasa saling berkaitan, maka harga pun otomatis akan tersedia. Ketersediaan harga tersebut adalah yang harus dipertahankan kestabilannya. Untuk itulah langkah kebijakan moneter dirancang dan diberlakukan.

3. Memperbaiki Neraca Perdagangan dan Pembayaran

Ketika suatu negara mendevaluasi mata uang rupiah ke mata uang asing, maka harga barang-barang yang diekspor negara tersebut akan jatuh lebih murah. Hal ini akan menyebabkan semakin kuatnya daya saing dan meningkatkan jumlah barang yang diekspor. Oleh sebab itu, kebijakan moneter akan dapat memperbaiki neraca pembayaran dan perdagangan.

4. Meningkatkan Kesempatan Kerja

Langkah kebijakan ini tentunya berkaitan erat dengan peredaran uang dan ketersediaan barang atau jasa, yang mana turut juga memengaruhi kestabilan harga dan proses pertumbuhan ekonomi. Maka, kebijakan moneter yang baik pun akan memunculkan kondisi ekonomi yang lebih, termasuk nilai investasi yang meningkat. Saat nilai investasi meningkat, maka banyak perusahaan yang aktif dan pastinya membutuhkan banyak tenaga kerja. Jadi kesempatan kerja akan dapat tersedia dengan jumlah yang besar.

tujuan kebijakan moneter
unsplash.com

Instrumen Kebijakan Moneter

Adanya kebijakan ini tentunya berupaya untuk mewujudkan tujuan-tujuan yang pada poin sebelumnya sudah kita bahas. Kebijakan moneter yang stabil tentunya akan berdampak baik pada kondisi ekonomi negara. Untuk mengetahui hasil dari langkah kebijakan ini, berikut adalah beberapa instrumen kebijakan yang memiliki tujuan untuk mengukur pencapaian rancangan dari langkah kebijakan ini.

Kebijakan Operasi Pasar Terbuka

Kebijakan operasi pasar terbuka disebut juga dengan open market operation. Kebijakan ini diambil Bank Sentral dengan menambah atau mengurangi peredaran jumlah uang. Kebijakan ini dilakukan Bank Sentral dengan menjual sertifikat Bank Indonesia atau SBI dan membeli surat berharga di pasar modal.

Kebijakan Diskonto

Kebijakan ini tidak jauh berbeda dengan kebijakan moneter, yaitu dengan menambah dan mengurangi peredaran uang. Namun, perbedaanya terletak pada caranya, kebijakan diskonto mengubah diskonto bank umum. Jika Bank Sentral sudah mengantisipasi akan adanya fenomena inflasi atau jumlah uang yang beredar lebih besar dari kebutuhan, maka Bank Sentral akan mengambil langkah menaikkan suku bunga untuk menanggulanginya.

Kebijakan Cadangan Kas

Instrumen yang ketiga dalam instrumen kebijakan ini adalah kebijakan cadangan kas. Maksudnya, langkah kebijakan yang dapat diambil oleh Bank Sentral untuk menaikkan atau menurunkan cadangan pada kas. Maka akan ada kebijakan yang diberlakukan, yakni pada presentase sepersekian (yang telah ditentukan Bank Sentral) dari uang yang disetorkan nasabah yang tidak diijinkan untuk dipinjamkan.

Kebijakan Kredit Ketat

Selain kebijakan cadangan kas, ada juga kebijakan kredit ketat. Kebijakan kredit ketat adalah kebijakan dalam rangka mengawasi jumlah uang yang beredar di masyarakat. Terdapat beberapa syarat dalam pelaksanaan kebijakan ini, yaitu 5C, character, capability, collateral, capital, and condition of economy.

Kebijakan Dorongan Moral

Instrumen kebijakan moneter yang terakhir adalah kebijakan dorongan moral. Kebijakan ini ntuk memperbaiki serta mengawasi jumlah uang yang beredar. Bank Sentral dapat mengambil langkah kebijakan ini dengan berbagai pengumuman, pidato dan edaran yang diberikan kepada Bank Umum dan subjek pelaku moneter. Isi pidato atau edarannya bermacam-macam, bisa berupa himbauan untuk membatasi peminjaman, dll.

visualilasi untuk mengenal kebijakan moneter
Author