Pendidikan merupakan salah satu fondasi yang paling utama dan wajib dibangun oleh setiap kalangan masyarakat. Sebab, pendidikan merupakan bekal dasar yang paling penting atas berbagai macam ilmu pengetahuan. Seorang manusia harus tumbuh dibekali oleh dasar-dasar ilmu pengetahuan yang meluas agar memiliki fondasi yang kuat bagi dirinya sendiri. Pendidikan membekali manusia ketika terlahir ke bumi dengan berbagai macam ilmu pengetahuan yang dapat diaplikasikan dalam bentuk kegiatan sehari-harinya. Baik pendidikan formal maupun non formal. Maka dari itu pendidikan sangatlah penting bagi kita, Cerdikawan! Tahu tidak semboyan “tut wuri handayani”? Apa sih makna dari semboyan “tut wuri handayani yang amat terkenal tersebut? Ingin tahu kisah dan peristiwa di balik terlahirnya semboyan ‘tut wuri handayani”? Cusss, langsung saja kita simak, Cerdikawan!

Cerita di Balik Semboyan Tut Wuri Handayani

“Ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani” yang dalam Bahasa Indonesia artinya, “Di depan memberi teladan, di tengah memberi bimbingan, di belakang memberi dorongan.” Kalimat tersebut adalah kalimat yang sangat terkenal dari Bapak Pendidikan Indonesia, Ki Hadjar Dewantara.

Kalimat “Ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani” sampai saat ini masih menjadi rujukan utama mengenai konsep kepemimpinan yang baik terutama pada dunia pendidikan. Kalimat tersebut pun merupakan konsep yang baik untuk diaplikasikan, dalam segala bentuk pengabdian dari para tenaga pengajar terhadap ilmu yang akan dibagikan bagi para penuntut ilmu.

Seperti apa Sosok Ki Hadjar Dewantara?

Ki Hadjar Dewantara merupakan Bapak Pendidikan Indonesia yang melahirkan landasan pondasi nilai-nilai pendidikan dan pengajaran di Indonesia. Beliau pun pernah menduduki jabatan Menteri Pendidikan Pengajaran dan Kebudayaan untuk pertama kalinya di Indonesia. Beliau adalah tokoh di balik pendidikan Indonesia yang sangat terkenal. Alasannya adalah salah satunya karena penggalan kalimatnya yang berbunyi, “tut wuri handayani” menjadi bagian dari logo Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia. Beliau pun dikenal sebagai pendiri Taman Siswa, yang merupakan sekolah yang ia dirikan pada tanggal 3 Juli 1922 di Yogyakarta.

“Tut wuri handayani” menjadi salah satu semboyan ajaran kepemimpinan dari Ki Hadjar Dewantara yang sangat poluler. Semboyan ini telah diaplikasikan sejak lama dalam dunia Pendidikan hingga saat ini. Bahkan, hari lahir Bapak Pendidikan Indonesia yang bertepatan pada tanggal 2 Mei ini, dijadikan sebagai peringatan Hari Pendidikan Nasional oleh pemerintah Indonesia.

Ki Hadjar Dewantara sebagai tokoh pendidikan Indonesia adalah orang yang berjasa dalam dunia pendidikan Indonesia. Beliau lahir pada 2 Mei 1889 dengan nama asli Raden Mas Soewardi Soeryaningrat. Beliau memiliki latar belakang yang masih berasal dari lingkungan keluarga keraton Yogyakarta. Saat kecil, beliau menamatkan sekolahnya pada sebuah Sekolah Dasar di ELS (Sekolah Dasar Belanda). Kemudian setelah lulus dari ELS, beliau melanjutkannya ke STOVIA (Sekolah Dokter Bumiputera). Namun sayangnya karena terserang penyakit, akhirnya beliau pun tak mampu untuk menamatkan sekolahnya tersebut.

SD, SMP, SMA gambar oleh pikiran-rakyat.com

Semasa dewasa, Ki Hadjar Dewantara pernah menjadi seorang wartawan kota di beberapa surat kabar seperti Sedyotomo, Midden Java, De Express, Oetoesan Hindia, Kaoem Moeda, Tjahaja Timoer dan Poesara. Pada masa keemasannya di dunia jurnalis tersebut, beliau dengan berani menuangkan berbagai kritiknya mengenai dunia pendidikan di Indonesia, yang pada saat itu hanya dapat dinikmati oleh anak-anak keturunan Belanda dan anak-anak yang berasal dari  orang berada. Sayangnya, alasan tersebut membawanya ke dalam masalah. Sebab pada akhirnya beliau diasingkan ke Belanda.

Setelah kembali dari masa pengansingannya di Belanda, Ki Hadjar Dewantara mendirikan sebuah lembaga pendidikan atau sekolah jaman dulu yang diberi nama Taman Siswa. Taman Siswa ia dirikan pada tanggal 3 Juli 1922 di Yogyakarta. Pada masa inilah filosofi miliknya pertama kali dikenal, yang hingga saat ini masih digunakan dan menempel erat pada dunia pendidikan Indonesia yakni, “Ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani” yang memiliki arti, “Di depan memberi teladan, di tengah memberi bimbingan, di belakang memberi dorongan.”

Kemudian setelah Indonesia mendeklarasikan kemerdekaannya, Ki Hadjar Dewantara diangkat menjadi menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan Pengajaran Indonesia dalam kabinet pertama Republik Indonesia. Beliau pun dianugerakan gelar doktor kehormatan (doctor honoris causa, Dr.H.C.) dari Universitas Gadjah Mada pada tahun 1957. Namun, dua tahun setelah mendapat gelar Doctor Honoris Causa tersebut, pada tanggal 28 April 1959 di Yogyakarta, Ki Hadjar Dewantara menghembuskan napas terakhirnya.

Lalu berkat perjuangan Ki Hadjar Dewantara dalam dunia pendidikan di Indonesia, beliau diberi julukan sebagai Bapak Pendidikan Indonesia. Selanjutnya, dalam Surat Keputusan Presiden RI No. 305 tahun 1959 tertanggal 28 November 1959, untuk mengenang dan menghormati setiap jasanya, tanggal 2 Mei dijadikan sebagai peringatan Hari Pendidikan Nasional. Hari Pendidikan Nasional ini sengaja dibuat bertepatan dengan hari lahir Ki Hadjar Dewantara.

Lambang Tut Wuri Handayani

lambang tut wuri handayani gambar oleh jatikom.com

Uraian Lambang Tut Wuri Handayani

Berdasarkan laman dari situs resmi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, berikut ini adalag uraian lambang tut wuri handayani, antara lain :

  • Bidang Segi Lima (Biru Muda) = menggambarkan alam kehidupan Pancasila.
  • Semboyan Tut Wuri Handayani = digunakan oleh Ki Hajar Dewantara dalam melaksanakan sistem pendidikannya. Pencantuman semboyan ini berarti melengkapi penghargaan dan penghormatan kita terhadap almarhum Ki Hajar Dewantara yang hari lahirnya telah dijadikan Hari Pendidikan Nasional.
  • Belencong Menyala Bermotif Garuda Belencong (menyala) = merupakan lampu yang khusus dipergunakan pada pertunjukan wayang kulit. Cahaya belencong membuat pertunjukan menjadi hidup.
  • Burung Garuda (yang menjadi motif belencong) = memberikan gambaran sifat dinamis, gagah perkasa, mampu dan berani mandiri mengarungi angkasa luas. Ekor dan sayap garuda digambarkan masing-masing lima, yang berarti: ‘satu kata dengan perbuatan Pancasilais’.
  • Buku = merupakan sumber bagi segala ilmu yang dapat bermanfaat bagi kehidupan manusia.
  • Warna
  • Warna Putih = pada ekor dan sayap garuda dan buku berarti suci, bersih tanpa pamrih.
  • Warna Kuning Emas = pada nyala api berarti keagungan dan keluhuran pengabdian.
  • Warna Biru Muda = pada bidang segi lima berarti pengabdian yang tak kunjung putus dengan memiliki pandangan hidup yang mendalam (pandangan hidup Pancasila).
Author