Sebuah cerita yang baik yang ditampilkan pada novel, drama, cerita pendek atau yang lain haruslah dapat mengubah kamu. Mengubah pemikiran, perasaan , dan jiwa kamu, atau mengubah cara kamu memandang sesuatu.

unsur intrinsik
pixabay.com

Agar hal itu terjadi, penulis harus memasukkan unsur intrinsik agar cerita dapat mengalir sesuai keinginan penyusun dengan baik. Serta isi cerita itu dapat dipahami yang menikmatinya. Semua karya yang memiliki cerita harus memiliki konsep unsur intrinsik yang mampu menjalin alur cerita.

Pengertian Unsur Intrinsik

Unsur intrinsik adalah susunan elemen di dalam cerita, yang membangun utuh cerita. Pada dasarnya konsep elemen tersebut sama saja pemahaman dan penerapannya untuk semua jenis cerita. Baik itu unsur intrinsik novel, unsur intrinsik drama dan unsur intrinsik film. Bahkan unsur intrinsik puisi pun dibutuhkan dan diatur dengan baik oleh seniman puisi. Semua elemen dihadirkan, agar yang menikmati cerita akan memahami dengan baik semua hal yang disampaikan.

Sebuah cerita adalah pengalaman abstrak; itu seperti menjelajah melalui labirin. Ketika kamu keluar dari itu, kamu harus merasa sedikit berubah (Allen Say).

Mengapa Perlu Mempelajari Unsur Intrinsik

Sebuah karya cerita pastinya diisi dengan ide-ide yang perlu dieksplorasi. Untuk memahaminya kamu harus paham elemen yang menyusun cerita itu . Karya-karya itu akan membantu kita melihat dunia dengan cara baru. Yang akan membawa kita ke pemahaman yang lebih dalam tentang kehidupan.

8 Unsur Intrinsik dalam Cerita

1. Karakter

  1. Jenis karakter :
    Protagonis (pahlawan): tokoh sentral yang dihadirkan agar kita bersimpati

    Antagonis (penjahat): sosok yang menentang protagonis dan menciptakan konflik

    Foil Karakter: sosok mendukung karakter antagonis memiliki sifat kepribadian yang bertolak belakang dengan karakter utama. Ini adalah karakter pendukung dan biasanya dibuat untuk menyinari protagonis.

    Deutragonis: sosok pendukung penyelesaian masalah yang dihadapi karakter protagonis
  2. Cara karakter digambarkan:
    Flat Karakter Rata (karakter statis, atau stereotip): karakter yang tidak memiliki kedalaman karakter pada cerita. Kita hanya melihat satu sisi atau aspek saja. Kebanyakan karakter pendukung digambarkan dengan cara ini, misalnya, seorang guru yang dispilin, seorang polisi yang baik, dan ibu tiri yang jahat.

    Round Karakter (karakter dinamis): mereka memiliki kepribadian yang lebih berkembang dan mengalami pendalaman cerita. Biasanya karakter protagonis dan antagonis adalah individu yang memiliki karakter ini. Tokoh yang mengekspresikan berbagai emosi dan berkembang sepanjang narasi cerita, biasanya menjadi lebih dewasa atau lebih baik kehidupannya atau bahkan mati.
  3. Cara karakter digambarkan dalam cerita :
    – Apa yang dikatakan narator tentang karakter

    – Apa kata karakter lain yang gambarkan tentang karakter itu

    – Apa yang dikatakan karakter tentang dirinya sendiri

    – Apa karakter yang sebenarnya

2. Setting

Penulis menggambarkan dunia yang dia ciptakan. Berupa pemandangan, suara, warna dan tekstur semuanya digambarkan dengan jelas dalam cerita dan kata-kata. Seperti seorang seniman melukis gambar di atas kanvas. Seorang penulis membayangkan sebuah cerita akan terjadi dan menuangkan pada karyanya.

Seting mengacu pada waktu, lokasi geografis, dan lingkungan umum dan keadaan yang berlaku dalam narasi. Pengaturan ini membantu membangun suasana hati sebuah cerita.

Jenis- jenis Setting:

  1. Setting: Integral: pengaturan sepenuhnya dijelaskan waktu dan tempat, biasanya ditemukan dalam fiksi sejarah.
  2. Setting: Latar: pengaturannya tidak jelas dan umum, yang membantu menyampaikan kisah universal yang tak lekang oleh waktu. Jenis pengaturan ini sering ditemukan dalam cerita rakyat dan hanya mengatur panggung dan suasana hati. Misalnya, “dahulu kala di sebuah pondok di hutan yang dalam” dan “pada suatu waktu ada tanah besar yang dimiliki seorang Raja.”

3. Sudut Pandang Penyampaian

  • Narator Internal (Sudut pandang orang pertama);
    Narator menggunakan “Aku” untuk merujuk pada dirinya sendiri. Narator adalah karakter dalam cerita, seringkali, tetapi tidak harus, protagonis. Sudut pandang naratif ini memungkinkan untuk bersentuhan secara pribadi dalam bercerita.
  • Omniscient Narrator (Sudut Pandang Orang ke dua);
    Narator bukan karakter dalam cerita tetapi tahu segalanya tentang cerita. Narator terkesan maha tahu dapat menunjukkan pemikiran dan pengalaman dari setiap karakter dalam cerita. Ini memungkinkan penulis menceritakan ruang lingkup yang luas.
  • Limited Narrator (Narator Subyektif Eksternal; sudut pandang orang ketiga);
    Narator bukanlah karakter dalam cerita, tetapi melihat sesuatu hanya melalui satu mata karakter tunggal. Jenis narasi ini memungkinkan narator untuk dengan cepat membangun ikatan yang erat antara protagonis dan pembaca, tanpa dibatasi oleh batasan wawasan atau bahasa protagonis.

4. Plot

Plot cerita adalah serangkaian peristiwa yang saling berhubungan di mana setiap kejadian memiliki tujuan tertentu. Plot adalah semua tentang; membangun hubungan antar karakter, menciptakan penyelesaian, dan menunjukkan kekerabatan.

unsur intrinsik
pixabay.com

Empat jenis struktur plot :

  • Drama atau Progresif Plot:
    Ini adalah struktur kronologis yang di awal cerita mengalir dan mulai perlahan masuk ke konflik, kemudian perlahan naik hingga klimaks (puncak aksi dan titik balik), dan diakhiri penyelesaian akhir.
  • Episodic Plot:
    Ini juga merupakan struktur kronologis, tetapi terdiri dari serangkaian insiden ringan, biasanya berulang di setiap bab, tetapi terikat dengan tema dan / atau karakter umum. Plot ini paling baik untuk penulis yang ingin mengeksplorasi kepribadian karakter, sifat keberadaan mereka, dan menceritakan lingkungan cerita.
  • Plot Paralel:
    Penulis menenun dua atau lebih plot yang dramatis yang biasanya dihubungkan oleh karakter umum dan tema serupa.
  • Kilas Balik:
    Struktur ini menyampaikan informasi tentang peristiwa yang terjadi sebelumnya. Ini memungkinkan penulis untuk memulai cerita di tengah-tengah aksi tetapi kemudian mengisi latar belakang untuk pemahaman penuh tentang peristiwa ini. Kilas balik dapat muncul lebih dari sekali dan di berbagai bagian cerita.

5. Konflik

Jenis konflik yang umum:

  • Protagonis melawan tokoh yang Lain
  • Protagonis melawan masyarakat
  • Protagonis melawan alam dan lingkungan
  • Protagonis melawan dirinya sendiri

Sebuah cerita tunggal mungkin mengandung lebih dari satu jenis konflik, meskipun sering kali lebih menonjolkan satu konflik saja. Konflik memberikan kegembiraan dan memungkinkan pertumbuhan dan perkembangan karakter protagonis.

6. Tema

Tema adalah gagasan pokok yang mendasari sebuah cerita. Ini dijalin secara halus ke dalam sebuah jalinan cerita. Di antara masalah tematik yang sering ditemukan dalam cerita adalah masalah tumbuh dan dewasa, seperti penyesuaian dengan masyarakat, cinta dan persahabatan, pencapaian seseorang dan hasil penemukan tempat atau posisi tertentu di lingkungan cerita

7. Gaya Bahasa

Gaya bahasa bukanlah apa yang tertulis, tetapi bagaimana itu ditulis. Gaya dalam cerita fiksi mengacu pada jenis bahasa yang digunakan untuk membangun cerita. Seorang penulis fiksi dapat memanipulasi diksi, struktur kalimat, pengungkapan kata, dialog, dan aspek bahasa lainnya untuk menciptakan cerita. Setiap penulis memiliki gaya atau nada suara ceritanya sendiri yang unik. Gaya kadang-kadang terlihat sebagai salah satu elemen dasar cerita fiksi.

Cara menunjukkan gaya bahasa :

  1. Pilihan kata
  2. Panjang kalimat dan konstruksi
  3. Kalimat pendek paling baik menyampaikan ketegangan, perhatian, dan tindakan cepat.
  4. Kalimat yang lebih panjang bekerja paling baik ketika ingin memberikan penjelasan dan deskripsi.
  5. Prosa memiliki ritme seperti halnya puisi. Ritme dapat dihasilkan dengan menyamakan suara, penggunaan pengulangan dengan sedikit variasi pola, dan panjangnya variasi kalimat.
  6. Eksposisi: bagian narator yang memberikan informasi latar belakang dan atau memperkenalkan karakter untuk membantu pembaca memahami peristiwa sebuah cerita. Beberapa pembaca lebih suka keseimbangan antara eksposisi dan dialog.
  7. Dialog: kata-kata yang diucapkan oleh karakter, biasanya antara satu sama lain, bukan untuk pembaca. Pembaca menikmati dialog sebagai cara yang realistis dan meyakinkan untuk mendefinisikan karakter.

8. Suasana / Atsmosfer

Suasana mengacu pada suasana hati atau mood serta cara ekspresi penulis dalam menampilkan sebuah karya. Suasana yang diciptakan bisa serius, menyenangkan, lucu, satir, kaustik / sarkastik, bersemangat, sensitif, sentimental, bersemangat, acuh tak acuh, pedih, hangat, gelisah, dan sebagainya.

Penutup

Nah, itulah pembahasan mengenai unsur intrinsik. Semoga penjelasan ini dapat membuat kamu paham dengan baik, ilmu dan pengetahuan ini bisa kamu gunakan untuk menilai sebuah karya cerita atau kamu pakai untuk menyusun sebuah cerita